Sunday, April 12, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

TURUNNYA SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

Kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil yang dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.
~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Al Lahab nama sesungguhnya adalah Abdul Uzza ibn Abdul Muthalib. Uzza adalah nama sebuah berhala yang disembah-sembah pada masa Jahiliyah. Karena wajahnya teramat putih, maka ia dikenal dengan panggilan Abu Lahab. Abu Lahab adalah saudara seayah dengan ayah Rasulullah, Abdullah jadi dia adalah paman Rasulullah. Sosoknya tinggi tegap yang berhati keras, kasar, tegas, bengis, peminum khamar dan gampang marah dengan suaranya yang nyaring.

Ketika diberitahu budaknya yang bernama Tsuwaibah bahwa kakak iparnya Aminah (ibunda Muhammad Rasulullah) melahirkan, dia sekonyong-konyong berkata kepada Tsuwaibah: “Wahai Tsuwaibah, engkau pergilah dan mulai sekarang engkau merdeka”. Ini mungkin kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, karena setelah merdeka Tsuwaibah termasuk salah seorang yang menyusui Muhammad.

Abu Lahab termasuk orang yang sangat menghormati dan memuja berhala sekitar Ka’bah. Di sisi lain sebetulnya Abu Lahab sangat menyukai karakter Muhammad keponakannya yang jujur, amanah dan sangat bijaksana juga isterinya Khadijah adalah wanita yang baik.

Untuk itulah maka ia menjodohkan putera-puteranya yaitu Utbah dan Mu’tb dengan puteri-puteri Muhammad yaitu Rukayyah dan Ummu Kultsum. Begitulah Allah berkehendak untuk mempererat kekerabatan diantara keduanya.

Namun ketika Allah mengangkat Muhammad sebagai utusanNya yang menyeru manusia untuk menyembah kepadaNya dan berhenti menyembah berhala, inilah yang menjadi titik awal terjadinya permusuhan antara Muhammad dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil.

Rasulullah dengan dukungan Shafiyah bint Abdul Muthalib bibinya, mulai berda’wah dengan mengumpulkan saudara-saudara dan kerabatnya untuk mendengarkan seruannya.

Ketika pada akhir da’wah beliau bertanya kepada saudara-saudara dan kerabatnya: “Siapakah diantara saudara-saudaraku yang mendukungku dan menyebarkan da’wah ini...?”.

Paman Rasulullah, Abu Tholib yang sangat menyayangi Rasulullah angkat suara: “Laksanakan apa yang Allah perintahkan kepadamu Muhammad... Aku akan selalu mendukung dan menjagamu, namun aku tidak bisa meninggalkan agama Abdul Muthalib”. Sepupunya Ali ibn Abu Tholib juga mendukungnya: “Aku akan selalu membantumu... Aku akan memerangi siapa saja yang memerangimu...”.

Pada saat Rasulullah mulai berda’wah secara terbuka dan berseru diatas bukit Shafa banyak penduduk Mekkah yang percaya, mendukung dan mengikuti ajaran Muhammad, karena mereka tahu persis kejujuran dan kebijaksanaan Muhammad. Namun ada pula yang menolaknya, apalagi setelah mendengar teriakan Abu Lahab: “Celakalah engkau wahai Muhammad...!!, untuk inikah engkau mengumpulkan kami...”.

Sejak hari itu terompet permusuhan antara kaum Quraisy dan Rasulullah mulai ditiup kencang. Terutama permusuhan antara Rasulullah dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil mulai menyala. Perjodohan anak-anaknya diputuskan, namun anak-anak Abu Lahab kelak masuk Islam.

Abu Lahab beserta isterinya sering sekali menyakiti Rasulullah dengan cara menghina, melemparkan kotoran kehadapan beliau, mencaci maki beliau. Hingga Allah menurunkan ayat sebagai berikut:

“Tabbat yadaa abii lahabiw watabb. Maa aghnaa ‘anhumaa luhuu wa maa kasab. Sayashlaa naa ranzaatalahabbiw wamra atuhuu hammaa latal hatab. Fii jiidihaa hablum mim masad”

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.  ~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab karena badannya sudah tidak kuat lagi tidak ikut berperang. Namun bersama para pemimpin Quraisy yang tidak ikut berperang, menyokong perbekalan dan kuda-kuda yang baik untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya. Untuk ini Allah menurunkan ayat:

“Innalladziina kafaruu yunfiquuna amwaalahum liyashudduu ‘an sabiilillaah. Fasayunfiquu nahaa tsumma takuunu ‘alaihimhasratan tsumma yughlabuun. Walladziina kafaruu ilaa jahannama yuhsyaruun”.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. ~ QS 8 – Al ‘Anfaal : 36 ~

Melihat kekalahan kaumnya dan banyak kaum Quraisy yang terluka serta terbunuh, Abu Lahab semakin geram dan sangat sedih. Kesedihannya yang mendalam ini menimbulkan bisul yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Orang-orang tidak berani mendekatinya karena takut ketularan. Bahkan kedua anaknya-pun meninggalkannya dan ikut kaum Muslim.

Begitu pula saat Abu Lahab meninggal tidak ada seorangpun yang mau mengurusnya karena takut tertular penyakitnya. Selama 3 hari mayatnya dibiarkan membusuk dan mereka seret ke pemakaman, membiarkannya tanpa dimasukkan ke liang lahat serta melemparinya dengan batu dan pasir sehingga mayatnya tertimbun.

Begitu akhir kehidupan Abu Lahab, musuh Allah dan RasulNya.

Bekasi, 24 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 15 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : Al Lahab (111) - Ayat 1-5 - Abu Lahab dan Ummu Jamil ditetapkan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.

No comments:

Post a Comment