Friday, May 25, 2012

TEKNOLOGI JAMAN NABI SULAIMAN

Teknologi Jaman Nabi Sulaiman

Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkata seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab (Taurat dan Sabur): “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu ada dihadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’matNya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
~ An-Naml – QS 27 :39-40 ~

Saudara-saudara yang dirahmati Allah SWT, diatas adalah bagian dari kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an. Kita mengenal Nabi Sulaiman sebagai seorang Nabi yang dikaruniai kekayaan yang berlimpah dan kemampuan untuk berbicara dengan binatang. Ia memiliki tentara jin yang sakti-sakti.

Ayat diatas mengisahkan bagaimana usaha Nabi Sulaiman untuk menyadarkan Ratu Balkis tentang Allah swt, karena Ratu Balkis adalah seorang yang tergolong kafir. Nabi Sulaiman membuktikan kepada Ratu Balkis, bahwa dengan kehendakNya, “seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab” dapat memindahkan singgasana Ratu Balkis dari Saba’ di Yaman ke istana Nabi Sulaiman di Palestina dalam waktu hanya sekejap. Padahal jarak antara kedua tempat tersebut sekitar 3.000 km.

Dalam ayat-ayat diatas, ada suatu aspek atau esensi yang bersifat High Technology (Hi-Tech) yang sekarang baru sampai tahap pemahaman para ahli, dan belum berhasil ditiru sepenuhnya. Padahal kejadian itu berlangsung ribuan tahun yang lalu. Kemampuan “seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab” untuk memindahkan satu benda (singgasana) sejauh 3.000 km dalam waktu sekejap mata, sampai saat ini belum bisa ditiru oleh manusia manapun di muka bumi ini. Prestasi yang baru dicapai oleh manusia ialah memindahkan gambar yang sehari-hari saat ini bisa kita nikmati berupa tontonan pada layar televisi. Tapi memindahkan benda? Tampaknya masih jauh keberhasilan manusia untuk hal ini.

Ada beberapa teori yang kemudian dikembangkan oleh ahli-ahli Islam maupun non-Islam untuk mencoba menjelaskan phenomena seperti yang terjadi dalam Surah An-Naml:39-40 itu. “Seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab” itu diyakini secara praktis mampu memanfaatkan kecepatan yang paling dahsyat yang ada di jagad raya yang dikenal manusia sejak dahulu kala, yaitu kecepatan cahaya.

Cahaya adalah materi yang bergerak paling cepat di dunia ini. Pada satu garis lurus, kecepatan cahaya bisa mencapai 300.000 km per detik. Sampai sekarang belum ada benda atau materi lain yang sanggup melebihi kecepatan cahaya. Dengan kecepatan cahaya yang secepat itu, maka jarak bumi bulan ditempuh oleh cahaya hanya dalam waktu 1,5 detik. Jarak bumi matahari ditempuh cahaya dalam waktu 8 menit, karena jarak bumi matahari sekitar 150 juta kilometer. Wow hebat!

Seorang sarjana Islam berkebangsaan Arab Mesir bernama Dr. Yahya Sa’id al-Mahjari dalam karyanya Ayat Qur’aniyyah fil Misykat al-‘Ilm mencoba menjelaskan tentang phenomena “singgasana Ratu Balkis” itu. Menurutnya ada tahap-tahap yang dilakukan oleh “seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab” itu.

Pertama, terlebih dahulu ia melakukan proses transformasi, yaitu merubah singgasana dari materi menjadi semacam enerji. Enerji yang menyerupai listrik atau cahaya dapat dikirim lewat gelombang listrik magnetik.

 Kedua, ia berhasil mengirim enerji itu dari negeri Saba’ di Yaman ke istana Nabi Sulaiman di Palestina. Karena kecepatan gelombang listrik magnetik itu sama dengan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 kilometer per detik, maka pengiriman enerji itu berlangsung kurang dari satu detik.

Ketiga, ia berhasil men-transformasi kembali dari enerji menjadi materi -ketika enerji itu tiba di istana Nabi Sulaiman- persis seperti bentuk materi sebelumnya, yaitu singgasana. Istilahnya, ia telah berhasil melakukan proses materialisasi yang artinya setiap bagian dan atom dapat dikembalikan ke bentuk dan posisi semula.

Lebih lanjut Dr. Yahya menjelaskan bahwa sesungguhnya energi (at-thaqqah) dan materi (al-maddah) adalah dua bentuk yang berbeda dari satu benda yang sama. Materi bisa berubah menjadi enerji dan sebaliknya. Manusia telah berhasil merubah materi menjadi enerji dalam berbagai perlengkapan yang kita pakai sekarang, seperti air dan uap menjadi enerji listrik. Bensin menjadi energi untuk menggerakan mesin.

Proses kebalikannya, dari enerji menjadi materi baru sedikit sekali dikuasai manusia. Tehnik materialisasi dilakukan dengan alat yang disebut dengan particle accelerator (pemacu partikel) dengan tingkat keberhasilan yang masih rendah dan aplikasi yang sangat terbatas. Dalam bidang ini, manusia abad 20 masih seperti anak kecil yang baru belajar membaca.

Sungguh luar biasa ayat Al-Qur’an yang menerangkan adanya “seorang alim yang memiliki ilmu dari Al-Kitab” yang memiliki ilmu yang demikian tinggi. Inilah hebatnya Al-Qur’an yang menantang orang untuk berpikir terus sekaligus menegaskan bahwa ilmu yang dicapai oleh manusia saat ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu orang alim itu. Teknologi jaman Nabi Sulaiman ternyata jauh lebih canggih ketimbang teknologi di jaman yang serba cyber ini.

Bagaimana pendapat Anda?

Penulis : H. R. Bambang Irawan

No comments:

Post a Comment