Showing posts with label asbabun nuzul. Show all posts
Showing posts with label asbabun nuzul. Show all posts

Friday, August 14, 2015

ASBABUN NUZUL KE-39 - TURUNNYA SURAH 4 – AN NISAA AYAT 11

ASBABUN NUZUL KE-39
TURUNNYA SURAH 4  – AN NISAA AYAT 11
Kisah Umrah bint Hazm, istri Sa'd ibn Al Rabi R.A - Ketetapan tentang Hak Waris

Sa'd ibn Al Rabi adalah pemuda kota Yatsrib dari Bani Khazraj yang tidak setuju dengan kebiasaan ayahnya beserta para penduduk Yatsrib untuk menyembah berhala-berhala dari batu atau kayu serta kadang-kadang mereka mengelilinginya seperti layaknya tawaf di Ka'bah. 
Dalam pikirannya berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Namun sejauh ini dia hanya bisa merenung memikirkan sebetulnya siapa Tuhan sebenarnya yang telah menciptakan alam semesta dengan seluruh isinya itu.
Ketika mendengar desas-desus adanya agama baru di Mekkah dia segera menemui orang-orang yang telah dibai'at Aqobah dan mencari tahu perkembangannya.
Pada musim haji, Sa'd ikut bergabung dengan 70 orang penduduk Yatsrib yang berangkat ke Mekkah dengan maksud menemui Muhammad di Aqobah. 
Disana dia ikut dibai'at oleh Rasulullah dan berjanji akan melindungi beliau serta membantu menyebarkan agama Islam di Yatsrib.
Ketika Rasulullah hijrah ke Yatsrib, Sa'd termasuk orang yang taat mengikuti ajaran Rasulullah dan aktif menyebarkan agama Islam.
Dia juga ikut berperang melawan kaum Quraisy yang menyerang orang-orang Muhajirin di Yatsrib.
Pada saat perang Uhud dimana pihak musuh berbalik menyerang pasukan Muslim karena pasukan pemanah melalaikan perintah Rasulullah, Sa'd adalah seorang dari pelindung Rasulullah yang bertekad lebih baik dia yang mati daripada Rosulullah terbunuh. 
Sa'd terluka parah hingga jasadnya sulit dikenali sampai Rasulullah memerintahkan orang untuk menelitinya. Sa'd mati syahid bersama paman Rasulullah Hamzah ibn Abdul Muthalib.
Setelah kematian Sa'd, Umrah bint Hazm istri Sa'd menemui Rasulullah untuk mengadu, bahwa sepeninggal suaminya dia masih mempunyai 2 anak perempuan yang memerlukan biaya untuk hidup dan menikah, sementara semua harta peninggalan Sa'd telah diambil paman-pamannya.
Rasulullah merasa iba mendengar pengaduan ini, namun beliau belum memiliki petunjuk akan ketetapan harta warisan. 
Allah Subhanahu wa ta’ala segera menyuruh Jibril untuk menurunkan ayat ini : 
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". ~ QS 4 - An-Nisā' : 11 ~
Setelah mendapatkan ayat ini, Rasulullah segera menemui adik-adik Sa'd dan memerintahkan untuk segera mengembalikan 2/3 bagian harta warisan Sa'd kepada kedua anak perempuannya.
Demikian Al Qur'an dengan perantaraan istri dan anak Sa'd membuat ketentuan hukum waris yang berlaku sepanjang masa. Subhanallah...
Bekasi, 8 Agustus 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Nisaa ayat 11 – Kisah Umrah bint Hazm, istri Sa'd ibn Al Rabi R.A - Ketetapan tentang Hak Waris.

Friday, July 31, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 98 – AL BAYINNAH AYAT 1 – 8

ASBABUN NUZUL KE-36 - TURUNNYA SURAH 98 – AL BAYINNAH AYAT 1 – 8
Kisah Ubay ibn Ka'b RA - Salah seorang Sumber Ilmu dan Kebijaksanaan.

Ubay ibn Ka'b adalah penduduk Yatsrib yang sangat cerdas, gemar membaca dan pandai menulis. Saat kedatangan Mush'ab ibn Umar yang diutus Rosulullah untuk mengajarkan agama Islam kepada penduduk Yatsrib, ia langsung bergabung dan menyatakan keislamannya, ikut dibai'at di Aqobah dan ikut menyambut Rosulullah ketika beliau hijrah ke Yatsrib.
Karena kepandaiannya menulis, Ubay dipilih Rosulullah sebagai salah seorang pencatat dan penulis ayat Al Qur'an yang diwahyukan Allah kepada RosulNya. Dia juga senantiasa berada disamping Rasulullah ketika beliau berada di majlis ilmu atau masjid.
Karena perannya itu , suatu hari Rasulullah bersabda : "Wahai Ubay, Jibril menyuruhku untuk membacakan ayat Al Qur'an kepadamu".
Dengan takjub Ubay menjawab : "Allah menyebutkan namaku kepadamu..?". 
"Ya... Dia menisbahkanmu kepada malaikat tertinggi".
Lalu Rasulullah menyampaikan ayat Al Qur'an kepada Ubay untuk dicatatnya : 
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ / رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً / فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ / وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ / وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ / إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ / إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ / جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ 

"Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,  (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.
Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ´Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya".
(QS 98 -  Al-Bayyinaħ : 1-8)
Ubay menangis terharu dan bahagia saat mendengarkan wahyu yang disampaikan Rasulullah kepadanya untuk dicatat. Dia merasa bangga atas keutamaan yang diberikan Allah melebihi sahabat lainnya.
Sepeninggal Rasulullah, Ubay tetap setia kepada Khalifah Abu Bakar dan sering diminta untuk berceramah serta membari nasihat.
Dia juga mengusulkan agar ayat-ayat Al Qur'an yang ditulis pada tulang, kulit dan pelepah kurma dikumpulkan dan dibuat mushaf Al Qur'an. Namun pembuatan mushaf Al Qur'an ini baru terlaksana pada saat kekhalifahan Utsman ibn Affan.
Ubay ibn Ka'b meninggal saat kekhalifahan Umar ibn Al Khathab.
Semoga Allah merahmati Ubay yang sangat bejasa dengan catatan-catatan ayat Al Qur'annya.
Bekasi, 31 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : Al Bayinnah [98] : 1-8 - Kisah Ubay ibn Ka'b RA - Salah seorang Sumber Ilmu dan Kebijaksanaan.

ASBABUN NUZUL SURAH 4 – AN NISAA AYAT 51 - 52

ASBABUN NUZUL KE-35 - TURUNNYA SURAH 4 – AN NISAA AYAT 51 - 52
Kisah Ka'b ibn Al Asyraf - Si Pendengki Pemimpin Kaum Yahudi

Kaum Yahudi terkenal sebagai kaum pengecut, licik, pembuat makar, pembuat tipudaya dan pembangkang bahkan kepada Nabi-nya sendiri.
"Dan mereka membunuh nabi-nabi mereka tanpa hak dan mereka berkata, hati kami telah ditutup" (QS 4 – An Nisaa : 155).
Akibat dikejar-kejar Fir'aun, mereka berpencar dan ada yang berimigrasi ke Yatsrib. Di Yatsrib mereka mendominasi kekuatan ekonomi, menguasai lahan pertanian, perkebunan dan perdagangan yang dipimpin Ka'b ibn Al Asyraf dari Bani Al Nadhir, Akibatnya penduduk Yatsrib hanya menjadi buruh, kuli dan pekerja mereka.
Ketika Islam mulai masuk kota Yatsrib, kaum Yahudi berusaha memusuhi kaum Muslim. Mereka seringkali melakukan keburukan kepada Islam, meskipun mereka sesungguhnya mengetahui dan menyadari dalam Kitab Taurat menyatakan bahwa kelak akan datang nabi baru yang membawa ajaran dari langit sama dengan ajaran Yahudi serta ajarannya adalah benar.
Kaum Yahudi mengetahui bahwa kaum Quraisy Mekkah memusuhi Islam. Mereka mengharapkan kaum Quraisy dapat mengalahkan Islam, sehingga mereka mendapat keuntungan menguasai lagi ekonomi dan politik di Madinah serta keberadaannya tidak terdesak. 
Tapi alangkah kecewanya karena setiap terjadi peperangan antara kaum Muslim dan Quraisy selalu dimenangkan kaum Muslim. Alih-alih sadar, malah mereka mendekati kaum Quraisy. Mereka datang ke Mekkah menemui salah seorang pemimpin Quraisy yang membenci Islam, yaitu Abu Sufyan ibn Harb.
Tentu saja Abu Sufyan terkejut ketika Ka'b ibn Al Asyraf bersama 70 orang kawannya datang ke Mekkah dan menceritakan kebenciannya pada kaum Muslim. 
Abu Sufyan tahu bahwa kaum Yahudi adalah kaum Akhli Kitab yang sama dengan Islam diturunkan Allah, berbeda dengan kaum Quraisy yang menganut Paganisme atau menyembah berhala.
Terdorong oleh kebencian dan kedengkiannya terhadap Muhammad, Ka'b secara mengejutkan menyatakan kepada Abu Sufyan bahwa agama kaum Quraisy yaitu menyembah berhala lebih baik daripada kaum Muhammad.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui apa yang dilakukan Ka'b, Dia mengabarkan kepada RosulNya dengan mewahyukan ayat :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلً / أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya". (QS 4 -  An Nisaa : 51-52)
Rosulullah sangat marah mendengar pernyataan Ka'b. Beliau menganggap Ka'b telah berbuat kejahatan yang keji kepada kaum Muslim sehingga atas nama Allah layak untuk dibunuh.
Beliau menawarkan siapa yang sanggup membunuh Ka'b. Beberapa sahabat menyanggupinya.
Mulailah para sahabat berembug untuk menjebak Ka'b melalui saudara sesusuan Ka'b yaitu Salikan dengan dalih ia bersama kawan-kawan Arab ingin keluar dari Islam karena menderita dan kesulitan makanan. Ia mengajak Ka'b untuk bekerjasama dan membantunya dengan jaminan beberapa senjata.
Hingga waktu yang ditentukan, Salikan berhasil membawa Ka'b keluar dari benteng pertahanan Bani Al Nadhir untuk mengambil senjata yang dijaminkan Salikan.
Diperjalanan inilah para sahabat berhasil membunuh Ka'b si pendengki dan penghina Islam.
Bekasi, 31 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : An Nisaa [4] Ayat 51-52 – Kisah Ka'b ibn Al Asyraf - Si Pendengki Pemimpin Kaum Yahudi

ASBABUN NUZUL KE-34

TURUNNYA SURAH 76 – AL INSAAN AYAT  7 - 12
Kisah Fathimah Al Zahra dan Ali ibn Abi Thalib RA - Menunaikan nazar dan mementingkan orang lain

Fathimah Al Zahra adalah putri Rasulullah dari Sayyidah Khadijah bint Khuwailid, ia dilahirkan 5 tahun sebelum bi'tsah (Muhammad diangkat sebagai Rasul Allah). 
Sejak ditinggal wafat ibunya, dialah yang melindungi Rasulullah dari siksaan kaum Quraisy.
Fathimah menikah dengan Ali ibn Abi Thalib sepupunya. Dari hasil perkawinannya, Fathimah melahirkan dua anak laki-laki bernama Al Hasan dan Al Husain serta dua anak perempuan yang bernama Zainab dan Ummu Kaltsum.
Suatu hari Al Hasan dan Al Husain jatuh sakit dan setelah sekian lama keduanya belum sembuh juga, Rasulullah datang menjenguknya sambil mendo'akan agar kedua cucunya segera pulih kembali. Menghadapi suasana seperti itu, Ali dan Fathimah bernazar apabila kedua putranya sembuh maka mereka akan berpuasa selama 3 hari berturut-turut.
Allah Subhanahu wa ta’ala mendengar do'a RasulNya dan kedua orang tua Al Hasan dan Al Husain. Dia mengulurkan tangan kesembuhan dengan mengusap tubuh kedua anak itu, atas ijinNya kedua anak itu sembuh dan lincah kembali.
Ali dan Fathimah mulai menjalankan puasanya. Allah Subhanahu wa ta’ala ingin menguji kedua suami istri itu.
Saat itu di rumah Ali hanya ada 3 sha (kantong kecil) gandum.
Hari pertama Fidhah budak Fathimah menggunakan 1 sha gandum untuk dibuat roti.
Saat menunggu adzan Magrib datanglah seseorang yang mengaku kelaparan mengetuk pintu rumah Fathimah untuk minta makan. Ali segera memberikan roti yang dibuat Fidhah kepada orang itu.
Pada malam itu kedua suami istri itu hanya berbuka puasa dengan meneguk air saja.
Esok harinya Fidhah menggunakan 1 sha gandum lagi untuk membuat roti. 
Kembali kejadian berulang, saat keduanya sedang menunggu adzan Maghrib, datanglah seorang pemuda yang mengaku anak yatim dan saat ini belum makan.
Ali dan Fathimah spontan memberikan roti yang tadi dibuat Fidhah kepadanya. Tinggalah keduanya berbuka puasa kembali dengan banyak minum saja.
Pada hari ketiga, Fidhah menggunakan sisa gandum untuk membuat roti kembali.
Begitulah Allah berkehendak, menjelang Maghrib datanglah seseorang yang mengaku tawanan perang dan tidak diberi makan.
Ali dan Fathimah segera memberikan roti yang baru selesai dibuat kepadanya.
Rasa lapar mendera mereka, selama tiga hari mereka hanya berbuka dengan air putih saja. Mereka menyadari ini adalah ujian dari Allah yang teramat berat baginya.
Pada saat itu Rasulullah datang menjenguknya. Beliau trenyuh melihat tubuh mereka hampir terhempas dan tidak berdaya lagi. Lalu beliau memerintahkan orang-orang sekitarnya untuk mengambil beberapa potong makanan.
Selagi Rasulullah beristirahat dikamar Ali, tiba-tiba Jibril datang membawa wahyu untuk NabiNya :
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا / وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا / إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا / إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا / فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا / وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
"Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, (QS 76 – Al Insaan : 7-12)
Rasulullah memuji Tuhan dan berterima kasih kepada sang putri Fathimah, Ali dan Fidhah budaknya.  Mereka telah berbuat kebajikan, mementingkan orang lain yang membutuhkan daripada dirinya.
Bekasi, 31 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : Al Insaan  [76] Ayat 7-12 - Kisah Fathimah Al Zahra dan Ali ibn Abi Thalib RA - Menunaikan nazar dan mementingkan orang lain.

Sunday, July 19, 2015

ASBABUN NUZUL KE 32

TURUNNYA SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 25, SURAH 2 - AL BAQARAH AYAT 62

Kisah Salman Al Farisi - Ahlul Bait dari Luar Arab
Salman dilahirkan di kota Isgahan yang terletak disebelah barat Persia (sekarang Iran), antara Teheran dan Syiraz. Pada saat itu hampir seluruh rakyat Persia termasuk Salman dan keluarganya penganut agama Majusi, yaitu memuliakan dan menyembah Api. Bahkan ayah Salman termasuk Kepala Desa yang tentu saja selain memimpin urusan penduduk juga bertanggung jawab memelihara api suci yang tidak boleh padam.

Pada suatu hari terjadi hujan badai yang sangat lebat dan menyebabkan banjir, sehingga api suci yang mereka sembah mati. Muncul dalam pikiran Salman keraguan akan tuhan yang disembahnya... Tuhan macam apakah kalau kena air saja mati..??!!.
Dia meninggalkan rumah untuk mencari tuhan yang sebenarnya. Kemudian masuk gereja dan belajar agama Masehi yang dibawa Nabi Isa Almasih, namun dia kecewa karena pendeta yang dia anggap panutan, ternyata meng-korupsi sedekah yang diberikan para jamaah. Dia berpetualang dari gereja ke gereja di Persia, Irak hingga ke Syam, namun sekali lagi dia dikecewakan karena sifat dan perilaku pendetanya sama saja korupsi. Akhirnya dia ditunjukkan seorang pendeta yang sedang sekarat untuk pergi ketanah Hijaz menemui nabi baru seperti yang ditunjukkan dalam Kitab Taurat dan Injil dengan tanda-tanda : tidak pernah makan sedekah namun menerima hadiah dan dipundaknya ada tanda kenabian.
Salman berangkat mencari tanah Hijaz dengan cara mengikuti kafilah yang menuju Yatsrib, meskipun setelah tiba di Yatsrib dirinya malah dijual ke orang Yahudi yang memiliki kebun kurma. Disinilah Allah SWT mempertemukan Salman dengan Rosulullah saw. Setelah mengamati ketiga tanda kenabian dalam diri Muhammad, Salman akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Dia dimerdekakan si Yahudi dengan tebusan harus menanam 300 pohon kurma dan uang 40 uqiyah emas. Semuanya ini bisa dipenuhi atas bantuan saudara-saudara Muslim secara gotong royong.
Pada tahun ke 5 Hijriyah kaum kafir Quraisy bersekongkol dengan kaum Yahudi Madinah untuk menggempur Muslim Madinah dengan cara mengerahkan 12.000 pasukan Quraisy dari Mekkah menuju Madinah dan peran Kaum Yahudi Madinah menggempurnya dari dalam. Disinilah peran Salman Al Farisi terpatri dalam sejarah Islam, dia mengusulkan kepada Rasulullah untuk membuat parit mengitari gerbang Madinah sehingga musuh tidak bisa masuk Madinah dan membiarkannya kelaparan. Cara ini dilakukan meniru strategi pasukan Kisra Persia yang menghadang pasukan Romawi sehingga tidak bisa masuk Persia. Strategi ini betul-betul sangat efektif, Pasukan kaum kafir Quraisy tidak dapat masuk kota Madinah dan akhirnya kembali ke Mekkah karena dilanda rasa bosan, gelisah, putus asa setelah Allah SWT mengirimkan badai angin dan debu yang memporandakkan kemah dan bekal mereka. Peristiwa ini dicatat sebagai Perang Khandaq atau Perang Parit dan diabadikan Allah dalam ayat :
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
“Waraddallaahulladziina kafaruu bighaidhihim lam yanaaluu khairaa. Wakafallaahulmu’miniinal qital. Wa kaanallaahu qawiyyan ‘aziizaa”
"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa". ~ QS 33 - Al-'Azāb: Ayat 25 ~
Sejak menyatakan diri sebagai muslim, Salman Al Farisi telah bertekad akan senantiasa mendampingi Rasulullah, namun ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam dirinya. Dia pernah menjadi penyembah api, pernah menjadi pengikut agama Masehi. Dibenaknya terlintas pertanyaan bagaimana perbuatannya yang lalu dan bagaimana nasib keluarga serta kawan-kawannya di Persia yang masih menyembah api.
Rasulullah menegaskan bahwa keluarga dan kawan-kawannya akan masuk neraka. Alangkah sedihnya hati Salman dan dalam kesedihannya, Allah menghiburnya dengan menurunkan satu ayat Al Qur'an kepada Rasulnya : 
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Innalladziina aamanuu walladziina haaduu wannashaaraa washshaabi iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa ‘amila shaalihan falahum ajruhum ‘indarabbihim. Walaa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun”.
"Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".  ~ QS 2 - Al-Baqaraħ: Ayat 62 ~
Salman bertekad untuk bisa membebaskan saudara dan kawan-kawannya dari hukuman Allah, yaitu dengan cara menyebarkan Islam ke Persia.
Allah mengabulkan keinginam Salman, pada saat khalifah Umar, Persia dapat ditaklukan dan Salman diangkat menjadi Gubernur di Madain ibukota Persia. Mulai saat itu penduduk Persia menganut agama Islam.
Allah mentakdirkan Salman mengakhiri hidupnya di tanah kelahirannya Persia, pada kepemimpinan Utsman ibn Affan RA. Semoga Allah SWT merahmati Salman Al Farisi orang asing diluar Arab yang berjuang menemukan Tauhid dalam Islam.
Bekasi, 12 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema :   Al Ahzab (33) – Ayat 25 dan Al Baqarah (2) – Ayat 62 à  Salman Al Farisi - Ahlul Bait dari Luar Arab.

Saturday, July 18, 2015

ASBABUN NUZUL KE 31

TURUNNYA SURAH 4 – AN NISAA AYAT 105 – 111 DAN 115

Kisah Zaid ibn Al Samin ra – Yahudi yang dibebaskan oleh Al Qur’an.

Perang Uhud baru saja berakhir, Kaum Muslim sudah bersiap-siap lagi untuk menghadapi perang berikutnya melawan kafir Quraisy atau Yahudi.
Begitu pula yang dilakukan Rifaah ibn Zaid, sahabat Anshar yang kaya dan terhormat. Pada malam itu dia telah menyiapkan baju zirah, senjata dan gandum serta kurma kering. Barang-barang keperluan perang ini disimpan disamping Masjid Rasulullah.
Alangkah kecewanya ketika esok paginya, barang-barang tersebut telah lenyap dicuri orang, terutama yang ia sesalkan adalah baju zirah dan pedangnya. Setelah melalui penyelidikan dia mencurigai keluarga Ubairaq yang mencurinya, terutama ketiga anak lelakinya, yaitu Basyar, Mubasyar dan Basyir. Namun karena tidak punya bukti otentik maka keluarga Ubairaq tentu saja menampiknya. Akhirnya ia mengadu kepada Rasulullah.
Keluarga Ubairaq tahu bahwa Rifaah mengadu kepada Rasulullah dan alangkah aibnya, jika kesalahan mereka diketahui Rosulullah. Untuk membebaskan diri dari kesalahan, mereka merancang siasat dengan menyembunyikan zirah dan pedang dirumah Zaid ibn Al Samin, seorang Yahudi kafir.
Ketika mereka dikumpulkan Rasulullah, keluarga Ubairaq menyangkal dengan dalih bahwa keluarga mereka Muslim yang bersahabat dan tidak ada bukti barangnya. Bahkan keluarga Ubairaq balik menuduh Rifaah telah mencemarkan nama baiknya. Sebagai manusia biasa Rasulullah tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, sehingga beliau belum bisa memutuskan siapa yang salah. Basyir salah seorang keluarga Ubairaq memberi pandangan bahwa kemungkinan pencurinya adalah Zaid ibn Al Samin, seorang Yahudi yang sombong musuh Islam. Yahudi itu tidak suka melihat kerukunan umat Islam, tidak suka umat Islam sejahtera dan tidak suka kaumnya dikalahkan umat Islam, makanya dia mencuri baju zirah & pedang untuk berperang.
Tuduhan itu sepintas beralasan, namun perlu bukti yang nyata. Untuk itu Rasulullah menugaskan orang bersama Basyir menanyakan dan menggeledah rumah Zaid ibn Al Samin. Karena  tidak merasa bersalah Zaid dengan tenang mempersilahkan orang-orang Rasulullah untuk menggeledah rumahnya. Alangkah kagetnya ketika Zaid melihat ada baju zirah dan pedang ditemukan dirumahnya. Zaid berusaha menampik tuduhan itu dan mengemukakan alibinya, namun kali ini ia ada dipihak yang lemah dan terpojok bahwa bukti barang curian ada dirumahnya.
Semua pihak berkumpul dirumah Rasulullah dan melaporkan hasil penyelidikannya. Tentu saja Rasulullah merasa senang dengan bukti kesalehan dari keluarga Ubairaq, bahkan mencela Rifaah yang telah menuduhnya mencuri. Ketika semua pihak masih berkumpul dan saat Rasulullah akan memutuskan hukuman kepada Yahudi kafir yang mencuri itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu berturut-turut untuk menjelaskan masalah ini :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا/ وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا/ وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا
“Innaa anzalnaa ilaikalkitaaba bilhaqqi litahkuma bainannaasi bimaa araakallaah. Wa laa takullilkhaa iniina khashiimaa. Wastaghfirillaah. Innallaaha kaana ghafuurarrahiimaa. Wa laa tujaadil ‘anilladziina yakhtaanuuna anfusahum. Innallaaha laa yuhibbu man kaana khawwaanan atsiimaa”.
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. ~ QS 4 – An Nisāa': Ayat 105-107 ~
Ayat-ayat diatas menunjukkan kepada Rasulullah bahwa keluarga Ubairaq telah menipu dan menimpakan tuduhan kepada orang lain. Sesungguhnya orang Yahudi itu tidak berdosa dan keluarga Ubairaq yang berkhianat serta jahat.
Selanjutnya Allah masih menurunkan ayat-ayat sebagai berikut  : 
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُم إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا / هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا / وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا / وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ و
“Yastakhfuuna minannaasi walaa yastakhfuuna minallaahi wa huwa ma’ahum idzyubayyituuna maa laa yardhaa minalqaul. Wa kaanallaahu bimaa ya’maluuna muhiitha. Haa antum haaulaa i jaadaltum ‘anhum fil hayaatiddunyaa. famayyujaadilullaaha ‘anhum yaumal qiyaamati ammayyakuunu ‘alaihim wakiilaa. Wa mayya’mal suu an auyadhlim nafsahuu tsumma yastaghfirillaaha yajidillaaha ghafuurarrahiimaa. Wa mayyaksib itsman fainnamaa yaksibuhuu ‘alaa nafsih wa kaanallaahu ‘aliiman hakiimaa”.
"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridloi. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.
Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat...? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)...?
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
. ~ QS 4 – An Nisā': Ayat 108-111 ~
Dengan turunnya ayat-ayat diatas kini kebenaran makin jelas dihadapan semua pihak. Bahwa Yahudi itu terbebas dari tuduhan dan Allah telah menetapkan keputusan dengan menurunkan langsung ayat-ayat Al Qur'an.
Keluarga Ubairaq akhirnya mengakui kesalahannya, dimana Basyir telah disesatkan setan dengan mengambil barang-barang milik Rifaah dan menyembuyikannya dirumah Zaid dengan maksud untuk memfitnah Zaid.
Karena takut perbuatannya diketahui Rasulullah. Mereka disuruh minta ampun kepada Allah, adapun Basyir sendiri malah melarikan diri ke Mekkah bergabung dengan kafir Mekkah.
Zaid ibn Al Samin merasa kagum akan keputusan Tuhannya Muhammad meskipun dia seorang Yahudi dan sebagai penghormatan, dia langsung memeluk agama Islam.
Basyir ternyata kabur ke Mekkah dan disana ia membuat syair yang mencela serta menghina Rasulullah. Atas kelakuannya itu Allah menurunkan ayat sebagai berikut : 
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Wa mayyusyaaqiqirrasuula mimba’di maa tabayyanalahullhudaa wa yattabi’ ghaira sabiilil mu’miniina nuwallihii maa tawallaa wa nushlihii jahannam. Wasaa atmashiiraa”
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. ~ QS 4 - An-Nisāa' : 115 ~
Demikian Allah Subhanahu wa ta’ala telah menunjukkan sebuah kebenaran sekalipun itu menyangkut orang Yahudi.
Bekasi, 12 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema :   An Nisaa (4) – Ayat 105 s/d 111 dan 115  à  Zaid ibn Al Samin ra – Yahudi yang dibebaskan oleh Al Qur’an.

Friday, July 17, 2015

ASBABUN NUZUL KE 30

TURUNNYA SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 195, SURAH 9 – AT TAUBAH AYAT 41

Kisah Abu Ayyub Al Anshari – Kediaman pertama Rasulullah di Yatsrib     

Pada saat itu tanggal 12 Rabiul Awal, Tahun ke 13 Kenabian. Dalam perjalanan berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, Rasulullah telah sampai di Quba. Beliau tinggal dulu di Quba selama 3 hari dan membangun Masjid pertama di Yatsrib. Sepanjang perjalanan menuju kota Yatsrib, para penduduk menyambutnya dan berharap beliau berkenan untuk singgah dulu dirumahnya. Agar tidak menyinggung perasaan siapapun dengan berhenti di salah satu rumah dan mengabaikan yang lain, Rasulullah membiarkan untanya untuk berjalan sekehendaknya, karena itu diperintah Allah.  

Akhirnya unta berhenti di halaman rumah Abu Ayyub, salah seorang Bani Najjar yang ikut dibai'at Rosulullah di Aqobah. Alangkah bahagianya hati Abu Ayyub, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memilih rumahnya untuk tempat tinggal Rasulullah diawal kedatangannya di Yatsrib. Allah SWT memlihkan tempat itu karena buyutnya, Salma berasal dari keluarga Al Najjar dan ayahnya, Abdullah meninggal disini.
Rasulullah menetap di rumah Ayyub selama satu bulan, dan selama itu beliau melakukan berbagai aktivitas, termasuk mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Di rumah itu beliau mengislamkan Abdullah ibn Salam seorang pembesar Yahudi Madinah dan membongkar kemunafikan serta kebencian kaum Yahudi terhadap islam. Rasulullah juga mempersaudarakan setiap kaum Anshar dan Muhajirin.
Sejak kedatangan Rasulullah di Madinah, kaum muslim semakin bertambah banyak. Namun timbul gejolak sosial, didalam Kaum Anshar merasa telah terlalu banyak membantu bersedekah harta kepada Kaum Muhajirin.
Beberapa orang Anshar termasuk Abu Ayyub diam-diam menggelar pertemuan dengan maksud melepaskan kaum Muhajirin dari bantuan mereka.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan. Allah menurunkan wahyu kepada RasulNya : 
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Wa anfiquu fii sabiilillaahi walaa tulquubi aidiikum ilattahlakati wa ahsinuu innallaaha yuhibbul muhsiniin”.
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". ~ QS 2 Al-Baqaraħ: Ayat 195 ~
Ayat ini menyadarkan mereka, bahwa apa yang mereka lakukan belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah dan kaum Muhajirin yang merelakan harta, keluarga bahkan jiwanya sendiri.
Kaum Quraisy mulai menebarkan perang, Allah Subhanahu wa ta’ala menyerukan kaum Muslim untuk jihad di jalanNya. Ternyata sebagian Muslim ada yang berpura-pura sakit, atau udzur agar terbebas dari ikut berperang. Allah Subhanahu wa ta’ala menegurnya dengan menurunkan ayat : 
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 
“Infiruu khifaafaw watsiqaalaw wajaahiduu biamwaalikum wa anfusikum fii sabiilillaah. Dzalikum khairullakum in kuntum ta’lamuun”.
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui". ~ QS 9 - AtTaubaħ: Ayat 41 ~
Pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Tholib terjadi konflik antara pengikut Ali dengan pengikut Muawiyah ibn Abu Sufyan. Abu Ayyub memilih pulang ke Madinah untuk merenung mengenangkan saat-saat serumah dengan Rasulullah.
Namun ketika pasukan Muawiyah akan dikirim ke Romawi untuk merebut Konstantinopel, Abu Ayyub yang sudah udzur bersikukuh memaksakan diri untuk ikut berjihad. Dalam kondisi badan sedang sakit dia dibopong maju ke medan perang dan meninggal ditapal batas kota  Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) serta dikuburkan disana sesuai amanatnya. Sekarang kuburannya dijadikan tujuan ziarah umat Islam.
Bekasi, 12 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema :   Al Baqarah (2) – Ayat 195 , At Taubah (9) – Ayat 41 à  Abu Ayyub Al Anshari – Kediaman pertama Rasulullah di Yatsrib . 

Thursday, July 16, 2015

ASBABUN NUZUL KE 29

TURUNNYA SURAH 8 – AL ANFAL AYAT 36

Kisah Abu Sufyan ibn Harb – Menafkahkan harta untuk memerangi kaum Muslim       
Abu Sufyan ibn Harb adalah seorang pemimpin Quraisy dan paling kaya diantara mereka. Usianya 10 tahun lebih tua daripada Rosulullah.

Dia dikenal sangat membenci Islam dan Bani Hasyim, ditambah lagi Ramlah, putrinya masuk Islam dan Bani Hasyim menguasai tampuk kepemimpinan Mekkah.
Kebencian Abu Sufyan semakin memuncak, tatkala mendengar Ramlah, putrinya menikah dengan Rosulullah Saw. Dirinya merasa malu dan terhina dari ejekan para pemimpin kafir Quraisy.
Pada perang Badar, ia memimpin kaum Quraisy untuk memerangi Muhammad dan kaum Muslim, namun ia kecewa karena pasukan yang dibawanya mengalami kekalahan. Dengan maksud ingin memenangi Perang Uhud, ia banyak menyewa orang Habsyi untuk membunuh Muhammad dengan biaya dari kantong pribadinya.  Atas kelakuannya ini, Allah memberitahu RasulNya dalam ayat : 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Innalladziina kafaruu yunfiquuna amwaalahum liyashudduu ‘an sabiilillaah. Fasayunfiquunahaa tsumma takuunu ‘alaihim hasratan tsumma yughlabuun. Walladziina kafaruu ilaa jahannama yuhsyaruun”
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan". ~ QS 8 - Al-'Anfāl : Ayat 36 ~
Rasulullah membuat Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy yang isinya bersepakat untuk mengadakan gencatan senjata dan tidak saling menyerang. Namun kaum kafir Quraisy melanggar perjanjian itu dengan membantu Bani Bakar menyerang Bani Khazaah sekutu kaum Muslim. Rasulullah marah dan bersiap menyusun pasukannya untuk membantu Bani Khazaah serta sekaligus menaklukan Mekkah. 
Menyadari kesalahan dan kelemahan pasukannya, kaum Quraisy buru-buru mengutus Abu Sufyan ke Madinah dengan misi meminta maaf  kepada Rasulullah dan meminta untuk tidak menyerang Mekkah. Abu Sufyan merasa yakin dapat menjalankan misi yang dibebankan kepadanya mengingat kedudukan dia sebagai mertua Rasulullah. Setibanya di Madinah, ia langsung menuju rumah putrinya, Ramlah (Ummu Habibah) untuk meminta bantuan dalam menjalankan tugasnya. Ketika bertemu putrinya, Abu Sufyan terkejut bukan kepalang ketika putrinya melipat kasur tilam duduknya dan meminta ayahnya tidak duduk dikasur itu. Dalam keheranan, Abu bertanya : "Wahai putriku.. Mengapa kau lipat kasur itu dan kau menjauhkan dariku..?" Ummu Habibah menjawab : "Itu kasur Rasulullah... Seorang musyrik tidak boleh duduk di atasnya.....".
Dengan perasaan kecewa, kesal dan serba salah dan tanpa hasil ia keluar dari rumah Ramlah sambil mengumpat puterinya. Abu Sufyan mencoba mendekati para sahabat Rasulullah untuk meminta bantuan, namun ditolaknya. Dalam pandangan para sahabat, kaum Quraisy sudah pantas mendapat hukuman karena telah menghianati kesepakatan dan kedzalimannya kepada kaum Muslim selama di Mekkah.
Saat penaklukan Mekkah, Abu Sufyan dan Hindun bint Utbah buru-buru menyatakan masuk Islam, meskipun ketulusannya diragukan. Dalam perang Yarmuk, Abu Sufyan ikut serta menghadapi pasukan Romawi. Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khathab, puteranya yang bernama Muawiyah diangkat menjadi Gubernur Syam. Kelak dirinya menjadi Khalifah pertama dari Dinasti Umayyah. Abu Sufyan meninggal pada masa Khalifah Utsman. Hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengetahui akan keislamannya.
Bekasi, 12 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Anfal (8) – Ayat 36 à  Abu Sufyan ibn Harb – Menafkahkan harta untuk memerangi kaum Muslim.

Wednesday, July 15, 2015

ASBABUN NUZUL KE 28

TURUNNYA SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 207

Kisah Shuhaib ibn Sinan Al Rumi Sahabat diluar Arab yang beruntung dari perniagaan
Dahulu Irak masih dibawah kekuasaan Kisra Persia, negara Adi Daya setelah Romawi. Salah satu kotanya yaitu Ubulah dipimpin oleh seorang walikota bernama Sinan ibn Malik yang memiliki seorang anak kecil bernama Shuhaib ibn Sinan. Hampir semua penduduk Irak pada saat itu menganut agama Majusi (Penyembah Api) seperti halnya penduduk Persia.
Suatu hari tentara Romawi menyerang Persia dan kota Ubulah jatuh ketangan kekuasaan Romawi. Shuhaib tercecer dari keluarganya dan diambil menjadi budak Romawi. Kehidupannya sebagai budak sering berpindah tangan dan akhirnya dibeli oleh seorang Arab bernama Abdullah ibn Jad'an yang membawanya ke Mekkah. Karena kelakuannya yang baik, amanah, dapat menjaga lisan, pandai berdagang serta pandai menunggang kuda dan berburu, maka majikannya memerdekakan Shuhaib. Setelah merdeka Shuhaib mulai berdagang dan karena kecakapannya ia telah berubah menjadi salah seorang saudagar terkemuka di Mekkah.
Cahaya Islam yang dibawa Muhammad Rosulullah mulai menerangi kota Mekkah. Shuhaib yang semenjak kecil menganut agama Majusi, kemudian selama negaranya diduduki Romawi berpindah menganut agama Nasrani dan saat tinggal di Mekkah ia mengikuti penduduk Mekkah yaitu menyembah berhala, melihat adanya kebenaran yang terpancar dari agama yang dibawa Muhammad. Dia bergegas menemui Rosulullah dan pada saat itu juga menyatakan masuk Islam. Karena kedudukan dia sebagai orang asing yang tidak memiliki Kabilah (pelindung), maka keislamannya sangat dirahasiakan. Namun demikian rahasia ini lambat laun tercium juga oleh kaum kafir Quraisy.  Shuhaib disiksa dengan berbagai cara, mulai dipukul, dipakaikan baju besi yg disekitarnya dinyalakan api dan dipanggang tanpa pakaian diatas padang pasir. Namun Shuhaib tetap sabar, tabah dan keimanannya tidak goyah.
Saat Rasulullah hijrah ke Yatsrib dia tidak bisa bergabung, karena kaum kafir Quraisy selalu mencegahnya. Allah meridhai dia dapat meninggalkan Mekkah menuju Yatsrib dengan cara menyerahkan seluruh harta bendanya sebagai ganti dirinya kepada kaum Quraisy yang mencegatnya diperjalanan.
Setibanya di Madinah, Shuhaib disambut Rasulullah dengan wajah yang berseri-seri dan beliau menyampaikan ayat Al Qur'an yang baru diterimanya: 
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ 
“Waminannaasi mayyasyrii nafsahubtighaa amardhaatillaah. Wallaahu rauufumbil ‘ibaad”
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya". ~ QS 2 – Al Baqarah : Ayat 207 ~
Shuhaib benar-benar telah mendapat keuntungan yang besar dalam perniagaannya dengan Allah. 
Berkat kecakapannya dalam berniaga ia telah menjadi pedagang yang terkemuka di kota Madinah. Dari keuntungan dagangnya Shuhaib selalu menafkahkan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Dia menjadi penyokong dana setiap pasukan Muslim yang akan berperang.
Selama hidupnya Shuhaib senantisa menyertai Rasulullah dan setia kepada Khalifah penerus Rasulullah.
Shuhaib meninggal dunia saat kekhalifahan Ali ibn Abu Tholib. Semoga Allah memuliakan Shuhaib ditempat kembalinya.
Bekasi, 12 Juli 2015
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penerbit: Zaman
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema :  Al Baqarah (2) – Ayat 207 à Shuhaib ibn Sinan Al Rumi Sahabat diluar Arab yang beruntung dari perniagaan.