Thursday, October 24, 2013

EGP ( = EMANGNYA GUE PIKIRIN)

Bismillahirrohmanirrohiim

EGP ( = EMANGNYA GUE PIKIRIN) 


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subhaanahu wa ta’ala, musibah yang silih berganti telah dan sedang menimpa bangsa ini. Mulai dari bencana alam seperti gempa bumi, banjir, musim kemarau yang berkepanjangan yang mengakibatkan kekeringan, kegagalan panen dan kebakaran hutan sampai bencana karena ulah tangan-tangan manusia seperti kecelakaan didarat, laut dan udara dan belakangan ini; kerusuhan-kerusuhan yang diwarnai oleh penculikan, penyiksaan, penjarahan, perkosaan bahkan pembunuhan yang menyebarkan ketakutan dan keputus-asaan sehingga benar-benar merobek-robek harkat bangsa ini.

Belum lagi akibat dari semua itu yang menyebabkan bangsa ini mengalami krisis politik dan ekonomi. Lebih parah lagi adalah krisis akhlak dan kepercayaan. Kita menjadi bertanya-tanya, masihkah bangsa ini adalah bangsa yang diridhoi oleh Allah swt?

Mengapa Allah menimpakan cobaan yang demikian beratnya kepada kita-kita semua. Bukankah musibah ini diakibatkan oleh ulah sekelompok manusia-manusia zalim tidak berahlak yang mendustai Tuhannya yang sebenarnya telah diberikan karunia oleh Allah swt. dalam bentuk jabatan, kekuasaan dan kewenangan? Kenapa Allah tidak hanya menimpakan musibahNya kepada mereka, biang keladi dari semua kesengsaraan ini? Mengapa kita semua kena getahnya?

Ini semua terjadi karena kita sebenarnya tidak mengikuti aturan main yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an. Padahal kita - sebagai ummat muslim yang bertaqwa - seharusnya sepakat bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Lho, bukankah kita tidak ikut-ikutan berbuat zalim, bukankah kita tergolong manusia alim yang selalu sholat, puasa, berzakat dan bersedekah, bahkan banyak diantara kita yang sudah haji. Kok kita dibilang tidak ikut aturan main. Kalau ada yang zalim, kenapa gue mesti ikut campur? EGP! Emangnya Gue Pikirin! Firman Allah swt.:

“Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang yang beruntung” ~ QS 3 – Ali  ‘Imran : 104 ~

Note: Ma’ruf : segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Sebagai insan yang berpihak kepada kebenaran, seharusnyalah kita selalu mengingatkan siapapun yang melakukan kemungkaran. Kita harus menghindari sikap EGP atau tidak mau tahu keadaan sekeliling kita. Tujuannya adalah agar yang menyeleweng dari relnya bisa dikembalikan ke jalan yang diridhoi Allah swt. Suatu usaha yang harus dilakukan tanpa tedeng aling-aling dengan terus menerus tak kenal lelah setiap saat dan kapan saja kita melihat ada kemungkaran terjadi disekeliling kita.  Allah berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap satu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. ~ QS 5 – Al-Maaidah : 8 ~

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik  ~ QS 15 – Al-Hijr : 94 ~

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran
~ QS 103 – Al-Ashr : 1-3  ~

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh melakukan perbuatan yang ma’ru , mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat dari Allah swt. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ~ QS 9 – At-Taubah : 71 ~

Beberapa hadist Nabi menekankan pada sikap terhadap kemungkaran:

Rasa takut terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikan atau mendengarnya” (HR Ahmad)

“Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit” (HR Ibnu Haban)

“Berjihad yang paling utama adalah mengatakan yang hak dihadapan penguasa yang zalim” (HR Abu Daud)

Semangat amar ma’ruf nahii mungkar ini harus dimulai dari lingkungan sosial terkecil. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan kerja, perkumpulan dan organisasi sampai akhirnya pada sistim pemerintahan dan bernegara dalam tatanan dunia.

Mengenai bagaimana menghadapi dan melawan kemungkaran ini tercermin dari hadist Nabi saw seperti dikisahkan berikut ini:

Nabi Muhammad mengisahkan sebagaimana diriwayatkan Muslim: Suatu saat, sekelompok orang berpergian diatas kapal, berlayar lepas ditengah gelombang lautan. Diatas kapal itu, mereka memilih tempatnya masing-masing. Ada yang di bagian atas kapal, ada pula yang di bagian bawah. Tiba-tiba seorang yang di bagian bawah kapal berdiri dari tempat ia duduk dan mulai melubangi tempat ia duduk tadi dengan sebuah kampak. Penumpang yang lain segera memegang tangan orang itu dan bertanya: “Apa yang kamu perbuat?”. Ia menjawab: “Ini tempatku sendiri dan aku boleh berbuat pada tempatku semauku!”

Nabi bersabda lebih lanjut: “Jika mereka (penumpang lain) memegang tangan yang ingin berbuat semaunya itu, maka orang itu akan selamat dan mereka semua juga akan selamat. Tapi bila mereka membiarkannya, maka dia akan celaka dan semua penumpang lain akan celaka” Kemudian Nabi menegaskan sabdanya : “Siapa diantara kamu melibatkan kemungkaran, hendaklah mencegah dengan tangannya. Jika tidak punya kekuatan dengan tangan, maka cegahlah dengan lidahnya (teguran atau nasihat). Jika tidak sangup demikian (lantaran serba lemah), maka hendaklah dia mencegahnya dengan hatinya. Hal itu selemah-lemahnya iman”

Jadi, yang penting dilakukan dalam rangka amar ma’ruf nahii munkar ini adalah menentukan strategi menghadapi, melawan dan memberantas kemunkaran itu. Disini berbicara kearifan, kesabaran, ketegasan dan penggunaan akal secara maksimal, kemudian memformulasikan menjadi suatu action yang kongkrit.

Jangan sampai kita bersikap dan bertindak konyol sehingga langkah kita memberantas kemungkaran ini terhenti dengan kita sendiri sebagai pecundangnya. Kiat Nabi Muhammad saw menghadapi kemungkaran telah jelas: Pertama, dengan power kalau kita memilikinya dan kedua ; dengan kata-kata kalau kita tidak punya punya power.

Marilah kita mulai mencari dan melihat kemungkaran disekitar kita (baca lampiran: “Kemungkaran di sekeliling kita”) dengan lebih peduli dan membuang jauh-jauh sikap EGP. Kemungkaran yang ada disekeliling kita tidak lain adalah ujian buat kita apakah kita mau mengikuti aturan main sebagaimana dititahkan Allah dalam Al-Qur’an tanpa reserve atau keraguan sedikitpun jua. Dengan sikap sedemikian pada setiap muslim Indonesia, insya Allah kita semua bisa bangkit dari “Jaman jahiliyah masa kini” yang telah menyengsarakan kita semua. Amien Ya Robbal’alamiin.

Bagimana pendapat Anda?

Kepustakaan: Al-Qur’an, Hadist Buchari – Muslim, Hikmah Harian Republika, 1999
Filename: THINK08-EeGePe – Re-edited 24 Agustus 2009, Ramadhan 1430H, Copyright © Mimuk Bambang Irawan


No comments:

Post a Comment