Sunday, July 6, 2014

TUNTUNAN AL QUR’AN TENTANG BAGAIMANA MENANGGAPI ISU DAN BERITA

TUNTUNAN AL QUR’AN TENTANG BAGAIMANA MENANGGAPI ISU DAN BERITA


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subhaanahu wa ta’ala, berita dan isu yang merebak dalam suasana kampanye pilpres akhir-akhir ini membuat sebagian kita terseret dalam gibah (pergunjingan), saling menghujat, menjelekkan, menghina, bahkan ikut serta menyebarkan kabar bohong dan fitnah yang tak jelas sumbernya dan tidak kita tahu kebenarannya.

Berita dan isu yang beredar tak terkontrol lagi. Mengaduk-ngaduk perasaan kita, marah, benci, dendam, kecewa, putus asa, rasa ingin berontak yang bisa jadi pencetus tindakan-tindakan kekerasan sampai pembunuhan ....dan seterusnya dan seterusnya! Na’udzubillah minzaliq .....

Nah, bagaimana pencegahannya, agar kita tidak termakan isu sehingga tidak terserang penyakit-penyakit itu? Ciba kita renungkan ayat-ayat berikut. Allah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” ~ QS 49 – Al-Hujuraat : 6 ~

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. ~ QS 17 – Al-Israa’ : 36 ~

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri* diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (diantaramu)” ~ QS 4 – An–Nisaa’  : 83 ~

Note:  *Ulil Amri ialah tokoh-tokoh sahabat dan para cendikiawan diantara pengikut Nabi. Rasul dan Ulil Amri dianggap ahli dalam menetapkan kesimpulan (istimbat) tentang berita itu.

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah berita bohong yang nyata”. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta” ~ QS 24 – An-Nuur : 12-13 ~

Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan satu-satunya sumber berita tentang kebenaran, maka pantaslah kita bersyukur bahwa untuk situasi yang over-informed ini sudah tersedia petunjuk yang jelas, sehingga kita dapat terhindar dari penyakit-penyakit hati itu.

Yang tersirat adalah bahwa setiap ada berita hendaknya kita menyaring berita itu. Tidak dibenarkan untuk menelan mentah-mentah setiap berita yang masuk ketelinga kita atau terbaca oleh mata kita. Waspadailah berita bohong atau berita yang berniat memecah belah. Jangan kita ikuti atau terpengaruh oleh hal-hal yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Kita harus selalu meneliti sumber berita dengan seksama dan penuh kehati-hatian. Kita diingatkan untuk menggunakan kemampuan intelegensia kita, bukan perasaan emosi kita.

Orang yang bijak ialah orang yang selalu memfungsikan pendengaran, penglihatan dan pengamatan kemudian menggunakan daya analisanya secara cermat, sehingga menjadi ahli dalam menyimpulkan berita. Dengan demikian langkah-langkah yang diambilnya kemudian mencerminkan kemantapan pribadi dan penuh percaya diri yang tahan terhadap isu dan khabar bohong.

Berita apapun tidak akan meresahkannya dan menimbulkan kepanikannya. Semuanya ditanggapi dengan ketenangan karena yakin akan kebenaran Al-Qur’an dan bimbingan Allah Subhaanahu wa ta’ala.

Tugas menyimpulkan berita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul dan Ulil Amri di jamannya, harus bisa dihayati dan diamalkan oleh para kepala keluarga sekarang dalam setiap keluarga, sehingga keluarga, istri dan anak bisa hidup dalam ketentraman dan ketenangan terbebas dari isu-isu yang sangat diragukan kebenarannya.

Semoga bermanfaat

Wasallam, Mimuk Bambang Irawan

Jakarta, 7 Juli 2014

No comments:

Post a Comment