Thursday, June 14, 2012

APAKAH KITA TELAH BERSYUKUR?

Bismillahirrohmanirrohiim

Indonesia dikenal sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, subur tanahnya dan kaya kandungan minyak dan gas bumi dengan hasil melimpah ruah pula. Tapi mengapa rakyat Indonesia belum bisa sejahtera hidupnya?

Orang asing kenal Indonesia karena “Islands of spices”nya, sawah-sawah hijau yang menghampar di kaki gunung sehingga mereka perlu menjajah tanah air kita selama 3,5 abad untuk menggali kekayaan alam ini. Dalam hal kekayaan alam sebagai anugrah dan karunia Allah swt, sesungguhnya rakyat Indonesia sangat dimanja oleh Allah swt.

Keterpurukan kita dalam berbagai hal, musibah yang silih berganti, kekerasan antar kelompok yang terus mengemuka mungkin merupakan ayat Allah sebagai akibat dari kurangnya rasa syukur kita yang cenderung untuk menelantarkan dan mengingkari nikmatNya. Allah berfirman :

Dan ingatlah juga tatkala Rabb-mu memaklumkan,
 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur,pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu,
 dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
~ Ibrahim – QS 14 : 7 ~

Bersyukur menurut definisi dari Bang Imaduddin, ialah memanfaatkan karunia Allah untuk sebesar-besarnya kemakmuran ummat. Bersyukur bukanlah semata-mata pelafalan kata “alhamdulillah”, namun bersyukur lebih merupakan tindakan kongkrit untuk mengelola karunia Allah, dalam hal ini kekayaan alam, untuk sebaik-baiknya kemakmuran ummat.

Tanda-tanda Gusti Allah untuk Bangsa Indonesia

Adanya tanah yang subur, dimana tongkat bisa jadi tanaman, bukankah ini merupakan tanda Allah agar kita lebih mendalami bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan dengan  mengembangkan agribisnis? Padang rumput yang hijau luas menghampar, bukankah merupakan isyarat Allah bahwa kita harus bertumpu pada peternakan?

Sebagai negara kepulauan dimana 60% dari wilayah kita adalah lautan, bukankah ini juga merupakan tanda-tanda Allah agar kita menekuni dan mengandalkan keahlian kelautan, misalnya perikanan, pembuatan kapal, industri hasil laut dsb?

Pemandangan alamnya yang indah yang ada dimana-mana seperti danau, gunung berapi, pantai, air terjun dan hutan tropis dan lain sebagainya, bukankah merupakan anugrah Allah di bidang pariwisata yang harus kita kelola dengan sebaik-baiknya? 

Hasil tambang yang ada di perut bumi seperti minyak-bumi, emas, perak, uranium, timah, bauksit, biji besi dan lain-lainnya bukankah merupakan ayat Allah agar kita mendalami ilmu tentang pertambangan dan menganjurkan kita untuk menguasai teknologi penambangannya?

Kelihatannya kita benar-benar buta melihat ayat-ayat Allah ini, padahal Allah telah menitahkan dalam Al-Qur’an agar senantiasa membaca alam untuk kemaslahatan kita bersama.

Allah berfirman:

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap
 dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu
supaya kamu mendapat petunjuk.
~ Az-Zukhruf – QS 43 : 10 ~

Tidakkah mereka memperhatikan burung2 yang dimudahkan terbang di angkasa bebas.
Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang yang beriman
~ An-Nahl – QS 16 : 79 ~

Coba kita tengok beberapa pengingkaran kita. Beribu hektar hutan tropis di Kalimantan dibakar atau dibiarkan terbakar tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk memadamkannya. Pembabatan hutan jalan terus tanpa melakukan reboisasi.

Sebagai negara bahari, nelayan kita selalu kalah dengan kapal trawl dan dibiarkan miskin dan bodoh. Industri perikanannya jauh ketinggalan. Bikin kapal sendiri masih langka, padahal sudah lama kita mengklaim bangsa kita sebagai bangsa bahari (masih ingat lagu “nenek moyangku orang pelaut……..?”). Industri perikanan kita sebagian besar masih hanya sampai tingkat pembuatan ikan asin belaka. Industri pengolahan ikan modern dapat dihitung dengan jari dan sebagian kepemilikannya adalah orang asing (Jepang & Korea).

Di Cianjur (terkenal karena berasnya) dan di berbagai tempat lain, sawah subur berhektar-hektar akan dijadikan kompleks perumahan dan pusat perdagangan. Di tempat lain, sawah dijadikan lapangan golf atau hotel. Belum lagi sawah yang dibebaskan oleh pengembang namun dibiarkan menjadi lahan tidur selama bertahun-tahun. Kita diberi tanah yang luas, tapi tetap ngotot untuk bikin kondominium yang mewah. Kontradiktif sekali dengan keengganan kita untuk membangun rumah-rumah sederhana di tanah yang luas itu untuk memenuhi hajat ummat dengan kemampuan keuangan terbatas.

Sumber minyak bumi banyak, tapi kita tidak bisa mencari lokasinya dan mengolahnya. Lebih baik dikerjakan oleh bangsa asing yang sudah ahli. Hanya saja, masyarakat harus membeli “minyak jadi”nya, seperti bensin, minyak tanah dsb dengan harga tinggi. Ibaratnya, kita tanam pisang, orang lain yang memetik pisangnya, menggoreng dan menjual pisang gorengnya kepada kita.

Sungguh sikap yang bodoh dan merupakan pengingkaran senyata-nyatanya, karena kita tidak mau menggunakan akal yang dikaruniakan Allah swt kepada kita. Kita benar-benar khufur nikmat. Allah berfirman :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
 pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.
Tetapi merekan mendustakan ayat-ayat Kami.
 Maka Kami  siksa mereka disebabkan perbuatannya.
~ Al-A’raaf – QS 7 : 96 ~

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram; rezekinya datang kepadanya dengan melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) mengingkari (kufur) nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh apa yang mereka perbuat.
~ An-Nahl – QS 16 : 112 ~

Allah telah menetapkan kehendaknya menurut firman-firmanNya diatas. Yang benar-benar kita harapkan saat ini ialah agar pemimpin bangsa dan pengelola negara ini, tidak buta membaca ayat-ayat Allah yang jelas dan nyata ini. Jangan sampai lagi terulang kita menjadi ummat yang tidak mensyukuri nikmatNya.

Masih ingat kisah Siti Hajar yang mondar-mandir mencari air di tengah bukit tandus bebatuan untuk meminumi anaknya Ismail yang menangis karena haus? Berkat perlindungan dan kebesaran Allah swt, akhirnya air memancar dari batu-batuan. Siti Hajar sangat mensyukuri nikmatNya dan memelihara mata air ini dengan baik.

Mata air itu, yang kini di kenal dengan sumur Zam-zam, tetap terpelihara sepanjang peradaban manusia mulai dari Nabi Ibrahim as. sampai saat ini. Pemeliharaan mata air itu merupakan suatu perwujudan dari ungkapan rasa syukur manusia atas karunia Allah itu. Kita perlu meniru bangsa Arab dalam hal bersyukur ini. Bangsa Arab mensyukuri pemberian Allah secara konsisten, walau wujudnya hanya berupa mata air, sehingga air Zam-zam bisa membawa berkah bagi berjuta-juta ummat muslim dari seluruh dunia.

Bangsa Indonesia seharusnya bisa belajar mensyukuri pemberian Allah yang berupa kekayaan alam yang sedemikian banyak. Dari kisah Siti Hajar itu, kita ambil hikmahnya bahwa Allah akan melimpahkan rizkiNya setelah kita berikhtiar, berusaha tanpa kenal lelah, seperti Siti Hajar mencari air yang nyaris mustahil di kegersangan tanah Arab.

Kita telah kurang keras berikhtiar dan kurang bersungguh-sungguh memanfaatkan karunia Allah swt. Percuma bangsa kita punya kekayaan alam, tapi kita tidak mau berpikir bagaimana memanfaatkannya untuk kemaslahatan semua ummat, bukan untuk diri sendiri seperti yang terjadi sebelumnya.

Nah, bagaimana mengenai diri kita sendiri sebagai individu? Apakah kita benar-benar telah mengetahui kelebihan yang ada pada diri kita, kemudian mensyukurinya dengan mengamalkan kelebihan itu untuk meningkatkan amal saleh? Hal ini patut dan sungguh perlu kita renungkan!

Latihan bersyukur:

Uwes Al-Qorni dalam bukunya “60 Penyakit Hati” memberikan petunjuk bagi kita dalam melatih diri untuk bersyukur. Berikut beberapa kiatnya:

1.     Bandingkanlah rezeki kita dengan rezeki orang yang berada di bawah kita, dan bandingkanlah amal akhirat dengan amal orang yang di atas kita.

2.     Senantiasa mensyukuri nikmat sekecil apapun. Orang yang tidak mensyukuri nikmat yang kecil, tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang besar. Rasulullah bersabda: “Orang yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak”

3.     Bersikap bijaksana dalam memahami ketentuan Allah; sebagai nikmat atau sebagai bencana. Tujuannya agar kita tidak salah dalam menentukan tindakan: bersyukur atau bersabar.

4.     Membiasakan mengingat kebaikan orang lain sekecil apapun, dan melupakan kejelekannya sebesar apapun. Orang yang tidak dapat berterima kasih atas kebaikan orang lain, tidak akan dapat mensyukuri nikmat dari Allah sebagaimana sabda Nabi: “Orang yang tidak bersyukur kepada manusia, tidak akan dapat bersyukur kepada Allah”

5.     Mengatur seluruh tindakan kita sesuai dengan etik Islam dan tata pergaulan antara sesama, khususnya antara sesama muslim.

Akhirnya, marilah kita doakan agar kita dan para pemimpin bangsa ini menyadari dan memperbaiki kesalahan dimasa lalu. Aamiin, Ya Robbal’alamiin

Bagaimana pendapat Anda?

Tulisan: H. R. Bambang Irawan

No comments:

Post a Comment