Saturday, April 18, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 8 – AL ANFAL AYAT 27 – 28 DAN SURAH 9 AT TAUBAH AYAT 102

TURUNNYA SURAH 8 – AL ANFAL AYAT 27 - 28 DAN SURAH 9 AT TAUBAH AYAT 102

Kisah Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir RA, karena berbuat salah, menghukum dirinya sendiri sehingga Allah menerima taubatnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. ~ QS 8 – Al  ‘Anfaal : Ayat 27 dan 28 ~

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ~ QS 9 – Al  At Taubah : Ayat 102 ~

Abu Lubabah adalah seorang pahlawan suku Aus di Yatsrib yang banyak memenangi peperangan. Ketika suatu hari ia sedang berjalan menyusuri kota, ia melihat banyak orang berkumpul di rumah As’ad sedang mendengarkan ceramah dari seorang utusan Muhammad, yaitu Mus’ad ibn Umair yang mengajak manusia menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Allah berkehendak membuka hatinya dan seketika itu juga, ia menyatakan keislamannya.

Ketika akan terjadi Perang Badar, ia tidak ikut berperang karena Rasulullah memberi tugas yang sama beratnya, yaitu meminta dia melindungi dan menjaga penduduk Madinah selama perang berlangsung.

Setelah terjadi perang Uhud, ia menikah kembali dengan Khansa ibn Khadzam, janda seorang sahabat yang syahid bernama Anis ibn Qotadah. Sebetulnya Al Khadzam, ayah Khansa berniat menikahkannya dengan laki-laki pilihannya, namun Khansa menolaknya karena tidak kenal dengannya dan dia mengadu kepada Rasulullah.

Rasulullah ingin menegakkan ketentuan syari’at bahwa seorang janda dapat menikah dengan laki-laki pilihannya tanpa harus bermusyawarah dulu dengan ayahnya. Akhirnya Khanza memilih Abu Lubabah menjadi suaminya.

Suatu hari Rasulullah berniat membersihkan dan mensucikan Madinah dari para penghianat Yahudi, terutama Bani Quraizhah yang telah menghianati perjanjian dengan kaum Muslim.

Kaum Muslim mengurung kampung Bani Quraizhah dan melarang penghuninya keluar selama 25 hari. Bani Quraizhah adalah sekutu suku Aus dan tahu bahwa Abu Lubabah adalah suku Aus. Mereka meminta Rasulullah untuk mengutus Abu Lubabah untuk memutuskan perkara mereka dan memberi nasihat mereka.

Dalam posisi yang terjepit Abu Lubabah bukannya memberi nasihat malah ikut larut dalam kesedihan para wanita Bani Quraizhah dan tidak menasihatinya.

Allah mengetahui apa yang dihadapi dan dikatakan Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah, sehingga menurunkan ayat:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa takhuunullaaha warrasuula wa takhuunuu amaanaatikum wa antum ta’lamuun. Wa’lamuu annamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah. Wa annallaaha ‘indahuu ajrun ‘adhiim”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. ~ QS 8 – Al  ‘Anfaal : Ayat 27 dan 28 ~

Abu Lubabah sadar bahwa ia telah terpeleset dan ia tahu bahwa ayat itu ditujukan kepadanya. Untuk menebus dosanya ia bertobat kepada Allah dan mengikat dirinya pada salah satu tiang Masjid hingga Allah mengampuninya dan hanya dibuka isterinya pada saat sholat saja. Hal ini dilakukan selama 6 hari, sehingga Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah:

“Wa aakharuuna’tarafuu bidzunuubihim khalathuu ‘amalan shaalihawwa aakhara sayyi aa. ‘asallaahu ayyatuuba ‘alaihim. Innallaaha ghafuururrahiim”.

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ~ QS 9 – Al  At Taubah : Ayat 102 ~

Rasulullah mengabarkan ayat itu kepada Abu Lubabah seraya membuka ikatannya. Alangkah bahagianya Abu Lubabah karena Allah Subhanahu wa ta’ala menerima taubatnya.

Sepanjang hidupnya ia selalu mendampingi Rasulullah kemanapun beliau pergi dengan tekad berjuang mempertahankan agama Islam dan meraih ridho Allah.
Abu Lubabah wafat pada saat kekhalifahan Utsman ibn Affan, semoga Allah meridhoinya.

Bekasi, 25 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 16 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Anfal (8) - Ayat 27 dan 28 serta At Taubah (9) - Ayat 102 - Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir RA, karena berbuat salah, menghukum dirinya sendiri sehingga Allah menerima taubatnya.

3 comments:

  1. Luar biasa...yg ginian kok ga da koment.?giliran gosip pasti rame yg koment.tq

    ReplyDelete
  2. Luar biasa...yg ginian kok ga da koment.?giliran gosip pasti rame yg koment.tq

    ReplyDelete
  3. Tercerahkan,.. Alhamdulillah syukron kasir

    ReplyDelete