Showing posts with label kisah turunnya surah. Show all posts
Showing posts with label kisah turunnya surah. Show all posts

Monday, April 6, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

TURUNNYA SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Zainab yang diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Zaid ibn Haritsah adalah budak milik Siti Khadijah yang dihibahkan kepada Rasulullah dan selanjutnya diangkat anak angkat oleh Rasulullah. Ia sangat disayangi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Saat diangkat menjadi anak angkat Rasulullah, namanya diganti menjadi Zaid ibn Muhammad, namun dengan turunnya Surah Al Ahzab ayat 4, 5 dan 40, namanya dikembalikan menjadi Zaid ibn Haritsah.

Karena kecintaannya kepada Zaid, Rasulullah berniat menikahkannya dengan puteri bibi beliau yaitu Zainab bint Jahsy dengan maksud untuk menghapus sekat pembeda kasta maupun status sosial. Rasulullah ingin menegaskan bahwa didalam Islam tidak membedakan sesama muslim, kecuali tingkat ketakwaan dan amal shalehnya.

Zainab dikenal seorang puteri yang cantik, memiliki garis keturunan bangsawan, cucu Abdul Muthalib pemuka Quraisy dan saudagar, disamping itu dia sangat dermawan. Mendengar dirinya akan dinikahkan dengan Zaid yang bekas budak, Zainab sangat kaget dan memandang dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan seorang bekas budak serta akan disejajarkan dengan isteri pertama Zaid, yaitu Ummu Aiman yang sama-sama budak belian. Apa yang akan dikatakan orang...? Seorang puteri bangsawan bersanding dengan seorang bekas budak belian. Menurutnya belum pernah ada sejarah kaum ningrat menikah dengan budak atau pembantu. Pantasnya dia dinikahkan dengan laki-laki yang sederajat. Karena itu dia menolak tawaran Rasulullah.

Sebenarnya apa yang diinginkan Zainab bisa saja terjadi, tetapi kehendak Allah tidaklah sama. Allah berfirman:

“Wa maa kaana limu’minati idzaaqadallaahu wa rasuuluhuu amran ayyakuuna lahumulkhiyaratu min amrihim. wa mayya’shillaaha wa rasuulahuu faqad dhalla dhalaalammubiinaa”.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
~ QS 33 – Al Ahzab : 36 ~

Akhirnya untuk menyenangkan Rasulullah dan takut di cap durhaka, maka Zainab mau dinikahkan dengan Zaid meskipun hatinya tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan itu.

Zaid sudah berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan Zainab, tetapi hati isterinya tetap congkak dan sombong pada suaminya serta masih menganggap suaminya adalah budak. Konflik rumah tangga makin meruncing dan keutuhan rumah tangga mulai tercabik-cabik dengan sering terlontarnya kata-kata yang tidak pantas dari Zainab untuk melukai kelelakian dan menyakiti perasaan Zaid.

Rasulullah sudah berusaha keras mendamaikan mereka. Beliau minta Zaid untuk bersabar juga menasihati Zainab agar tunduk pada suami dan tidak sombong.

Jurang perselisihan antara Zaid dan Zainab semakin menganga lebar, mengeruhkan samudera hati berdua. Kepada Rasulullah Zaid mengemukakan keinginannya untuk menceraikan isterinya, tapi beliau meminta Zaid untuk bersabar mempertahankannya. Akhirnya rumah tangga mereka sulit dipertahankan dan Zaid menceraikan Zainab.

Karena merasa bertanggung jawab atas anak pamannya itu yang dulu dipaksa untuk menikah dengan Zaid, Rasulullah berfikir untuk menikahi Zainab, tapi hal ini bisa menjadi desas desus yang tidak mengenakkan. Apa kata orang jika beliau diketahui menikahi mantan isteri anak angkatnya...? Maka keinginan beliau itu disimpan dihati yang dalam, sampai Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:


“Wa idztaquulu lilladzii an’amallaahu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillaaha watukhfii fii nafsika mallaahu mubdiihi watakhsyannaasa. Wallaahu ahaqqu an takhsyaahu. Falammaa qadhaa zaidumminhaa watharaa. Zawwajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alalmu’miniina harajun fii azwaaji ad’ibaa ihim idzaa qadau minhunna watharaa. Wa kaana amrullaahi maf’uulaa”.

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Akhirnya Rasulullah menikahi Zainab yang dirayakan dengan menggelar pesta meriah. Pernikahan Rasulullah dengan Zainab ini bukanlah semata-mata karena dorongan biologis pada diri Rasulullah, atau hasrat merajut cinta diantara mereka. Tapi Allah Subhanahu wa ta’ala sengaja menginginkan pernikahan tersebut untuk mengajarkan sebuah Kaidah Fiqih dalam Islam, yaitu seseorang diperbolehkan menikahi mantan isteri anak angkatnya.

Kedudukan anak angkat dalam Islam tidak sama dengan anak kandung yang terkait dengan garis keturunan dan aturan waris. Anak angkat tidak lebih dari orang lain yang dipelihara, disayangi dan dipenuhi kebutuhannya seperti kepada anaknya sendiri.

Zainab hidup bersama Rasulullah, sebagaimana isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun bagi Zainab pernikahan ini merupakan kebanggaan, karena dia dinikahkan oleh ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana Rasulullah sabdakan: ‘Semoga Allah merahmati Zainab bint Jahsy. Di dunia ini telah menerima kehormatan yang tiada duanya, yaitu bahwa Allah menikahkanku dengannya’.

Ditengah kemeriahan pesta, sesuatu terjadi... Karena begitu banyak orang yang bersuka cita, otomatis mereka hilir mudik di rumah Rasulullah. Suasana seperti ini tentu saja membuat Rasulullah dan isterinya tidak nyaman dan sulit bagi Rasulullah untuk mencegahnya. Akhirnya beliau sendiri yang mengungsi.
Pada saat itu Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuutannabiyyi illaa ayyu’dzanalakum ilaa tha’aamin ghairanaadhiriina inaahu walaakin idzaadu’iitum fadkhuluu faidzaa tha’imtum fantasyiruu wa laa musta’nisiina lihidiits. Innadzaalikum kaanayu’dzinnabiyya fayastahyii minkum. Wallaahu laa yastahyii minalhaq. Waidzaasa altumuu hunna mataa’an fas aluuhunna miwwaraa i hijaab. Dzaalikum athharu liquluubikum wa quluu bihinn. Wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaahi wa laa an tankihuu azwaajahuu mim ba’dihii abadaa. Inna dzaalikum kaana ‘indallaahi ‘adhiimaa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik  memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan  mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) disisi Allah”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 53 ~

Ayat ini pula mengharuskan isteri-isteri Rasulullah untuk mengenakan hijab dan melarang menikahi mantan isteri Rasulullah kelak setelah beliau wafat.

Zainab mendampingi Rasulullah dan para isteri lainnya juga ikut perang Khandaq dan Haji Wada. Zainab-lah isteri yang pertama menyusul Rasulullah .....

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Ahzab (33) - Ayat 36, 37 dan 53 - Pernikahan Rasulullah dengan Zainab diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Thursday, April 2, 2015

KISAH-KISAH ASBABUN NUZUL

KISAH-KISAH ASBABUN NUZUL

PENGERTIAN ASBABUN NUZUL - Secara etimologis asbab al nuzul terdiri dari kata “asbab” (bentuk plural dari kata “sabab”) yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab/illat (Almunawwir, 1997 : 602) sedang kata “nuzul” berasal dari kata “nazala” yang berarti turun (Al munawwir, 1997 : 1409). Menurut Al-Ghazali “Nuzul” adalah perpindahan sesuatu dari posisi tertinggi ke posisi yang rendah. Dengan demikian asbab al nuzul adalah suatu konsep, teori, atau berita tentang sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, baik berupa satu ayat maupun rangkaian ayat.

Para ulama berpendapat bahwa berkaitan dengan latar belakang turunnya, ayat-ayat Al Qur’an turun dengan dua cara:

Pertama, ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah tanpa suatu sebab atau peristiwa tertentu yang melatar belakangi.

Kedua, ayat-ayat yang diturunkan karena dilatar-belakangi oleh peristiwa tertentu. Berbagai hal yang menjadi sebab turunnya ayat inilah yang kemudian disebut dengan asbab al-nuzul.
Asbab al-nuzul didefinisikan “sebagai suatu hal yang karenanya al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, asbab al-nuzul membahas kasus-kasus yang menjadi sebab turunnya beberapa ayat al-qur’an.

Menurut Hasbi Ash-shidiqy makna asbab al-nuzul adalah kejadian yang karenanya diturunkan Al-qur’an untuk menerangkan hukumnya dari hari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana yang didalam suasana itu Al-qur’an di turunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu, ataupun kemudian lantaran sesuatu hikmah.

Para ulama’ salaf terdahulu untuk mengemukakan sesuatu mengenai asbabun nuzul mereka amat berhati-hati, tanpa memiliki pengetahuan yang jelas mereka tidak berani untuk menafsirkan suatu ayat yang telah diturunkan. Muhammad ibn Sirin mengatakan: ketika aku tanyakan kepada ‘ubaidah mengetahui satu ayat qur’an, dijawab: bertaqwalah kapada allah dan berkatalah yang benar. Orang-oarang yang mengetahui mengenai apa qur’an itu diturunkan telah meninggal.

Maksudnya: para sahabat, apabila seorang ulama semacam ibn Sirin, yang termasuk tokoh tabi’in terkemuka sudah demikian berhati-hati dan cermat mengenai riwayat dan katakata yang menentukan, maka hal itu menunjukkan bahwa seseorang harus mengetahui benar-benar asbabun nuzul. Oleh sebab itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan-ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbabun nuzul.

Berikut ini adalah kisah-kisah sebab turunnya Al Qur’an yang diambil dari Kitab Asbabun Nuzul tulisan Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi terbitan Zaman dan disarikan oleh sahabat saya, Ustadz Idih Ruskanda.

Kisah Asbabun Nuzul Ke 1 – Turunnya Surah 46 – Al Ahkaf Ayat 17 -  Kisah Abdurrahman ibn Abu Bakar dari kafir menjadi Muslim, hijrah dari kesesatan ke jalan yang lurus dan ayat tentang Kewajiban menghormati Ibu Bapak.

Kisah Asbabun Nuzul Ke 2 – Turunnya Surah 24 - An Nur, Ayat 11, 4, 22 - Aisyah difitnah – kebebasan dan pemulihan atas nama baiknya yang sarat atas ma’na.

Kisah Asbabun Nuzul ke 3 – Turunnya Surah 6 Al An’aam – Ayat 52 - Kisah para budak (Bilal ibn Rabbah dan Kabbab ibn Al Urti) yang disiksa majikannya karena masuk Islam

Kisah Asbabun Nuzul ke 4 – Turunnya Surah 96 Al ‘Alaq Ayat 6 – 19 - Kisah Al Hakam ibn Hisyam (Abu Jahal) yang dijuluki Fir’aun Makkah Masa Jahiliyah

Kisah Asbabun Nuzul ke 5 – Turunnya Surah 80 – Al Abasa Ayat 1 – 11 – Kisah Abdullah ibn Ummi Maktum yang menyebabkan Allah subhanahu wa ta’ala menegur RasulNya 


Kisah Asbabun Nuzul ke 6 - Turunnya Surah 33 – Al Ahzab Ayat 4, 5 dan 40 – Kisah bahwa anak angkat tetap harus memakai nama bapak biologisnya.

Kisah Asbabun Nuzul ke 7 - Turunnya Surah 33 – Al Ahzab Ayat 36, 37, 53 - Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Zainab yang diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Kisah Asbabun Nuzul ke 8 - Turunnya Surah 2 – Al Baqarah Ayat 221 - Kisah Abdullah ibn Ruwahah yang tidak henti-hentinya mencari Allah hingga menikah dengan budak negro yang muslim

Kisah Asbabun Nuzul ke 9 - Turunnya Surah 16 – Al Nahl Ayat 106 - Kisah Ammar ibn Yasir – Keluarga penghuni surga

Kisah Asbabun Nuzul ke 10 - Turunnya Surah 111 – Al Lahab Ayat 1 – 5 -Kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil yang dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala

Kisah Asbabun Nuzul ke 11 - Turunnya Surah 16 – Al Nahl Ayat 126 – 127 - Kisah Hamzah ibn Abdul Muthalib – Pimpinan para syuhada

Kisah Asbabun Nuzul ke 12 - Turunnya Surah 4 – An Nisaa Ayat 128 - Kisah Saudah binti Zam’ah RA yang ingin dibangkitkan sebagai isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Kisah Asbabun Nuzul ke 13 - Turunnya Surah 8 – Al Anfal Ayat 27 - 28 dan Surah 9 At Taubah Ayat 102 - Kisah Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir RA, karena berbuat salah, menghukum dirinya sendiri sehingga Allah menerima taubatnya

Kisah Asbabun Nuzul ke 14 - Turunnya Surah 2 – Al Baqarah Ayat 146 - Kisah Abdullah ibn Salam – Yahudi yang menjadi ahli surga

Kisah Asbabun Nuzul ke 15 - Turunnya Surah 104 - Al Humazah Ayat 1 - 9 dan Surah 109 - Al Kafiruun Ayat 1 - 6 - Kisah Umayyah ibn Khalaf – Kafir yang dibunuh budaknya sendiri

Kisah Asbabun Nuzul ke 16 - Turunnya Surah 33 Al Ahzab Ayat 23 - 24, Kisah Anas ibn Al Nadhr ra – Laki-laki yang meyakini janji Allah.

Kisah Asbabun Nuzul ke 17 - Turunnya Surah 58 AL Mujaadilah Ayat 1 - 4, Kisah Khaulah binti Tsa’labah – Perempuan yang menggugat Rasulullah saw.

Kisah Asbabun Nuzul ke 18 - Turunnya Surah 60 Al Mumtahanah Ayat 6 - 7, Kisah Ramlah bint Abu Sufyan ra. – Seruan untuk mencintai musuh.

Kisah Asbabun Nuzul ke 19 - Turunnya Surah 2 Al Baqarah Ayat 217, Kisah Abdullah ibn Jahsy Gubernur Muslim yang pertama contoh seorang pejuang Islam yang berperang di bulan Haram.

Kisah Asbabun Nuzul ke 20 - Turunnya Surah 8 Al Anfal Ayat 31 - 32, Surah 18 Al Kahfi Ayat 9 - 26, 83 - 98, Surah 17 Al 'Israa Ayat 85Tentang Pengarang Kisah dan Kebohongan.

Kisah Asbabun Nuzul ke 21 - Turunnya Surah 43 - Az Zukhruf Ayat 31, Surah 74 - Al Mudatstsir Ayat 18-23Kisah Al Walid ibn Al Mughirah – Berandai-andai menjadi Nabi

Kisah Asbabun Nuzul ke 22 - Turunnya Surah 3 - Ali Imran Ayat 99-101, Kisah Asid ibn Al Hadhir, Amir putera Sang Amir

Kisah Asbabun Nuzul ke 23 - Turunnya Surah 8 - Al Anfal Ayat 70, Kisah Abbas ibn Abd. Muthalib – Penyedia Air Minum di Al Haramayn 

Kisah Asbabun Nuzul ke 24 - Turunnya Surah 24 An Nur Ayat 2-3, Kisah Martsad ibn Abi Martsad R.A. – Hukuman bagi pezina

Kisah Asbabun Nuzul ke 25 - Turunnya Surah 4 - An Nisaa Ayat 32-34, Kisah Ummu Salamah r.a – Pembela hak-hak wanita.

Kisah Asbabun Nuzul ke 26 - Turunnya Surah 36 - Yaasin Ayat 77-79, Kisah Ubay ibn Khalaf – Pembantah seruan Nabi

Kisah Asbabun Nuzul Ke 27 – Turunnya Surah 3 - Ali Imran  Ayat 169-170 , Kisah Mush’ab ibn Umar - Utusan Rasulullah ke Yatsrib

Kisah Asbabun Nuzul Ke 28Turunnya Surah 2 - Al Baqarah Ayat 207, Kisah Shuhaib ibn Sinan Al Rumi - Sahabat diluar Arab yang beruntung dari perniagaan

Kisah Asbabun Nuzul Ke 29Turunnya Surah 8 - Al Anfal Ayat 36, Kisah Abu Sufyan ibn Harb – Menafkahkan harta untuk memerangi kaum Muslim.

Kisah Asbabun Nuzul Ke 30Turunnya Surah 2 - Al Baqarah Ayat 195 dan Surah 9 At Taubah Ayat 41, Kisah Abu Ayyub Al Anshari – Kediaman pertama Rasulullah di Yatsrib

Kisah Asbabun Nuzul Ke 31Turunnya Surah 4 - An Nisaa Ayat 105 s/d 111 dan 115, KisahZaid ibn Al Samin ra – Yahudi yang dibebaskan oleh Al Qur’an

Kisah Asbabun Nuzul Ke 32Turunnya Surah 33 - Al Ahzab Ayat 25 dan Surah 2 - Al Baqarah Ayat 62, Kisah Salman Al Farisi - Ahlul Bait dari Luar Arab

Kisah Asbabun Nuzul Ke 33Turunnya Surah 9 - At Taubah Ayat 75 – 76, Kisah Tsa'labah ibn Hathib - Mengingkari keutamaan Allah

Kisah Asbabun Nuzul Ke 34Turunnya Surah 76 - Al Insaan  Ayat 7-12, Kisah Fathimah Al Zahra dan Ali ibn Abi Thalib RA - Menunaikan nazar dan mementingkan orang lain

Kisah Asbabun Nuzul Ke 35Turunnya Surah 4 - An Nisaa Ayat 51-52, Kisah Ka'b ibn Al Asyraf - Si Pendengki Pemimpin Kaum Yahudi

Kisah Asbabun Nuzul Ke 36Turunnya Surah 98 - Al Bayinnah Ayat  1-8, Kisah Ubay ibn Ka'b RA - Salah seorang Sumber Ilmu dan Kebijaksanaan

Kisah Asbabun Nuzul Ke 37Turunnya Surah-Surah Al Baqarah Ayat 14, Al Hashr Ayat 11-12, Al Ahzab Ayat 26-27 , Al Munafiqun ayat 5-6, At Taubah Atar 84, Kisah Abdullah ibn Ubay ibn Salul - Pentolan Kaum Munafik

Kisah Asbabun Nuzul Ke 38Turunnya Surah 5 - Al Maidah Ayat 87-88, Kisah Utsman ibn Mazh'un RA. - Sahabat yang Zahid

Kisah Asbabun Nuzul Ke 39Turunnya Surah 3 - Ali Imran Ayat 100-102, Kisah Syas ibn Qays dan Sya'ul - Menyingkap rencana busuk Yahudi

Kisah Asbabun Nuzul Ke 40Turunnya Surah 4  - An Nisaa ayat 11, Kisah Umrah bint Hazm, istri Sa'd ibn Al Rabi R.A - Ketetapan tentang Hak Waris

Kisah Asbabun Nuzul Ke 41Turunnya Surah 3 -  Ali Imran Ayat 181, Kisah Abu Bakar Al Shiddiq - Membongkar kebohongan Yahudi

Asbabun Nuzul Ke 42 - Tidak lengkap

Kisah Asbabun Nuzul Ke 43Turunnya Surah 30 - Al Ruum Ayat 1- 4 - Prediksi kemenangan Romawi atas Persia  

Asbabun Nuzul Ke 44 - Tidak lengkap

Asbabun Nuzul Ke 45 - Tidak lengkap

Kisah Asbabun Nuzul Ke 46Turunnya Surah 9 - At Taubah Ayat 49, 117-118, KisahTiga Orang yang tidak ikut berperang

Kisah Asbabun Nuzul Ke 47Turunnya Surah 4 - An Nisaa Ayat 58, Kisah Utsman ibn Thalhah RA. – Menunaikan amanat kepada akhlinya