Tuesday, April 28, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 60 – AL MUMTAHANAH AYAT 6 - 7

TURUNNYA SURAH 60 - AL MUMTAHANAH AYAT 6 - 7

Kisah Ramlah bint Abu Sufyan ra. – Seruan untuk mencintai musuh.

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ~ QS 60 – Al Mumtahanah : Ayat 6 dan 7 ~

Kota Mekkah adalah kota yang dirahmati Allah, disana ada rumah Allah yang setiap hari dikelilingi orang bertawaf, setiap tahun dikunjungi orang berhaji sehingga aktivitas perniagaan di Kota Mekkah maju pesat.

Disana banyak orang-orang kaya raya, salah satunya adalah Abu Sufyan ibn Harb. Dia orang yang sangat membenci Islam dan Bani Hasyim karena mereka yang menampuk kepemimpinan di Mekkah. Abu Sufyan mempunyai seorang anak wanita yang cantik bernama Ramlah. Meskipun ayahnya kaya tidak menjadikan Ramlah wanita yang sombong. Bicaranya tetap lembut, santun, dan murah hati. Ramlah menikah dengan seorang pemuda bernama Ubaidillah ibn Yahsy.

Ketika cahaya Islam mulai memancar di Mekkah, Ubaidillah termasuk diantara orang yang pertama masuk Islam, namun keislamannya dia sembunyikan dihadapan mertuanya Abu Sufyan bahkan di hadapan Ramlah isterinya sendiri.

Suatu hari ketika dia secara diam-diam membaca ayat Al Qur’an, terdengar oleh isterinya dan menanyakannya. Setelah dijelaskan bahwa itu adalah ayat Al Qur’an, hidayah keimanan menyentuh hati Ramlah dan saat itu pula ia menyatakan keislamannya.

Mendengar anaknya masuk Islam, Abu Sufyan sangat marah dan menuduh Ubaidillah yang mempengaruhi Ramlah untuk meninggalkan agama leluhurnya. Mereka dihina, dicaci dan dianiaya sehingga atas petunjuk Rasulullah, keluarga Ubaidillah disuruh hijrah ke Abissinia bersama Muslim lainnya.

Penguasa Abissinia saat itu adalah Raja Najasyi. Meskipun dia beragama Nasrani namun Raja Najasyi melindungi kaum muslim yang berhijrah dan menolak permintaan kaum kafir untuk mengembalikannya.

Ramlah beserta suaminya Ubaidillah hidup bahagia disana hingga keduanya dianugerahi anak perempuan yang bernama Habibah dan Ramlah dipanggil Ummu Habibah.

Pada suatu hari Ramlah bermimpi melihat suaminya Ubaidillah berjalan ke arahnya dengan wajah hitam dan dahi yang terluka.

Ternyata mimpi buruk atas suaminya menjadi kenyataan. Ubaidillah diam-diam menjadi seorang pecandu khomar, sering meninggalkan kewajiban agama dan puncaknya ketika ia mabuk keluarlah kata-kata diluar kesadarannya bahwa dia telah berpindah keyakinan menjadi penganut Nasrani agama Raja Najasyi.

Mendengar pernyataan suaminya itu, dunia seakan-akan telah menyempit. Ia tidak mungkin kembali ke Mekkah menemui ayahnya yang telah mengusirnya. Rumahnya sendiri telah dijual ayahnya dan kini ia merasa sendirian tidak punya lagi tempat berlindung. Didalam kesedihannya ia berharap dan memohon kepada Allah rahmat dan kebaikan bagi dirinya.

Allah mendengar dan mengabulkan permohonan Ramlah. Ubaidillah jatuh sakit dan ditengah deraan penyakitnya ia bersikukuh pada agama barunya, Nasrani. Akhirnya ia mati dalam dekapan keyakinan barunya.

Didalam kesendiriannya, sekarang ia dapat menentukan jalan untuk menghidupi dirinya bersama puterinya dan bertekad untuk kembali ke Mekkah atau mungkin ikut hijrah ke Yatsrib.

Suatu malam didalam tidurnya ia melihat seberkas cahaya memancar dari sebelah kanan dan mendengar suara menyerunya: “Wahai Ummul Mu’minin...”. Ramlah terbangun kaget dan mencoba mengingat kembali suara yang didengarnya: “Wahai Ummul Mu’minin...!!”

Menjelang pagi, terdengar ada yang mengetuk rumahnya. Ketika dia membuka pintu, dihadapannya berdiri Abrahah seorang budak milik Raja Najasyi dengan wajah yang menampakkan keceriaan dan kebahagiaan berkata: “Nyonya..., Nabimu mengutus seseorang kepada raja kami untuk meminangmu. Maka tunjuklah wakil untuk menikahkanmu dengannya”. Terngiang kembali seruan yang terdengar dalam mimpinya: “Wahai Ummul Mu’minin...!!”. Dia akan menjadi isteri Rasulullah....?

Raja Najasyi mengundang sebagian besar kaum Muhajirin yang dipimpin oleh Jafar ibn Abu Thalib dan Khalid ibn Said ke Istananya. Raja berkata kepada mereka dengan wajah yang cerah ceria: “Sesungguhnya Muhammad ibn Abdullah nabi kalian, mengirimkan surat melalui seorang utusan, ia memintaku untuk menikahkannya dengan Ramlah, Ummu Habibah. Ia memberikan mas kawin 400 dirham. Siapakah diantara kalian yang paling layak mewakili Ramlah...?.

Mereka serempak telah menunjuk Khalid ibn Said yang akan mewakilinya. Pernikahan ini disebut Akad Qiran. Raja Najasyi sendiri menghadiahkan perkawinan berupa pakaian, minyak wangi, permadani dan barang-barang lainnya sebagai penghormatan.

Tak lama setelah pernikahan, Rasulullah mengutus orang untuk menjemput Ramlah beserta seluruh Muhajirin untuk hijrah ke Madinah. Ketika bertemu dengan Rasulullah, Ramlah teringat akan hadiah dari Raja Najasyi, ia bertanya kepada Rasulullah: “Apakah boleh dia menerima dan memakai hadiah dari orang Non Muslim...?”.

Rasulullah sendiri belum bisa memutuskan dan menunggu ketetapan Allah. Maka Allah menghibur keduanya dengan menurunkan ayat berikut:

“Laqad kaana lakum fiihim uswatul liman kaana yarjullaaha walyaumal akhir wa mayyatawalla fainnallaaha huwal ghaniyyul hamiid. ‘Asallaahu ayyaj’ala bainakum wa bainalladziina ‘aadaitum minhum mawaddah. Wallaahu ghafuururrahiim”.

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  ~ QS 60 – Al Mumtahanah : Ayat 6 dan 7 ~

Demikianlah Allah memperkenankan Ramlah untuk menerima hadiah dari Raja Najasyi.

Ketika terjadi gencatan senjata untuk tidak saling menyerang antara Kaum Muslim dengan Kaum Quraisy, Abu Sufyan datang ke Madinah menjenguk Ramlah dan Rasulullah sekaligus meminta bantuan.

Ketika bertemu dengan Ramlah, bukannya bantuan yang didapat tapi Ramlah meminta ayahnya segera berpindah keyakinan ke agama Islam. Akhirnya Abu Sufyan pulang ke Mekkah dengan tangan hampa.

Demikian Ramlah atau Ummu Habibah hidup berbahagia mendampingi Rasulullah bersama para isteri yang lain, hingga dia wafat dan dimakamkan di Baqi. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ramlah Ummu Habibah sesuai derita dan nestapa yang dijalaninya penuh kesabaran hingga Allah menggantikannya dengan menjadi salah seorang isteri Rasulullah.

Bekasi, 5 Jumadil Akhir 1436 Hijriyah atau 26 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema :  Al Mumtahanah (60) – Ayat 6 dan 7 tentang Ramlah bint Abu Sufyan ra. – Seruan untuk mencintai musuh.

No comments:

Post a Comment