Sunday, July 6, 2014

PEMIMPIN MENURUT AL QUR’AN, BELAJAR DARI KISAH THALUT DAN JALUT

PEMIMPIN MENURUT AL QUR’AN, BELAJAR DARI KISAH THALUT DAN JALUT


Bismillahirrahmanirrahim,

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subhaanahu wa ta’ala, dalam masa tenang  menjelang waktu mencoblos pilihan kita, maka tiada lain yang dapat kita kerjakan adalah berdoa kepada Allah Subhaanahu wa ta ta’ala agar kita diberi pemimpin baru yang amanah dan menegakkan keadilan, pemimpin yang bekerja untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya agar makmur dan sejahtera serta menjaga martabat dan kemuliaan bangsa Indonesia.

Ada satu kisah dalam Al Qur’an tentang Thalut dan Jalut yang kiranya dapat menjadi semacam gambaran tentang pemimpin seperti apa yang Allah akan berikan kepada setiap bangsa yang bertaqwa kepadaNya. Mari kita simak kisahnya.

Thalut adalah nama seorang raja Bani Israil pada era Nabi Daud a.s. Beliau menjadi raja ketika Nabi Daud a.s menjadi panglima perang. Saat itu Bani Israil terombang-ambing oleh kekosongan pemimpin pasca Nabi Musa a.s. Beberapa orang di antara mereka berkata kepada pemimpin agama mereka yaitu Samuel – yang termasuk nabi, namun bukan rasul – agar mengangkat seorang raja/pemimpin.

Maka dikhabarkan oleh Nabi Samuel bahwa Allah telah memilihkan Thalut sebagai raja atau pemimpin mereka. Namun mereka menolak Thalut dengan alasan bahwa Thalut bukan dari keluarga mampu, mereka menyatakan bahwa kalangan mereka sendirilah yang lebih pantas dan berhak atas kepemimpinan itu. Thalut juga bukan keturunan Yahuda ataupun Lewi (keluarga bangsawan di kalangan mereka)

Nabi Samuelpun memberi khabar tentang sosok Thalut yang diremehkan itu bahwa dia adalah orang yang luas wawasan dan pengetahuannya dan memiliki tubuh yang perkasa. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an:

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu’. Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya, sedang diapun tidak diberikan kekayaan yang cukup banyak?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugrahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui~ QS 2 – Al Baqarah : 247 –

Singkat kisah, Jalut akhirnya tewas di tangan Daud yang menjadi komandan perang dalam jumlah pasukan Thalut yang sedikit, hingga pada gilirannya sepeninggal Thalut, Daud pun menjadi raja.

Allah berfirman yang artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena melupakan hari perhitungan” ~ QS 38 – Shaad : 26 ~

Bahwa kunci kemenangan dari tentara Thalut itu adalah ‘menjauhkan diri dari tema-tema kesenangan duniawi’ yang digambarkan dengan ‘meminum air sungai yang dilalui dengan hanya seciduk, seperlunya.

PELAJARAN YANG DAPAT KITA TARIK.

Dari kisah Thalut dan Jalut dengan keberadaan Daud a.s. yang kemudian menjadi penerus kepemimpinan Bani Israil, kita dapa menarik pelajaran sebagai berikut:

#1 – Pemimpin itu dapat dipercaya bukan lantaran kecukupan materi atau karena harta dan kekayaan, siapapun boleh dan bisa menjadi pemimpin suatu kaum tanpa melihat unsur kekayaannya

#2 – Pemimpin itu hendaklah seorang yang luas wawasan ilmu dan pengetahuannya, sebab ia akan banyak mengatasi pelbagai persoalan dari kaum yang dipimpinnya dan pengaruh dari pergaulan antar manusia lainnya, sehingga kecerdasan dan kecermatan dalam memandang masalah yang berkembang menjadi acuannya, tidak sekedar menjawab tanpa ada pengetahuan di dalamnya.

#3 – Selain secara akal, ia juga memiliki fisik yang prima atau dalam konteks kekinian boleh disebut dengan sehat secara jasmani dan rohani, yang membuat orang-orang yang dipimpinnya dan pihak lain merasa bangga, sehingga ia mampu menjalankan konteks kepemimpinannya dengan disertai adanya rasa hormat dan disegani banyak orang dan tidak dilecehkan

#4 – Pemimpin harus mampu menekan kemauan yang bersumber dari hawa nafsu, sehingga ia berkewajiban meletakkan keadilan di atas segala kepentingan yang ada. Salah satu ‘kunci adil’ itu adalah sikap konsisten atau istiqomah untuk menjalankan amanah yang diembankan tanpa bergeser pada kepentingan-kepentingan di luar amanat yang telah diberikan.

#5 – Lebih dari semua itu, yang paling mendasar sebagai pemimpin harus memiliki karakter keimanan yang baik. Sebab tidak selalu keputusan dalam menempuh kebijakan yang baik dan benar itu sekedar mengandalkan kekuatan akal-fikiran. Pada waktu tertentu, ia sungguh membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Subhaanahu wa ta ta’ala yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatunya

Jadi, bagaimanapun manusia berusaha untuk memilih pemimpin yang menurutnya adalah yang terbaik, maka pada akhirnya Allah Subhaanahu wa ta ta’ala lah yang menentukan pemimpin kita. Dengan perkataan lain, siapapun Presiden kita yang terpilih nanti, itu merupakan ketentuan Allah yang harus kita terima dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Insyaa Allah.

Semoga bermanfaat

Wasallam, Mimuk Bambang Irawan
Jakarta, 7 Juli 2014

No comments:

Post a Comment