Wednesday, April 22, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 104 – AL HUMAZAH AYAT 1-9 DAN SURAH 109 AL KAAFIRUUN AYAT 1-6

TURUNNYA SURAH 104 – AL HUMAZAH AYAT 1-9 DAN SURAH 109 AL KAAFIRUUN AYAT 1-6

Kisah Umayyah ibn Khalaf – Kafir yang dibunuh budaknya sendiri.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak...! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu...? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang” ~ QS 104 – Al Humazah : Ayat 1-9 ~

Masih ingat dengan nama Umayyah ibn Khalaf...? Dia adalah pemilik seorang budak bernama Bilal. Umayyah ibn Khalaf adalah seorang pedagang yang kaya raya. Harta kekayaannya itu ditumpuk di rumahnya dan ia percaya bahwa ini berkat patung-patung berhala yang disembahnya di sekitar Ka’bah. Untuk itu dia rajin membersihkan semua berhala di sekitar Ka’bah dan banyak mendapat hadiah dari pemiliknya pula.

Ketika Islam yang diserukan Muhammad mulai bercahaya di Mekkah, ia yang paling gencar menentangnya karena seruan Muhammad itu mengancam keberadaan tuhan-tuhannya. Bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy lainnya seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, menghimpun kekuatan untuk menentang da’wah Muhammad.

Ketika mendengar budaknya yaitu Bilal ibn Rabah mengikuti ajaran Muhammad, maka bersama adiknya Ubay ibn Khalaf, melampiaskan kekesalannya dengan menyiksa Bilal, hingga Abu Bakar Al Shiddiq membelinya dan memerdekakan Bilal.

Pada saat Rasulullah berkumpul dengan para pengikutnya, dia tidak henti-hentinya mengumpat dan mencelanya: “Mengapa Al Qur’an diturunkan hanya kepada Muhammad, padahal kami sebagai pemimpin-pemimpin Mekkah merasa lebih berhak daripada Muhammad...?

-Para pengikut Muhammad adalah orang-orang rendahan, budak yang bodoh sehingga mengikuti ajarannya karena kebodohannya.

-Muhammad adalah penyihir yang mahir dan syair-syair yang dibuatnya dikatakan sebagai ayat Al Qur’an dari Tuhannya.

-Muhammad berkisah tentang orang yang sudah mati bisa hidup kembali, sedangkan mereka telah menjadi tulang belulang...?

-Adapun surga bagi orang-orang yang mengikuti ajarannya dan neraka bagi yang menentangnya, itu hanyalah kebohongan dan khayalannya belaka”.
Itulah berbagai umpatan uang dilemparkan Umayyah kepada Rasulullah dan pengikutnya.

Untuk menenangkan dan menghibur Rasulullah, Allah menurunkan Surah Al Humazah:

“Wailullikulli humazatillumazah. Alladzii jama’amaa lawwa’addadah. Yahsabu annamaa lahuu akhladah. Kallaa layumbadzanna fil huthamah. Wamaa adraakamal huthamah. Naarullaahil muuqadah. Allatii taththali’u ‘alal afidah. Innahaa ‘alaihim mu’shadah. Fii ‘amadim mumaddadah”.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak...! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu...? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang” ~ QS 104 – Al Humazah : Ayat 1-9 ~

Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menegaskan bahwa Dia mengetahui kedengkian dan kejahatan mereka dan apa yang diucapkannya. Tidak lama setelah ayat-ayat itu turun, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan ayat sebagai berikut:

“Innaa kafainaakal mustahzi iin. Alladziina yaj’aluuna ma’allaahi ilaahan aakhar. Fasaufa ya’lamuun.”

Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”. ~ QS 15 – Al Hijr : Ayat 95 dan 96 ~

Karena berputus asa, maka kaum kafir yang dipimpin Umayyah bin Khalaf mengajak menawarkan usul kepada Rasulullah sebagai berikut: “Wahai Muhammad...!!! kami siap menyembah Tuhanmu, asalkan kamu juga menyembah Tuhan kami... Begini saja, setahun kami menyembah Tuhanmu dan tahun berikutnya kamu menyembah Tuhan kami...!!!”.

Sebagai jawaban, pada saat itu pula Allah menurunkan Surah Al Kafirun:

“Qulyaa ayyuhal kaafiruun. Laa a’budumaa ta’buduun. Walaa antum ‘aabiduunamaa a’bud. Walaa ana ‘aabidummaa ‘abattum. Walaa antum ‘aabiduunamaa a’bud. Lakum diinukum waliyadiin”.

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. ~ QS 109 – Al Kafirun : Ayat 1-6 ~

Saat orang-orang kafir akan menyerang kaum Muslim di Yatsrib, mereka mengajak Umayyah untuk memimpinnya, namun nampak sifat pengecutnya dengan alasan sudah tua dia menolak, padahal sebetulnya dia takut mati di medan perang. Setelah dihina kaumnya dengan disodori ulekan dan sisir yang menggambarkan pekerjaan wanita. Umayyah benar-benar merasa terhina kemudian dia ikut perang Badar.

Saat perang Badar itu Bilal bekas budak Umayyah yang kenyang akan siksaan Umayyah melihatnya, dia menyodori Umayyah sebilah pedang dan menantang duel. Umayyah terluka terkena sabetan pedang Bilal tapi kabur meninggalkan medan perang, akhirnya ia mati di perjalanan.

Bekasi, 27 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 18 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Surah 104 Al Humazah - Ayat 1-9 dan Surah 109 Al Kaafiruun Ayat 1-6 tentang Umayyah ibn Khalaf – Kafir yang dibunuh budaknya sendiri.


No comments:

Post a Comment