Showing posts with label asbabun nuzul quran. Show all posts
Showing posts with label asbabun nuzul quran. Show all posts

Saturday, April 18, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 8 – AL ANFAL AYAT 27 – 28 DAN SURAH 9 AT TAUBAH AYAT 102

TURUNNYA SURAH 8 – AL ANFAL AYAT 27 - 28 DAN SURAH 9 AT TAUBAH AYAT 102

Kisah Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir RA, karena berbuat salah, menghukum dirinya sendiri sehingga Allah menerima taubatnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. ~ QS 8 – Al  ‘Anfaal : Ayat 27 dan 28 ~

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ~ QS 9 – Al  At Taubah : Ayat 102 ~

Abu Lubabah adalah seorang pahlawan suku Aus di Yatsrib yang banyak memenangi peperangan. Ketika suatu hari ia sedang berjalan menyusuri kota, ia melihat banyak orang berkumpul di rumah As’ad sedang mendengarkan ceramah dari seorang utusan Muhammad, yaitu Mus’ad ibn Umair yang mengajak manusia menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Allah berkehendak membuka hatinya dan seketika itu juga, ia menyatakan keislamannya.

Ketika akan terjadi Perang Badar, ia tidak ikut berperang karena Rasulullah memberi tugas yang sama beratnya, yaitu meminta dia melindungi dan menjaga penduduk Madinah selama perang berlangsung.

Setelah terjadi perang Uhud, ia menikah kembali dengan Khansa ibn Khadzam, janda seorang sahabat yang syahid bernama Anis ibn Qotadah. Sebetulnya Al Khadzam, ayah Khansa berniat menikahkannya dengan laki-laki pilihannya, namun Khansa menolaknya karena tidak kenal dengannya dan dia mengadu kepada Rasulullah.

Rasulullah ingin menegakkan ketentuan syari’at bahwa seorang janda dapat menikah dengan laki-laki pilihannya tanpa harus bermusyawarah dulu dengan ayahnya. Akhirnya Khanza memilih Abu Lubabah menjadi suaminya.

Suatu hari Rasulullah berniat membersihkan dan mensucikan Madinah dari para penghianat Yahudi, terutama Bani Quraizhah yang telah menghianati perjanjian dengan kaum Muslim.

Kaum Muslim mengurung kampung Bani Quraizhah dan melarang penghuninya keluar selama 25 hari. Bani Quraizhah adalah sekutu suku Aus dan tahu bahwa Abu Lubabah adalah suku Aus. Mereka meminta Rasulullah untuk mengutus Abu Lubabah untuk memutuskan perkara mereka dan memberi nasihat mereka.

Dalam posisi yang terjepit Abu Lubabah bukannya memberi nasihat malah ikut larut dalam kesedihan para wanita Bani Quraizhah dan tidak menasihatinya.

Allah mengetahui apa yang dihadapi dan dikatakan Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah, sehingga menurunkan ayat:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa takhuunullaaha warrasuula wa takhuunuu amaanaatikum wa antum ta’lamuun. Wa’lamuu annamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah. Wa annallaaha ‘indahuu ajrun ‘adhiim”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. ~ QS 8 – Al  ‘Anfaal : Ayat 27 dan 28 ~

Abu Lubabah sadar bahwa ia telah terpeleset dan ia tahu bahwa ayat itu ditujukan kepadanya. Untuk menebus dosanya ia bertobat kepada Allah dan mengikat dirinya pada salah satu tiang Masjid hingga Allah mengampuninya dan hanya dibuka isterinya pada saat sholat saja. Hal ini dilakukan selama 6 hari, sehingga Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah:

“Wa aakharuuna’tarafuu bidzunuubihim khalathuu ‘amalan shaalihawwa aakhara sayyi aa. ‘asallaahu ayyatuuba ‘alaihim. Innallaaha ghafuururrahiim”.

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ~ QS 9 – Al  At Taubah : Ayat 102 ~

Rasulullah mengabarkan ayat itu kepada Abu Lubabah seraya membuka ikatannya. Alangkah bahagianya Abu Lubabah karena Allah Subhanahu wa ta’ala menerima taubatnya.

Sepanjang hidupnya ia selalu mendampingi Rasulullah kemanapun beliau pergi dengan tekad berjuang mempertahankan agama Islam dan meraih ridho Allah.
Abu Lubabah wafat pada saat kekhalifahan Utsman ibn Affan, semoga Allah meridhoinya.

Bekasi, 25 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 16 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Anfal (8) - Ayat 27 dan 28 serta At Taubah (9) - Ayat 102 - Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir RA, karena berbuat salah, menghukum dirinya sendiri sehingga Allah menerima taubatnya.

Tuesday, April 14, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 16 – AN NAHL AYAT 126 - 127

TURUNNYA SURAH 16 – AN NAHL AYAT 126 - 127

Kisah Hamzah ibn Abdul Muthalib – Pimpinan para syuhada.

 “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesunggguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. ~ QS 16 – An Nahl : 126 dan 127 ~

Mereka adalah dua sekawan dengan usia yang berdekatan. Dua saudara yang sama-sama disusui Tsuwaidah, budak perempuan Abu Lahab. Keduanya keturunan Abdul Muthalib seorang pemimpin Mekkah yang terpandang. Yang satu adalah puteranya dan yang satu lagi adalah cucunya. Dialah Hamzah putera Abdul Muthalib yang merupakan paman Muhammad cucu Abdul Muthalib.

Kedua sebaya bersaudara ini adalah teman sepermainan sejak kecil, saling menyayangi dan melindungi. Hanya setelah menginjak remaja keduanya berbeda kesukaan. Hamzah lebih suka berburu, mengembara dengan bekal tombak dan panah, menjelajah padang pasir untuk mencari hewan buruan. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tangkas, cekatan dan tidak kenal rasa takut sehingga semua orang segan kepadanya.

Sementara Muhammad sejak remaja telah ikut berdagang bersama Abu Tholib pamannya. Karena kepiawaiannya berdagang, dengan usia yang masih muda ia dipercaya menjadi pimpinan Kafilah dan dipercaya pula oleh Khadijah untuk menjual dagangannya. Allah menyelamatkan dia dari kehinaan dan kesesatan jahiliah untuk menyembah berhala-berhala dan menuntunnya menapaki jalan kebenaran. Ia sering merenung dan memikirkan ‘siapakah yang menciptakan alam semesta dan seisinya, mengamati terbit dan tenggelamnya matahari dan bulan...’. Dia meyakini akan adanya Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya bukan patung dan berhala-berhala yang terbuat dari batu dan kayu.

Pada saat Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, seyogyanya orang yang pertama menerima seruannya adalah Hamzah sebagai saudara dan sahabat dekatnya. Meskipun ia belum menerima seruan Muhammad namun sebagai saudara dan sahabat, Hamzah tetap setia melindungi Muhammad bersama kakaknya Abu Thalib. Sebenarnya jauh di dalam hati Hamzah telah tumbuh benih keimanan terhadap risalah agama yang dibawa Muhammad, namun ia bersama Abu Thalib, merasa khawatir kalau dirinya akan disebut penghianat tuhan nenek moyangnya.

Suatu hari, ketika Hamzah pulang dari berburu, ia diberitahu seorang budak bahwa Muhammad keponakannya sedang dihina dan diperlakukan tidak senonoh oleh Abu Jahal di Masjidil Haram. Hamzah tahu bahwa Abu Jahal sering sekali mengolok-olok dan menghina Muhammad, tapi selama ini Hamzah masih membiarkannya. Rupanya pembiaran ini semakin membuat beraninya Abu Jahal menghina Muhammad. Sebagai saudara ia geram dan ingin mengakhiri perlakuan Abu Jahal kepada Muhammad. Dengan muka merah menahan marah, Hamzah menegur Abu Jahal dan memukulnya hingga muka Abu Jahal bersimbah darah.  Beberapa kerabat Abu Jahal bangkit dan berusaha akan mengeroyokinya, namun dihalangi Abu Jahal karena ini akan menimbulkan perang antara Bani Hasyim dan Bani Makhzum.

Melihat kemarahan Hamzah, salah seorang keluarga Makhzum kaget dan berkata: “Hai Hamzah...!! Jangan-jangan kau telah murtad dari agama nenek moyangmu dan mengikuti agama Muhammad...!!”.

Berkat hidayah Allah, teguran ini menyadarkan Hamzah, tiba-tiba terbetik keinginan kuat untuk menemui Muhammad dan menyatakan keislamannya. Tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab: “Siapa yang akan menghalangi keinginanku...? Aku sudah mantap untuk bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Segala apa yang dikatakan Muhammad adalah kebenaran, yaitu bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Allah. Aku tidak bisa menarik keinginanku. Ayo halangi aku jika kalian bisa...??”. Semua orang terkejut dan takjub bahwa singa Mekkah telah menyatakan keislamannya.

Meskipun setan terus membisikkan keraguan pada diri Hamzah, namun Allah terus menuntunnya sehingga setelah berhadapan dengan Rasulullah dia langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Keislaman Hamzah dan Abdul Muthalib tentu saja menambah kekuatan pada kaum Muslim, apalagi setelah ditambah keislaman Umar ibn Al Khatab menambah jerih kaum kafir untuk menyakiti kaum Muslim.

Pada saat Perang Badar Hamzah berhasil membunuh salah seorang pentolan kafir Quraisy, yaitu Utbah beserta adik dan anaknya. Kematian Utbah, paman dan adiknya ini sangat menyakitkan puteri Utbah yang bernama Hindun. Dia sangat dendam dan menyewa seorang budak bernama Wahsyi Al Habsyi untuk dapat membunuh Hamzah pada kesempatan perang berikutnya dengan imbalan kemerdekaan baginya dan emas serta barang berharga lainnya.

Pada saat Perang Uhud, singa Muslim yang dengan gagah perkasa sedang berhadapan dengan kaum musyrik, dibokong dari balik batu oleh Wahsyi dengan melontarkan tombaknya ke dada Hamzah. Hindun yang dikabari Wahsyi bahwa Hamzah telah dibunuhnya bergegas mendekati medan perang, mencari jasad Hamzah, mengeluarkan jantungnya, mengunyahnya dan memuntahkannya. Dia juga menyuruh orang-orangnya untuk memutilasi jasad Hamzah sehingga tanpa hidung dan telinga.

Alangkah marah dan berdukanya Rasulullah dan kaum Muslim begitu melihat jasad pamannya yang ia cintai syahid dengan jasad yang sudah tidak sempurna lagi. Saking murkanya Rasulullah bersumpah: “Seandainya kelak Allah memenanganku atas Quraisy, niscaya akan kulakukan pada 70 orang diantara mereka seperti yang mereka lakukan kepada Hamzah”. Begitu pula kaum Muslim mengucapkan sumpah yang lebih ganas: “Kelak, ketika Allah memenangkan kami atas mereka, akan kami rusak jasad mereka dengan kerusakan yang tidak ada tandingannya di tanah Arab”.

Namun Allah SWT, segera menyuruh Malaikat Jibril untuk menyampaikan ayat sebagai berikut:

Wa in ‘aaqabtum fa’aaqibuu bimitsli maa’uuqibtumbih. Wa lain shabartum lahum khairul lishshaabiriin. Washbir wa maa shabruka illaa billaahi wa laa tahzan ‘alaihim wa laataku fii dhaiqim mimmaa yamkuruun”.

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesunggguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. ~ QS 16 – An Nahl : 126 dan 127 ~

Ketika bibi Rasulullah atau adiknya Hamzah yaitu Shafiyyah bint Abdul Muthalib menanyakan jenazah Hamzah kakaknya, Rasulullah tak kuasa untuk menjelaskannya hingga jenazah syuhada yang beliau cintai itu dimakamkan bersama-sama para syuhada lainnya di tanah Uhud. Semoga Allah merahmati syuhada Hamzah.

Bekasi, 24 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 15 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Nahl  (16) - Ayat 126, 127 à Hamzah ibn Abdul Muthalib – Pimpinan para syuhada

Sunday, April 12, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

TURUNNYA SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

Kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil yang dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.
~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Al Lahab nama sesungguhnya adalah Abdul Uzza ibn Abdul Muthalib. Uzza adalah nama sebuah berhala yang disembah-sembah pada masa Jahiliyah. Karena wajahnya teramat putih, maka ia dikenal dengan panggilan Abu Lahab. Abu Lahab adalah saudara seayah dengan ayah Rasulullah, Abdullah jadi dia adalah paman Rasulullah. Sosoknya tinggi tegap yang berhati keras, kasar, tegas, bengis, peminum khamar dan gampang marah dengan suaranya yang nyaring.

Ketika diberitahu budaknya yang bernama Tsuwaibah bahwa kakak iparnya Aminah (ibunda Muhammad Rasulullah) melahirkan, dia sekonyong-konyong berkata kepada Tsuwaibah: “Wahai Tsuwaibah, engkau pergilah dan mulai sekarang engkau merdeka”. Ini mungkin kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, karena setelah merdeka Tsuwaibah termasuk salah seorang yang menyusui Muhammad.

Abu Lahab termasuk orang yang sangat menghormati dan memuja berhala sekitar Ka’bah. Di sisi lain sebetulnya Abu Lahab sangat menyukai karakter Muhammad keponakannya yang jujur, amanah dan sangat bijaksana juga isterinya Khadijah adalah wanita yang baik.

Untuk itulah maka ia menjodohkan putera-puteranya yaitu Utbah dan Mu’tb dengan puteri-puteri Muhammad yaitu Rukayyah dan Ummu Kultsum. Begitulah Allah berkehendak untuk mempererat kekerabatan diantara keduanya.

Namun ketika Allah mengangkat Muhammad sebagai utusanNya yang menyeru manusia untuk menyembah kepadaNya dan berhenti menyembah berhala, inilah yang menjadi titik awal terjadinya permusuhan antara Muhammad dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil.

Rasulullah dengan dukungan Shafiyah bint Abdul Muthalib bibinya, mulai berda’wah dengan mengumpulkan saudara-saudara dan kerabatnya untuk mendengarkan seruannya.

Ketika pada akhir da’wah beliau bertanya kepada saudara-saudara dan kerabatnya: “Siapakah diantara saudara-saudaraku yang mendukungku dan menyebarkan da’wah ini...?”.

Paman Rasulullah, Abu Tholib yang sangat menyayangi Rasulullah angkat suara: “Laksanakan apa yang Allah perintahkan kepadamu Muhammad... Aku akan selalu mendukung dan menjagamu, namun aku tidak bisa meninggalkan agama Abdul Muthalib”. Sepupunya Ali ibn Abu Tholib juga mendukungnya: “Aku akan selalu membantumu... Aku akan memerangi siapa saja yang memerangimu...”.

Pada saat Rasulullah mulai berda’wah secara terbuka dan berseru diatas bukit Shafa banyak penduduk Mekkah yang percaya, mendukung dan mengikuti ajaran Muhammad, karena mereka tahu persis kejujuran dan kebijaksanaan Muhammad. Namun ada pula yang menolaknya, apalagi setelah mendengar teriakan Abu Lahab: “Celakalah engkau wahai Muhammad...!!, untuk inikah engkau mengumpulkan kami...”.

Sejak hari itu terompet permusuhan antara kaum Quraisy dan Rasulullah mulai ditiup kencang. Terutama permusuhan antara Rasulullah dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil mulai menyala. Perjodohan anak-anaknya diputuskan, namun anak-anak Abu Lahab kelak masuk Islam.

Abu Lahab beserta isterinya sering sekali menyakiti Rasulullah dengan cara menghina, melemparkan kotoran kehadapan beliau, mencaci maki beliau. Hingga Allah menurunkan ayat sebagai berikut:

“Tabbat yadaa abii lahabiw watabb. Maa aghnaa ‘anhumaa luhuu wa maa kasab. Sayashlaa naa ranzaatalahabbiw wamra atuhuu hammaa latal hatab. Fii jiidihaa hablum mim masad”

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.  ~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab karena badannya sudah tidak kuat lagi tidak ikut berperang. Namun bersama para pemimpin Quraisy yang tidak ikut berperang, menyokong perbekalan dan kuda-kuda yang baik untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya. Untuk ini Allah menurunkan ayat:

“Innalladziina kafaruu yunfiquuna amwaalahum liyashudduu ‘an sabiilillaah. Fasayunfiquu nahaa tsumma takuunu ‘alaihimhasratan tsumma yughlabuun. Walladziina kafaruu ilaa jahannama yuhsyaruun”.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. ~ QS 8 – Al ‘Anfaal : 36 ~

Melihat kekalahan kaumnya dan banyak kaum Quraisy yang terluka serta terbunuh, Abu Lahab semakin geram dan sangat sedih. Kesedihannya yang mendalam ini menimbulkan bisul yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Orang-orang tidak berani mendekatinya karena takut ketularan. Bahkan kedua anaknya-pun meninggalkannya dan ikut kaum Muslim.

Begitu pula saat Abu Lahab meninggal tidak ada seorangpun yang mau mengurusnya karena takut tertular penyakitnya. Selama 3 hari mayatnya dibiarkan membusuk dan mereka seret ke pemakaman, membiarkannya tanpa dimasukkan ke liang lahat serta melemparinya dengan batu dan pasir sehingga mayatnya tertimbun.

Begitu akhir kehidupan Abu Lahab, musuh Allah dan RasulNya.

Bekasi, 24 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 15 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : Al Lahab (111) - Ayat 1-5 - Abu Lahab dan Ummu Jamil ditetapkan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Friday, April 10, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 16 – AN NAHL AYAT 106

TURUNNYA SURAH 16 – AN NAHL AYAT 106

Kisah Ammar ibn Yasir – Keluarga penghuni surga.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar
~ QS 16 – An Nahl : 106 ~

Yasir ibn Amir adalah seorang Yaman yang datang ke Mekkah dengan maksud mencari saudara-saudaranya yang diperkirakan dulu ikut tentara Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah. Dia menikahi Samiyyah bint Khayyath, budak milik Abu Hudzayfah ibn Al Mughirah hingga memiliki seorang putera bernama Ammar ibn Yasir.

Suatu hari Ammar mendengar seruan Muhammad di Bukit Shafa untuk mengikuti agamanya yang menyembah Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dengan meninggalkan penyembahan kepada berhala-berhala. Ammar melihat dalam agama yang dibawa Muhammad itu, menganut kesetaraan antara budak-budak penganutnya dengan para pembesar Mekkah. Tentu saja dia sangat tertarik, karena di menyadari bahwa dia sekeluarga adalah golongan budak yang selalu teraniaya. Ammar diam-diam mengikuti ajaran muhammad dan setelah hatinya bulat, dia menemui Rasulullah untuk masuk Islam.

Diluar dugaan ketika dia menyampaikan berita kepada kedua orang tuanya, bahwa dia telah masuk Islam ternyata keduanya memberi respon baik dan akan menemui Muhammad untuk masuk Islam pula. Tentu saja keislaman keluarga Yasir ini sangat dirahasiakan dari majikannya. Meskipun dengan sembunyi-sembunyi, berita keislaman keluarga Yasir ini akhirnya diketahui juga oleh Kafir Mekkah.

Dengan dipelopori Abu Jahal, mulailah terjadi penyiksaan yang keji kepada keluarga Yasir dan budak-budak yang berasal di luar Mekkah dan tidak memilki Kabilah sebagai pelindung.

Dalam tradisi Arab jahiliyah, siapa yang tidak memiliki Kabilah sebagai pelindung dan memiliki kelas sosial yang paling rendah, boleh mau diperlakukan apa saja, bahkan mau dibunuh sekalipun tidak akan ada yang menuntut pembunuhnya.

Mereka dipanggang dibawah terik matahari padang pasir sambil dicambuki dan dipukuli. Setelah itu tubuh mereka yang terluka diseret ke dalam bak air sehingga hampir tidak bisa bernafas. Mereka dipaksa Abu Jahal untuk mengingkari ajaran Muhammad.

Suatu hari Abu Jahal, kafir yang paling sengit memusuhi Rasulullah, kembali melakukan penyiksaan terhadap keluarga Yasir. Baju Samiyyah isteri Yasir dilucuti, badannya diikat dan diseret keledai sepanjang padang pasir yang panas, sambil diteriaki: ‘ingkarilah agama Muhammad...hina dan rendahkanlah Muhammad...niscaya aku akan mengampuni engkau...!!!’.

Namun keimanan Samiyyah terhadap Allah Yang Maha Esa jauh lebih kuat, daripada keangkuhan Abu Jahal. Samiyyah dalam penderitaannya tetap berkata: ‘Aku tidak akan kembali kepada agama kalian...aku tidak akan mengingkari Muhammad...dia adalah Nabi utusan Allah SWT...!!!’.

Mendengar kata-kata itu Abu Jahal yang merasa terhina menjadi kalap, di mencabut belati, lalu menancapkannya ke dada Samiyyah dan seketika darah muncrat membasahi hamparan pasir yang panas bersamaan dengan lepasnya nyawa Samiyyah. Dialah syahidah pertama dalam Islam.

Begitu pula Yasir suaminya kemudian syahid pula dibunuh oleh orang-orang kafir yang kesetanan. Mereka disiksa dan dibunuh tidak berperikemanusiaan bagaikan hewan buas yang melahap mangsanya.

Tinggalah Ammar yang lemah karena siksaan dan hatinya terguncang. Betapa tidak...baru saja ia menyaksikan kematian yang mengenaskan atas kedua orang tuanya. Dalam kesedihannya ia spontan berkata lirih: ‘Laa ilaha ilallaah, Muhammad Rasulullah...’.

Mendengar kata-kata Ammar, Abu Jahal yang masih panas dalam kemarahan, berteriak pada Ammar: ‘Ingkari Muhammad...hina dan rendahkanlah Muhammad...kembalilah engkau kepada agama kami...!!!’.

Teriakan Abu Jahal yang membahana itu seakan-akan tidak terdengar oleh Ammar. Dalam keadaan lemah, badan penuh luka, kulitnya terkelupas, jiwanya terguncang atas terbunuhnya kedua orang tua yang dicintainya. Dia seperti kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengenali dirinya sendiri sehingga ucapan yang keluar dari mulutnya pun tidak dapat dikendalikan lagi.

Tanpa sadar dia mengulangi kata-kata Abu Jahal yang mengingkari agama Muhammad dan kembali kepada agama Quraisy.

Mendengar kata-kata Ammar, Abu Jahal dan kawan-kawannya bersorak kegirangan karena telah berhasil mengkafirkan salah seorang pengikut Muhammad, dia lalu membuka ikatan Ammar dan membiarkannya pergi.

Setelah sadar, Ammar mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dia ucapkan. Dia sangat menyesal dan merasa berdosa. Kalau dia sadar, bagaimana mungkin dia membiarkan dirinya mengingkari agama Rasulullah...?

Dalam keadaan sedih dia segera menemui Rasulullah dan mengutarakan penyesalannya. ‘Wahai Rasulullah...apapun yang terjadi aku akan tetap mengimani Allah dan mengikuti agamamu...Aku terpaksa mengatakan keburukan itu untuk menyelamatkan diri dari kekejaman mereka...’.

Rasulullah berusaha menghibur Ammar: ‘Tenanglah Ammar...sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat tentangmu. Jika mereka kembali, katakanlah seperti itu lagi...’. Kemudian Rasulullah membacakan ayat itu kepadanya:

Man kafara billaahi mim ba’di iimaanihii illaa man ukriha wa qalbuhuu muthmainnum bil iimaani wa laakim man syarahabil kufri shodran fa’alaihim ghadhabum minallaah. wa lahum ‘adzaabun ‘adhiim”.

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar~ QS 16 – An Nahl : 106 ~

Tentu saja kaum kafir merasa kecele dengan semakin giatnya Ammar membantu mengembangkan Islam. Ammar termasuk orang yang ikut hijrah ke Habsyah dan selanjutnya ke Madinah.

Hingga saat kepemimpinan Khalifah Ali ibn Abu Thalib yang berperang melawan kelompok Muawiyah, Ammar berada dibelakang Ali ibn Abu Thalib dan wafat dibunuh kelompok Muawiyah.

Begitulah kisah seorang budak asing yang penuh duka nestapa namun mulia di sisi Allah. Semoga Allah merahmatinya.

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Nahl (16) - Ayat 106 à Ammar ibn Yasir – Keluarga penghuni surga.

Wednesday, April 8, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 221

TURUNNYA SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 221

Kisah Abdullah ibn Ruwahah yang tidak henti-hentinya mencari Allah hingga menikah dengan budak negro yang muslim.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. ~ QS 2 – Al Baqarah : 221 ~

Adalah seorang penyair ulung yang tinggal di Yatsrib (Madinah Al Munawarah) bernama Abdullah ibn Ruwahah, semasa Islam belum masuk ke Madinah dia sering merenung menatap matahari, bulan, bintang yang beredar mengikuti pergantian dan malam. ‘Siapakah yang menciptakan semua ini...? Sedangkan berhala-berhala yang penduduk Madinah sembah adalah barang mati yang tidak bisa apa-apa’.

Begitu mendengar berita dari para kafilah bahwa di Mekkah ada seorang utusan Tuhan yang menyeru manusia untuk menyembah Allah. Tuhan Yang Maha Esa, maka ia bersama teman-temannya yang meyakini utusan ini berangkat ke Mekkah untuk menemuinya. Setelah bertemu dengan Rasulullah di Mekkah, mereka di bai’at di depan Aqobah untuk masuk Islam, berjanji akan melindungi Rasulullah dan ikut menyebarkan agama Islam.

Pada saat Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, Abdullah ibn Ruwahah ikut menyambutnya, menemani Rasulullah menyelusuri jalan-jalan di Yatsrib. Dia juga ikut mendirikan masjid secara bergotong royong dan setelah selesai Bilal mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya diimami oleh Rasulullah.

Suatu hari Abdullah ibn Ruwahah datang menghadap Rasulullah menyatakan bahwa dia sangat menyesal telah memaki bahkan meludahi budak hitam wanita miliknya, karena melakukan kesalahan. Sungguh Abdullah merasa menyesal telah melakukan itu dan berharap budaknya mau memaafkannya.

Rasulullah berkata: ‘Apakah agama budakmu itu...?’
Abdullah menjawab: ‘Dia telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ia mendirikan shalat, berwudhu dengan baik dan berpuasa...’
Rasulullah ingin menegaskan bahwa dalam Islam, kedudukan seorang budak sebagai manusia sama dengan manusia yang lain: ‘Wahai Abdullah... budakmu itu seorang Mukmin...’

Allah membukakan hati Abdullah ibn Ruwahah sehingga dia menyadari bahwa sebenarnya dia mencintai, menyayangi budak negro itu yang disifati Rasulullah sebagai wanita mukmin yang harus dilindungi dan dimuliakan. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan hak sebagai Nabi, sungguh aku akan memerdekakan dan menikahinya...’. Dia lalu bergegas menemui budaknya untuk minta maaf, memerdekakannya dan menikahinya.

Kejadian ini tentu saja membuat heran dan mengejutkan para sahabatnya, bagaimana mungkin seorang pemimpin suku yang dipilih sebagai utusan pada hari Aqobah menikahi seorang budak negro... Sungguh tidak sepadan dengan kedudukannya yang mulia. Sebenarnya ia dapat saja menikahi seorang wanita mulia dari kaumnya, meskipun bukan seorang Muslimah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak mengungkapkan kebenaran, sehingga Dia menurunkan ayat Al Qur’an kepada Rasulullah sebagai berikut:

“Wa laa tankihul musyrikaati hattaayu’minn. Wala amatummu’minatun khairum mimmusyrikatiw walau a’jabatkum. Ulaaika yad’uuna ilannaar. Wallaahu yad’uu ilaljannati walmaghfirati bi idznih. Wa yubayyinu aayaatihii linnaasi la’allahum yatadzakkaruu”.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. ~ QS 2 – Al Baqarah : 221 ~

Komunitas Madinah semakin kokoh dan mulia berkat kemuliaan Islam, namun demikian gangguan dari kaum munafik dan Yahudi tetap saja terjadi. Untuk ketentraman komunitas Madinah, Rasulullah membuat perjanjian dengan kaum Yahudi untuk hidup berdampingan dengan kaum Muslim. Namun kaum Yahudi telah menghianati perjanjian ini bahkan menantang kaum Muslim. Mereka tidak suka Islam berkembang di Madinah maupun di jazirah Arab bahkan mereka bersekongkol dengan kaum Musyrikin Mekkah untuk bersama-sama menyerang kaum Muslim.

Allah SWT menyikapi sifat-sifat kaum Yahudi ini dengan turunnya ayat dalam Al Qur’an:

“Ulaaikalladziina la’anahumullaahu fa ashammahum wa a’maa abshaa rahum”

“Mereka itulah orang-orang yang dila’nati (dikutuk) Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. ~ QS 47 – Muhammad : 23 ~

Abdullah ibn Ruwahah dapat merasakan kesedihan saudara-saudaranya kaum Muhajirin yang ditindas, disiksa, dirampas hartanya oleh kaum Quraisy. Mereka berhak untuk membalasnya.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran antara 3 orang kafilah dagang Quraisy dengan kaum Muhajirin dan perkelahian inilah yang memicu terjadinya Perang Badar. Abdullah ibn Ruwahah merasa terpanggil dan berkewajiban untuk membantu membalaskan saudara-saudara kaum Muhajirin yang telah disakiti dan terusir dari Mekkah. Dengan dibantu 2 orang Anshar dia mengajak berduel ketiga kafilah Quraisy itu, namun mereka menolaknya dan hanya mau berduel dengan kaum Muhajirin.
‘Wahai Muhammad, perintahkanlah tiga orang kaum Muhajirin yang pantas menghadapi kami...!’.

Mendengar tantangan itu majulah Hamzah ibn Abdul Muthalib (paman Rasulullah), Ali ibn Abi Thalib dan Ubaidah ibn Harits. Dari duel itu ketiga kafilah mati namun Ubaidah terluka.

Merasa teman-temannya mati terbunuh dalam duel, berangkatlah pasukan kafir Quraisy, termasuk Abdurrahman putera dari Abu Bakar Ash Shiddiq untuk mengajak pasukan Muslim berperang, inilah Perang Badar terjadi dengan kemenangan di pihak kaum Muslim.

Abdullah ibn Ruwahah sangat mencintai Rasulullah, ta’at akan perintah Allah dan RasulNya serta dia adalah seorang pejuang Muslim yang berperang membela Islam dengan gagah berani. Ia benar-benar ikhlas berjihad di jalan Allah. Dia mati syahid bersama dengan Zaid ibn Haritsah dan Ja’far ibn Abi Thalib pada perang melawan tentara Romawi. Semoga Allah merahmatinya.

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Baqarah (2) - Ayat 221 - Abdullah ibn Ruwahah tidak henti-hentinya mencari Allah hingga menikah dengan budak negro yang muslim

Monday, April 6, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

TURUNNYA SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Zainab yang diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Zaid ibn Haritsah adalah budak milik Siti Khadijah yang dihibahkan kepada Rasulullah dan selanjutnya diangkat anak angkat oleh Rasulullah. Ia sangat disayangi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Saat diangkat menjadi anak angkat Rasulullah, namanya diganti menjadi Zaid ibn Muhammad, namun dengan turunnya Surah Al Ahzab ayat 4, 5 dan 40, namanya dikembalikan menjadi Zaid ibn Haritsah.

Karena kecintaannya kepada Zaid, Rasulullah berniat menikahkannya dengan puteri bibi beliau yaitu Zainab bint Jahsy dengan maksud untuk menghapus sekat pembeda kasta maupun status sosial. Rasulullah ingin menegaskan bahwa didalam Islam tidak membedakan sesama muslim, kecuali tingkat ketakwaan dan amal shalehnya.

Zainab dikenal seorang puteri yang cantik, memiliki garis keturunan bangsawan, cucu Abdul Muthalib pemuka Quraisy dan saudagar, disamping itu dia sangat dermawan. Mendengar dirinya akan dinikahkan dengan Zaid yang bekas budak, Zainab sangat kaget dan memandang dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan seorang bekas budak serta akan disejajarkan dengan isteri pertama Zaid, yaitu Ummu Aiman yang sama-sama budak belian. Apa yang akan dikatakan orang...? Seorang puteri bangsawan bersanding dengan seorang bekas budak belian. Menurutnya belum pernah ada sejarah kaum ningrat menikah dengan budak atau pembantu. Pantasnya dia dinikahkan dengan laki-laki yang sederajat. Karena itu dia menolak tawaran Rasulullah.

Sebenarnya apa yang diinginkan Zainab bisa saja terjadi, tetapi kehendak Allah tidaklah sama. Allah berfirman:

“Wa maa kaana limu’minati idzaaqadallaahu wa rasuuluhuu amran ayyakuuna lahumulkhiyaratu min amrihim. wa mayya’shillaaha wa rasuulahuu faqad dhalla dhalaalammubiinaa”.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
~ QS 33 – Al Ahzab : 36 ~

Akhirnya untuk menyenangkan Rasulullah dan takut di cap durhaka, maka Zainab mau dinikahkan dengan Zaid meskipun hatinya tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan itu.

Zaid sudah berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan Zainab, tetapi hati isterinya tetap congkak dan sombong pada suaminya serta masih menganggap suaminya adalah budak. Konflik rumah tangga makin meruncing dan keutuhan rumah tangga mulai tercabik-cabik dengan sering terlontarnya kata-kata yang tidak pantas dari Zainab untuk melukai kelelakian dan menyakiti perasaan Zaid.

Rasulullah sudah berusaha keras mendamaikan mereka. Beliau minta Zaid untuk bersabar juga menasihati Zainab agar tunduk pada suami dan tidak sombong.

Jurang perselisihan antara Zaid dan Zainab semakin menganga lebar, mengeruhkan samudera hati berdua. Kepada Rasulullah Zaid mengemukakan keinginannya untuk menceraikan isterinya, tapi beliau meminta Zaid untuk bersabar mempertahankannya. Akhirnya rumah tangga mereka sulit dipertahankan dan Zaid menceraikan Zainab.

Karena merasa bertanggung jawab atas anak pamannya itu yang dulu dipaksa untuk menikah dengan Zaid, Rasulullah berfikir untuk menikahi Zainab, tapi hal ini bisa menjadi desas desus yang tidak mengenakkan. Apa kata orang jika beliau diketahui menikahi mantan isteri anak angkatnya...? Maka keinginan beliau itu disimpan dihati yang dalam, sampai Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:


“Wa idztaquulu lilladzii an’amallaahu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillaaha watukhfii fii nafsika mallaahu mubdiihi watakhsyannaasa. Wallaahu ahaqqu an takhsyaahu. Falammaa qadhaa zaidumminhaa watharaa. Zawwajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alalmu’miniina harajun fii azwaaji ad’ibaa ihim idzaa qadau minhunna watharaa. Wa kaana amrullaahi maf’uulaa”.

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Akhirnya Rasulullah menikahi Zainab yang dirayakan dengan menggelar pesta meriah. Pernikahan Rasulullah dengan Zainab ini bukanlah semata-mata karena dorongan biologis pada diri Rasulullah, atau hasrat merajut cinta diantara mereka. Tapi Allah Subhanahu wa ta’ala sengaja menginginkan pernikahan tersebut untuk mengajarkan sebuah Kaidah Fiqih dalam Islam, yaitu seseorang diperbolehkan menikahi mantan isteri anak angkatnya.

Kedudukan anak angkat dalam Islam tidak sama dengan anak kandung yang terkait dengan garis keturunan dan aturan waris. Anak angkat tidak lebih dari orang lain yang dipelihara, disayangi dan dipenuhi kebutuhannya seperti kepada anaknya sendiri.

Zainab hidup bersama Rasulullah, sebagaimana isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun bagi Zainab pernikahan ini merupakan kebanggaan, karena dia dinikahkan oleh ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana Rasulullah sabdakan: ‘Semoga Allah merahmati Zainab bint Jahsy. Di dunia ini telah menerima kehormatan yang tiada duanya, yaitu bahwa Allah menikahkanku dengannya’.

Ditengah kemeriahan pesta, sesuatu terjadi... Karena begitu banyak orang yang bersuka cita, otomatis mereka hilir mudik di rumah Rasulullah. Suasana seperti ini tentu saja membuat Rasulullah dan isterinya tidak nyaman dan sulit bagi Rasulullah untuk mencegahnya. Akhirnya beliau sendiri yang mengungsi.
Pada saat itu Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuutannabiyyi illaa ayyu’dzanalakum ilaa tha’aamin ghairanaadhiriina inaahu walaakin idzaadu’iitum fadkhuluu faidzaa tha’imtum fantasyiruu wa laa musta’nisiina lihidiits. Innadzaalikum kaanayu’dzinnabiyya fayastahyii minkum. Wallaahu laa yastahyii minalhaq. Waidzaasa altumuu hunna mataa’an fas aluuhunna miwwaraa i hijaab. Dzaalikum athharu liquluubikum wa quluu bihinn. Wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaahi wa laa an tankihuu azwaajahuu mim ba’dihii abadaa. Inna dzaalikum kaana ‘indallaahi ‘adhiimaa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik  memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan  mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) disisi Allah”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 53 ~

Ayat ini pula mengharuskan isteri-isteri Rasulullah untuk mengenakan hijab dan melarang menikahi mantan isteri Rasulullah kelak setelah beliau wafat.

Zainab mendampingi Rasulullah dan para isteri lainnya juga ikut perang Khandaq dan Haji Wada. Zainab-lah isteri yang pertama menyusul Rasulullah .....

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Ahzab (33) - Ayat 36, 37 dan 53 - Pernikahan Rasulullah dengan Zainab diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala