Sunday, April 8, 2012

UJIAN SEUMUR HIDUP

Ujian Allah Seumur Hidup

Adi dan Dessy anak-anakku yang dirahmati Allah SWT, marilah kita renungkan kisah-kisah berikut ini yang berkaitan dengan ujian Allah. Sungguh malang nasib si Anu. Baru sebulan yang lalu perusahaannya bangkrut yang menyebabkan kerugian harta yang besar. Disusul rumahnya yang megah turut dilalap si jago merah karena perumahan kumuh disekitarnya terbakar terlebih dahulu.

Hari ini, dalam sebuah rumah sewa yang sederhana ia menerima khabar bahwa istri dan anaknya yang dicintainya tewas dalam kecelakaan mobil ketika mereka tengah dalam perjalanan ke rumah mertua si Anu.

Kerabat si Anu berkomentar: “Sungguh berat cobaan bagi si Anu, semoga ia diberi kekuatan iman untuk mengatasinya”, sambil menyaksikan si Anu termangu dengan muka sembab karena air mata.

Lain halnya dengan si Fulan. Ia sedang naik daun. Karirnya menanjak terus, sehingga ia sekarang menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan yang bonafid. Dengan jabatan itu, semua urusan menjadi mudah, harta berlimpah dan hidup penuh kesenangan dunia. Anak-anak mengenyam pendidikan terbaik di salah satu negara jiran.

Pada satu liburan ia tampak berekreasi dengan istrinya yang cantik dan dua putranya yang ganteng-ganteng di Singapura. “Sungguh nikmat hidup si Fulan. Rupanya si Fulan ini orang yang beruntung yang dijauhkan dari segala cobaanNya” demikian kira-kira komentar kebanyakan orang.

Rupanya disini ada beberapa persepsi yang perlu diluruskan.

Pertama, mengenai jenis-jenis ujian Allah atau cobaan hidup yang ditimpakan Allah swt kepada kita.  Kebanyakan orang beranggapan bahwa ujian Allah swt hanya dalam bentuk musibah. Sedangkan kesenangan dunia dipandang bukan sebagai ujian Allah melainkan rahmat yang diberikan Allah swt kepada manusia untuk dinikmati.

Persepsi yang demikian sungguh keliru. Sesungguhnya cobaan atau ujian Allah bisa dalam bentuk sesuatu yang memberatkan dan menyakitkan, namun bisa juga dalam bentuk kebaikan dan kenikmatan yang menyenangkan sebagaimana firman Allah berikut ini:

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan,sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan.
~ QS 21 – Al Anbiyaa’ : 35 ~

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan;
 diantaranya ada orang-orang yang saleh dan diantaranya ada yang tidak demikian.
 Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk agar mereka kembali (kepada kebenaran)
~ QS 7 - Al A’raaf : 168 ~

Banyak diantara kita kalau disuruh memilih jenis ujian Allah mana yang sebaiknya ditimpakan kepada kita, maka kebanyakan pula yang akan memilih ujian Allah berupa kenikmatan yang menyenangkan. Jarang ada yang memilih diuji dengan musibah yang menyakitkan.

Padahal statistik menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang menjadi dekat dengan Allah karena ditimpa musibah yang menyakitkan, karena orang cenderung hanya ingat dan berpaling kepada Allah bila ditimpa kesusahan. Sebaliknya orang yang diberi kenikmatan lebih gampang untuk melupakan Allah dengan lupa bersyukur dan tenggelam dalam kesenangan yang membutakan mata hati.

Banyak diantara mereka menjadi sombong dan berlaku zalim kepada sesamanya. Makin lupa mereka kepada Allah, justru Allah akan memberikan kesenangan yang terus menerus sehingga mereka makin terjerumus dalam kebinasaan seperti difirmankanNya:

Dan orang-orang yang mendustakan ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui
~ QS 7 - Al A’raaf : 182 ~

Nah, sebagai seorang Muslim yang selalu ingin dekat kepada Sang Pencipta ujian Allah yang mana kiranya Anda pilih?

Kedua, kesalahan persepsi mungkin juga terjadi karena kita tidak menguasai hakekat mengapa Allah menguji kita dan apa materi ujian yang ditimpakanNya kepada kita.

Sebagai ilustrasi, bila kita ujian ekonomi, maka hakekat dari ujian ekonomi itu adalah untuk mendapatkan nilai yang bagus (sebagai aktualisasi bertambahnya ilmu-ilmu ekonomi) agar target SKS yang diberikan kepada kita bisa kita capai, sehingga pada akhir pendidikan kita lulus dan berhak mendapat gelar sarjana ekonomi. Materi ujiannya adalah bahan kuliah semua mata pelajaran ekonomi seperti akuntansi, keuangan, SDM, manajemen dan sebagainya.

Nah, pernahkah kita renungkan apa sebenarnya hakekat dan materi ujian Allah yang ditimpakan kepada kita? Hidup manusia di dunia adalah bagaikan suatu perjalanan menempuh jaman dari mulai lahir, masa kecil, remaja, dewasa, tuan, untuk akhirnya mati berkalang tanah.

Kelak, manusia akan menjalani kehidupan abadi di akhirat. Jadi, tujuan perjalanan hidup di dunia ini adalah untuk mencapai akhirat. Di akhirat kita disediakan 2 pilihan; surga atau neraka. Penempatan kita di akhirat nanti sangat tergantung dari “bekal” yang kita bawa selama menempuh perjalanan hidup di dunia. Dan bekal itu namanya amal soleh yang berbuahkan pahala.

Pahala itulah yang harus kita kumpulkan sebanyak-banyaknya melaukan amal soleh selama hidup kita agar tempat kita di akhirat kelak adalah surga semata. Kesempatan untuk mendapatkan pahala yang diberikan oleh Allah terbuka selebar-lebarnya bagi setiap manusia. Setiap kita lulus dalam ujian yang diberikanNya kepada kita, maka kita akan mendapat pahala.

Sebaliknya bila kita tidak lulus maka perbuatan kita dicatat sebagai dosa yang akan mengurangi timbangan pahala kita. Jadi, hakekat Allah menguji kita adalah agar dalam hidup ini, kita bisa mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita untuk mencapai surga.

Dalam Al-Qur’an, yang menjadi pedoman hidup di dunia untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, terdapat petunjuk mengenai materi ujian Allah apa yang ditimpakanNya kepada manusia, yang antara lain;
-         Keyakinan terhadap Allah (QS 3 - Ali Imran :154),
-         Perintah menyembah Allah (QS 11- Huud : 7),
-         Ketaatan kepada Allah (QS 5 – Al Maaidah : 94),
-         Keimanan (QS 9 – At Taubah : 16),
-         Kesabaran dalam kekurangan (QS 2 – Al Baqarah : 155),
-         Bersosialisasi dengan masyarakat sekitar (QS 6 – Al An’aam : 53),
-         Berjihad dan bersabar (QS 47 - Muhammad : 31),
-         Amal perbuatan yang baik (QS 18 - Al Kahfi : 7, QS 67 - Al Mulk : 1,2),
-         Hal-hal yang menyakitkan fisik dan mental (QS 3 - Ali ‘Imran : 186),
-         Kebenaran pengakuan sebagai orang beriman (QS 29 - Al Ankabuut : 1-3),
-         Ujian bagi mereka yang mendapat kedudukan yang tinggi (QS 6 – Al An’aam : 165)
-         Serta nafsu mengejar harta (QS 3 - Ali ‘Imran : 152).

Nah, telah siapkah diri Ananda sekalian untuk menempuh “mata ujian Allah” diatas? Firman Allah:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
~ QS 54 – Al Qamar : 40 ~

(Note: Bicara soal ujian Allah, maka sebenarnya Allah telah menyediakan satu “textbook” yang tiada tandingannya diatas bumi yaitu Al-Qur’an. Dan ujiannyapun diselenggarakan dengan sistim “open-book”. Walaupun demikian ternyata masih banyak yang tidak lulus ujianNya, karena banyak yang hanya pandai melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu dan indah tanpa menangkap pelajaran hakekat hidup darinya. Al-Qur’an memang harus dipelajari dengan mata hati.)

Ketiga, kebanyakan kita berpendapat bahwa ujian Allah hanya sekali-sekali ditimpakan dalam hidup kita. Ini boleh jadi karena kesalahan persepsi yang pertama diatas. Oleh karena musibah tidak selalu terjadi, maka dipersepsikan bahwa ujian Allah hanya terjadi pada saat kita ditimpa kemalangan seperti; kematian orang yang dicintai, kehilangan harta, kegagalan dalam perkawinan, bangkrutnya usaha, PHK dan sebagainya.

Dalam keadaan biasa seolah-olah kita dibebaskan dari masa ujian. Demikian juga mengenai kesenangan, kebanyakan menganggap bahwa hanya kesenangan dan kebahagiaan yang luar biasa yang perlu diperhitungkan sebagai ujian Allah. Misalnya ketika meraih gelar sarjana, mendapat hadiah yang tak disangka, atau saat lolos dari satu kesulitan. Barulah ketika itu kita berkata: “Alhamdulillah”, sekedar sebagai tanda syukur. Kejadian yang berjalan rutin dan wajar dianggap bukanlah ujian terhadap kita.

Banyak diantara kita tidak menyadari bahwa ujian Allah terjadi setiap saat, terus menerus mulai dari kita bangun sampai tidur kembali, setiap detik, menit, jam dan hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tak putus-putusnya sampai kita mati.

Bila telah disadari bahwa Allah SWT menguji kita seumur hidup, maka dapat diambil konsekuensi positifnya bahwa sebenarnya Allah telah sangat memudahkan manusia untuk memperoleh pahala. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah karena telah menyediakan peluang yang amat banyak bagi manusia untuk memperoleh pahala dari detik demi detik, yang sekaligus merupakan bukti betapa Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap umatNya.

Jadi benarlah kiranya Allah tidak menciptakan manusia dan menjalani hidup ini dengan sia-sia tanpa arah dan tujuan. Ujian Allah seumur hidup ini justru merupakan sarana kita untuk memperbanyak pahala agar kita kelak mencapai surga di akhirat dan berada di sisiNya. Coba kita renungkan firman Allah swt. dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia,
dan bahwa sesungguhnya kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?
~ QS 23 – Al Mu’minun : 115 ~

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
 (tanpa pertanggung jawaban)?
~ QS 75 - Al Qiyamah : 36 ~

Keempat, Ujian Allah selalu disesuaikan dengan kemampuan setiap insan. Karena sifat Allah swt Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah tak mungkin memberikan suatu ujian diluar batas kemampuan seseorang. Allah berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.
~ QS 2 – Al Baqarah : 286 ~

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya? Itulah para nabi. Kemudian orang yang mengikuti jejak dan meniru para nabi. Seorang diuji menurut kadar agamanya. Jika tipis (lemah) ia diuji sesuai dengan itu. Dan jika agamanya kokoh, ia diuji dengan yang lebih berat. Seseorang diuji terus-menerus hingga ia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa” (Riwayat Bukhari).

Artinya, seberat-beratnya terasa ujian yang ditimpakan kepada kita, maka ayat diatas menyiratkan bahwa sebetulnya kita memiliki potensi berupa daya yang belum kita manfaatkan secara maksimal untuk mengatasi ujian Allah itu. Bukankah kita sudah dikaruniai akal yang dilengkapi dengan fisik beserta pancaindera kita yang telah disesuaikan dengan lingkungan hidup kita?

Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna. Adanya orang yang putus asa, menjadi gila sampai bisa-bisanya bunuh diri karena cobaan yang bertubi-tubi, adalah karena mereka tidak menyadari potensi dalam diri mereka dan bukan karena Allah telah menimpakan ujian yang terlalu berat untuk mereka.

Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu atau lupa bahwa Allah telah menurunkan pedoman hidup yang paling sempurna, yaitu Al-Qur’an. Sabda Nabi SAW juga menyiratkan bahwa makin kuat iman seseorang, maka tentunya ujian Allah yang dihadapinya juga semakin berat, karena orang yang tebal imannya secara logika tentu akan lebih tahan banting ketimbang yang tipis imannya.

Nah, bukankah menjadi lebih mudah bagi kita untuk mencapai akhirat dengan selamat dan menjadi penghuni surga disisiNya bila kita sadar sesadarnya bahwa detik demi detik kita senantiasa menghadapi ujian Allah? Dengan membiasakan sikap yang sedemikian, maka akan lebih mudah bagi kita untuk selalu mencari rujukan kepada Al-Qur’an yang menjadi pedoman umat Islam dalam menjalani hidup di dunia ini. Kalau sudah merujuk ke Al-Qur’an begini, maka haqqul-yakiin jalan yang kita tempuh (baca: jawaban atas ujian Allah) insya Allah akan diridho’i-Nya. Aamiin ...

Bagaimana pendapat Ananda?

Tulisan: H. R. Bambang Irawan – Nasihat untuk Anak-Anak dan Cucu-Cucuku

Sesungguhnya Allah senantiasa menguji kepatuhan kita padaNya setiap saat dengan kenikmatan dan musibah. Kalau kita menyadari bahwa apa yang terjadi pada kita adalah ujian dariNya, niscaya kita akan memperoleh ketenangan hidup dan kedamaian hati. That’s it.