Showing posts with label asbabun nuzul al quran. Show all posts
Showing posts with label asbabun nuzul al quran. Show all posts

Thursday, April 30, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 217

TURUNNYA SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 217

Kisah Abdullah ibn Jahsy Gubernur Muslim yang pertama contoh seorang pejuang Islam yang berperang di bulan Haram.

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kaum dari agamamu (kepada kekafiran), maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. ~ QS 2 – Al Baqarah : Ayat 217 ~

Abdullah ibn Jahsy adalah cucu Abdul Muthalib kakek Rasulullah, ibunya Umaimah bin Abdul Muthalib, adik dari Abdullah ibn Abdul Muthalib. Abdullah bersahabat dengan Muhammad karena kekerabatan dan memiliki kesamaan senang membicarakan hal yang mempertanyakan penyembahan berhala-berhala.

Suatu hari kota Mekkah diguyur hujan lebat, Ka’bah rusak terendam dan berhala-berhala berjatuhan. Para pemuka kota Mekkah sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Pada saat akan meletakkan Hajar Aswad timbul masalah, siapa yang berhak untuk meletakkannya. Akhirnya mereka sepakat untuk meminta pendapat dari orang yang besok pagi paling awal masuk Ka’bah dari pintu Al Shafa.

Ternyata yang paling awal masuk Ka’bah lewat pintu Al Shafa adalah Muhammad ibn Abdullah. Dialah yang diminta pendapat siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad.

Dengan kecerdasan dan kebijaksanaan Muhammad digelarlah sehelai kain, kemudian ia letakkan Hajar Aswad diatasnya. Setelah itu Muhammad minta tiap pemimpin suku untuk memegang setiap ujung kain dan menggotongnya mendekati pojok tempat Hajar Aswad diletakkan, kemudian Muhammad meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.

Ketika Muhammad diutus Allah untuk mengajak manusia menyembah Allah, alangkah gembira hati Abdullah ibn Jahsy. Dia langsung mengakui dan mengimani saudaranya itu sebagai Rasulullah dan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagao Penguasa Alam Semesta. Abdullah beserta ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti Rasulullah hijrah ke Madinah.

Di Madinah mereka disambut oleh kaum Anshar yang telah masuk Islam sejak para utusan yang dibaiat Rasulullah di Aqobah kembali ke Madinah.

Ketika Rasulullah membentuk ‘Pasukan Rahasia’, Abdullah ibn Jahsy ditunjuk untuk memimpin 9 orang Muhajirin berangkat ke Mekkah dengan dibekali secarik surat dari Rasulullah dengan pesan: ‘Jika kau telah berjalan selama 2 hari bukalah surat ini dan lihatlah apa yang tertulis didalamnya. Lakukanlah apa yang kuperintahkan dan jangan pernah memaksa sahabat-sahabatmu untuk mengikuti keputusanmu’.

Dengan hati senang karena dirinya dipercaya Rasulullah, Abdullah ibn Jahsy bersama 9 kawannya berangkat secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat kaum kafir. Ketika sampai di sebuah tempat yang bernama Bahran kira-kira jaraknya 150 km dari Madinah, barulah dia membaca surat yang diberikan Rasulullah yang isinya: ‘Jika kau telah membuka suratku ini, teruskan perjalanan hingga tiba di Nakhlah (yaitu kira-kira 150 km dari Mekkah atau 50 km dari Taif). Setibanya disana carilah kabar mengenai Kaum Quraisy’.

Abdullah memberitahukan pesan Rasulullah, bahwa beliau melarang untuk memaksa siapapun diantara teman-temannya yang tidak mau melanjutkan perjalanan. Namun mereka sepakat untuk melaksanakan perintah Rasulullah dan melanjutkan perjalanan ke kota Nakhlah.

Sesampainya di Nakhlah mereka menyadari bahwa daerah ini merupakan daerah yang berbahaya karena lebih dekat ke Mekkah.

Ketika sedang beristirahat  mereka terlihat para Kafilah Quraisy yang dikawal beberapa orang bersenjata dan menyergapnya. Abdullah tidak merasa gentar dalam pikirannya inilah kesempatan yang tepat untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakiti, menyiksa, mengusir dan merampas rumah serta harta mereka. Tetapi perkara lain menghalangi mereka. Saat itu adalah bulan Rajab, yaitu ‘salah satu bulan yang mengharamkan untuk berperang’. Mereka berpikir, apakah akan terus berperang dengan risiko dicela bangsa Arab lain... ? atau membiarakan balas dendam ini berlalu begitu saja....

Akhirnya mereka memilih berperang....

Perang kecil terjadi dengan kemenangan di pihak Abdullah dan kawan-kawannya. Lalu mereka kembali ke Madinah dengan membawa pampasan perang.

Sesampainya di Madinah terjadi pergunjingan diantara penduduk Madinah, sebagian mencela tindakan Abdullah yang berperang di bulan Haram dan sebagian mendukung Abdullah untuk tetap berperang. Bahkan di kaum kafir Mekkah hal ini dijadikan komoditas untuk menarik simpati suku-suku lain untuk memerangi kaum Muslim yang telah melanggar hukum bangsa Arab, yaitu berperang di salah satu bulan Haram untuk berperang.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berdiri disamping Abdullah ibn Jahsy dan kawan-kawannya, dengan menurunkan ayat kepada RasulNya.

“Yas aluunaka ‘anisy syahril haraami qitaali fiih. Qul qitaalun fiihi kabiir. Wa shaddun ‘an sabiilillahi wa kufrumbihii wal masjidilharaami wa ikhraaju ahlihii minhu akbaru ‘indallaah. Walfitnat akbaru minalqatl. Wa laa yazaaluuna yuqaatiluunakum hattaa yarudduukum ‘an diinikum inistatha’uw. Wa mayyartadid minkum ‘andiinihii fayamut wa huwa kaafirun faulaaika habithat a’maaluhum fiddunyaa wal aakhirah. Wa ulaaika ash haabunnaari hum fiihaa khaaliduun”.

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan  kaum dari agamamu (kepada kekafiran), maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. ~ QS 2 – Al Baqarah : Ayat 217 ~

Kata-kata dalam ayat itu menunjukkan kasih sayang Allah kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim, terutama kepada Abdullah ibn Jahsy dan kawan-kawannya .

Allah menghendaki bahwa mereka terbebas dari kesalahan.

Pembebasan ini turun dari Allah sebagai penghormatan kepada mereka serta pemuliaan terhadap keberanian dan kepahlawanan mereka. Mereka benar-benar tulus dan ikhlas berjuang di jalan Allah dan demi menegakkan kalimat-kalimatNya.

Ada kejadian menarik pada diri Abdullah ibn Jahsy sebelum perang Uhud. Dia berdo’a agar pada perang itu dihadapkan dengan musuh yang paling kuat yang dapat membunuhnya dan jika ia terbunuh dengan hidung dan telinga putus tetap dalam ridho Allah. Kalimat permohonan itu mungkin terdengar bagi guyonan, tetapi ketahuilah bahwa permohonan itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam yang menghendaki kesyahidan di jalan Allah. Allah mendengar do’anya, Abdullah syahid dalam Perang Uhud dan ketika Rasulullah melihat jasad Abdullah ibn Jahsy, telinga dan hidungnya terpapas pedang musuh.

Sosok Abdullah ibn Jahsy ini menjadi contoh tentang keberanian seorang pejuang dan kecintaannya kepada syahadah. Semoga Allah meridhoinya.

Bekasi, 9 Jumadil Akhir 1436 Hijriyah atau 30 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema :  Al Baqarah (2) – Ayat 217 tentang Abdullah ibn Jahsy Gubernur Muslim yang pertama contoh seorang pejuang Islam yang berperang di bulan Haram

Thursday, April 16, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 4 – AN NISAA AYAT 128

TURUNNYA SURAH 4 – AN NISAA AYAT 128

Kisah Saudah binti Zam’ah RA yang ingin dibangkitkan sebagai isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ~ QS 4 – An Nisaa’ : 128 ~

Pada tahun ke 10 setelah kenabian, kaum Muslim dikejutkan dengan meninggalnya Khadijah bint Khuwaili, Ummul Mukminin yang pertama, isteri yang sangat dicintai dan dimuliakan Rasulullah. Kematian Khadijah yang senantiasa mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka, semakin memberatkan tekanan hidup Rasulullah. Para pemuka Quraisy semakin gencar menyerang dan menyakiti beliau dan kaumnya, sementara Rasulullah harus membagi waktu antara menyebarkan ajaran Islam dan mengurus rumah tangganya yang ditinggal Khadijah.

Khaulah bint Al Hakim, wanita shaleha pelayan Rasulullah menyarankan agar Rasulullah menikah lagi. Mula-mula Rasulullah diminta meminang Aisyah bint Abu Bakar, namun mengingat Aisyah masih kanak-kanak, maka pernikahannya ditangguhkan hingga ia dewasa. Kemudiah Khaulah menyarankan Rasulullah untuk melamar Saudah bint Zam’ah yang belum lama ditinggal mati suaminya Al Sukran ibn Amr.

Siapakah Saudah...? Dia adalah seorang janda tua, yang tidak cantik, tidak menarik hati kaum laki-laki, berbeda jauh dengan Khadijah yang membuat para lelaki cemburu ketika dinikahi Rasulullah.

Pada saat Saudah bersuamikan Al Sukran, dia bermimpi: ‘Yang Pertama Rasulullah memeluk lehernya dan yang kedua bulan menjauhi dirinya’. Dia menceritakan mimpi itu kepada suaminya. Allah seakan-akan menyingkapkan tirai zaman dari Al Syukran, ia tiba-tiba berkata: “Seandainya mimpimu benar aku sebentar lagi akan mati dan engkau akan dinikahi Rasulullah”. Tidak ada sebercikpun dalam pikiran Saudah untuk menjadi pendamping Rasulullah, mengingat dia tahu siapa dirinya. Namun Allah berkehendak lain, Dia menjadikan Saudah bint Zam’ah, janda dari Al Sukran menjadi isteri Rasulullah setelah Khadijah.

Mulai saat itu Saudah hidup menjadi pasangan suami isteri dan hidup tenang, damai dan bahagia bersama Rasulullah. Dia mengambil peran sebagai pemelihara dan pengasuh anak-anak Rasulullah serta mengatur rumah tangga. Ketika Rasulullah sudah menetap di Madinah dan Aisyah sudah cukup dewasa, beliau resmi menikahi Aisyah. Tentu saja usia Aisyah dengan Saudah terpaut sangat jauh, sehingga perasaan Aisyah kepada Saudah layaknya anak terhadap ibu yang mengasihinya. Namun keduanya hidup dengan tenang sebagai isteri-isteri Rasulullah.

Tidak lama setelah itu masuk pula beberapa wanita lain yang menjadi isteri-isteri Rasulullah, yaitu Hafshah bint Umar ibn Khathab, Zainab bint Jahsy dan Ummu Salamah yang masing-masing memiliki hak yang sama di sisi Rasulullah.

Namun sebagai manusia biasa, Rasulullah memiliki kendala untuk menundukkan perasaannya dalam bersikap adil terhadap Saudah sebagaimana diperintahkan Allah SWT. Agar Saudah dapat hidup bebas dari rasa ketidak adilannya, maka beliau berniat untuk menceraikan Saudah. Mendengar Rasulullah akan menceraikannya, Saudah dengan hati yang sedih dan duka memohon kepada Allah agar dia sampai kapanpun tetap menjadi isteri Rasulullah.

Ia berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu atas nama Dzat Yang Menurunkan KitabNya kepadamu dan aku memuliakanmu diantara seluruh ciptaanNya, janganlah engkau menceraikanku. Biarkan aku sebagai isterimu...akan kuberikan malam-malam giliranku kepada Aisyah. Aku tidak menghendaki darimu sesuatupun seperti yang dikehendaki wanita-wanita lain”.

Rasulullah sangat memahami perasaan Saudah dan Allah Subhanahu wa ta’ala langsung menyayangi keduanya sehingga turunlah ayat:

Wa imra atun khaafat mimba’lihaa nusyuuzan aw i’raadhan falaa junaaha ‘alaihimaa ayyushlihaa bainahumaa shulhaa. Washshulhu khair. Wa uhdhiratil anfususysyuhh. Wa intuhsinuu wa wattaquu fainnallaaha kaana bimaa ta’maluun”

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ~ QS 4 – An Nisaa’ : 128 ~

Rasulullah menyadari kedudukan Saudah yang sangat mengasihinya dan memahami bahwa Saudah ingin selalu mendampinginya, karena itu beliau tidak jadi menceraikannya.

Saudah berbahagia hidup selamanya bersama Rasulullah dan tenteram, damai bersama para isterinya yang lain meskipun Rasulullah wafat mendahuluinya.

Saudah bint Zam’an, wanita yang taat, tulus mengurus Rasulullah dan putera-puterinya wafat pada tahun 54 Hijriah. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menyayanginya.

Bekasi, 24 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 15 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema: SURAH 4 – AN NISAA AYAT 128 - Kisah Saudah binti Zam’ah RA yang ingin dibangkitkan sebagai isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sunday, April 12, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

TURUNNYA SURAH 111 – AL LAHAB AYAT 1 - 5

Kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil yang dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.
~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Al Lahab nama sesungguhnya adalah Abdul Uzza ibn Abdul Muthalib. Uzza adalah nama sebuah berhala yang disembah-sembah pada masa Jahiliyah. Karena wajahnya teramat putih, maka ia dikenal dengan panggilan Abu Lahab. Abu Lahab adalah saudara seayah dengan ayah Rasulullah, Abdullah jadi dia adalah paman Rasulullah. Sosoknya tinggi tegap yang berhati keras, kasar, tegas, bengis, peminum khamar dan gampang marah dengan suaranya yang nyaring.

Ketika diberitahu budaknya yang bernama Tsuwaibah bahwa kakak iparnya Aminah (ibunda Muhammad Rasulullah) melahirkan, dia sekonyong-konyong berkata kepada Tsuwaibah: “Wahai Tsuwaibah, engkau pergilah dan mulai sekarang engkau merdeka”. Ini mungkin kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, karena setelah merdeka Tsuwaibah termasuk salah seorang yang menyusui Muhammad.

Abu Lahab termasuk orang yang sangat menghormati dan memuja berhala sekitar Ka’bah. Di sisi lain sebetulnya Abu Lahab sangat menyukai karakter Muhammad keponakannya yang jujur, amanah dan sangat bijaksana juga isterinya Khadijah adalah wanita yang baik.

Untuk itulah maka ia menjodohkan putera-puteranya yaitu Utbah dan Mu’tb dengan puteri-puteri Muhammad yaitu Rukayyah dan Ummu Kultsum. Begitulah Allah berkehendak untuk mempererat kekerabatan diantara keduanya.

Namun ketika Allah mengangkat Muhammad sebagai utusanNya yang menyeru manusia untuk menyembah kepadaNya dan berhenti menyembah berhala, inilah yang menjadi titik awal terjadinya permusuhan antara Muhammad dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil.

Rasulullah dengan dukungan Shafiyah bint Abdul Muthalib bibinya, mulai berda’wah dengan mengumpulkan saudara-saudara dan kerabatnya untuk mendengarkan seruannya.

Ketika pada akhir da’wah beliau bertanya kepada saudara-saudara dan kerabatnya: “Siapakah diantara saudara-saudaraku yang mendukungku dan menyebarkan da’wah ini...?”.

Paman Rasulullah, Abu Tholib yang sangat menyayangi Rasulullah angkat suara: “Laksanakan apa yang Allah perintahkan kepadamu Muhammad... Aku akan selalu mendukung dan menjagamu, namun aku tidak bisa meninggalkan agama Abdul Muthalib”. Sepupunya Ali ibn Abu Tholib juga mendukungnya: “Aku akan selalu membantumu... Aku akan memerangi siapa saja yang memerangimu...”.

Pada saat Rasulullah mulai berda’wah secara terbuka dan berseru diatas bukit Shafa banyak penduduk Mekkah yang percaya, mendukung dan mengikuti ajaran Muhammad, karena mereka tahu persis kejujuran dan kebijaksanaan Muhammad. Namun ada pula yang menolaknya, apalagi setelah mendengar teriakan Abu Lahab: “Celakalah engkau wahai Muhammad...!!, untuk inikah engkau mengumpulkan kami...”.

Sejak hari itu terompet permusuhan antara kaum Quraisy dan Rasulullah mulai ditiup kencang. Terutama permusuhan antara Rasulullah dengan Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil mulai menyala. Perjodohan anak-anaknya diputuskan, namun anak-anak Abu Lahab kelak masuk Islam.

Abu Lahab beserta isterinya sering sekali menyakiti Rasulullah dengan cara menghina, melemparkan kotoran kehadapan beliau, mencaci maki beliau. Hingga Allah menurunkan ayat sebagai berikut:

“Tabbat yadaa abii lahabiw watabb. Maa aghnaa ‘anhumaa luhuu wa maa kasab. Sayashlaa naa ranzaatalahabbiw wamra atuhuu hammaa latal hatab. Fii jiidihaa hablum mim masad”

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.  ~ QS 111 – Al Lahab : 1-5 ~

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab karena badannya sudah tidak kuat lagi tidak ikut berperang. Namun bersama para pemimpin Quraisy yang tidak ikut berperang, menyokong perbekalan dan kuda-kuda yang baik untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya. Untuk ini Allah menurunkan ayat:

“Innalladziina kafaruu yunfiquuna amwaalahum liyashudduu ‘an sabiilillaah. Fasayunfiquu nahaa tsumma takuunu ‘alaihimhasratan tsumma yughlabuun. Walladziina kafaruu ilaa jahannama yuhsyaruun”.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. ~ QS 8 – Al ‘Anfaal : 36 ~

Melihat kekalahan kaumnya dan banyak kaum Quraisy yang terluka serta terbunuh, Abu Lahab semakin geram dan sangat sedih. Kesedihannya yang mendalam ini menimbulkan bisul yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Orang-orang tidak berani mendekatinya karena takut ketularan. Bahkan kedua anaknya-pun meninggalkannya dan ikut kaum Muslim.

Begitu pula saat Abu Lahab meninggal tidak ada seorangpun yang mau mengurusnya karena takut tertular penyakitnya. Selama 3 hari mayatnya dibiarkan membusuk dan mereka seret ke pemakaman, membiarkannya tanpa dimasukkan ke liang lahat serta melemparinya dengan batu dan pasir sehingga mayatnya tertimbun.

Begitu akhir kehidupan Abu Lahab, musuh Allah dan RasulNya.

Bekasi, 24 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 15 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda

Thema : Al Lahab (111) - Ayat 1-5 - Abu Lahab dan Ummu Jamil ditetapkan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Friday, April 10, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 16 – AN NAHL AYAT 106

TURUNNYA SURAH 16 – AN NAHL AYAT 106

Kisah Ammar ibn Yasir – Keluarga penghuni surga.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar
~ QS 16 – An Nahl : 106 ~

Yasir ibn Amir adalah seorang Yaman yang datang ke Mekkah dengan maksud mencari saudara-saudaranya yang diperkirakan dulu ikut tentara Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah. Dia menikahi Samiyyah bint Khayyath, budak milik Abu Hudzayfah ibn Al Mughirah hingga memiliki seorang putera bernama Ammar ibn Yasir.

Suatu hari Ammar mendengar seruan Muhammad di Bukit Shafa untuk mengikuti agamanya yang menyembah Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dengan meninggalkan penyembahan kepada berhala-berhala. Ammar melihat dalam agama yang dibawa Muhammad itu, menganut kesetaraan antara budak-budak penganutnya dengan para pembesar Mekkah. Tentu saja dia sangat tertarik, karena di menyadari bahwa dia sekeluarga adalah golongan budak yang selalu teraniaya. Ammar diam-diam mengikuti ajaran muhammad dan setelah hatinya bulat, dia menemui Rasulullah untuk masuk Islam.

Diluar dugaan ketika dia menyampaikan berita kepada kedua orang tuanya, bahwa dia telah masuk Islam ternyata keduanya memberi respon baik dan akan menemui Muhammad untuk masuk Islam pula. Tentu saja keislaman keluarga Yasir ini sangat dirahasiakan dari majikannya. Meskipun dengan sembunyi-sembunyi, berita keislaman keluarga Yasir ini akhirnya diketahui juga oleh Kafir Mekkah.

Dengan dipelopori Abu Jahal, mulailah terjadi penyiksaan yang keji kepada keluarga Yasir dan budak-budak yang berasal di luar Mekkah dan tidak memilki Kabilah sebagai pelindung.

Dalam tradisi Arab jahiliyah, siapa yang tidak memiliki Kabilah sebagai pelindung dan memiliki kelas sosial yang paling rendah, boleh mau diperlakukan apa saja, bahkan mau dibunuh sekalipun tidak akan ada yang menuntut pembunuhnya.

Mereka dipanggang dibawah terik matahari padang pasir sambil dicambuki dan dipukuli. Setelah itu tubuh mereka yang terluka diseret ke dalam bak air sehingga hampir tidak bisa bernafas. Mereka dipaksa Abu Jahal untuk mengingkari ajaran Muhammad.

Suatu hari Abu Jahal, kafir yang paling sengit memusuhi Rasulullah, kembali melakukan penyiksaan terhadap keluarga Yasir. Baju Samiyyah isteri Yasir dilucuti, badannya diikat dan diseret keledai sepanjang padang pasir yang panas, sambil diteriaki: ‘ingkarilah agama Muhammad...hina dan rendahkanlah Muhammad...niscaya aku akan mengampuni engkau...!!!’.

Namun keimanan Samiyyah terhadap Allah Yang Maha Esa jauh lebih kuat, daripada keangkuhan Abu Jahal. Samiyyah dalam penderitaannya tetap berkata: ‘Aku tidak akan kembali kepada agama kalian...aku tidak akan mengingkari Muhammad...dia adalah Nabi utusan Allah SWT...!!!’.

Mendengar kata-kata itu Abu Jahal yang merasa terhina menjadi kalap, di mencabut belati, lalu menancapkannya ke dada Samiyyah dan seketika darah muncrat membasahi hamparan pasir yang panas bersamaan dengan lepasnya nyawa Samiyyah. Dialah syahidah pertama dalam Islam.

Begitu pula Yasir suaminya kemudian syahid pula dibunuh oleh orang-orang kafir yang kesetanan. Mereka disiksa dan dibunuh tidak berperikemanusiaan bagaikan hewan buas yang melahap mangsanya.

Tinggalah Ammar yang lemah karena siksaan dan hatinya terguncang. Betapa tidak...baru saja ia menyaksikan kematian yang mengenaskan atas kedua orang tuanya. Dalam kesedihannya ia spontan berkata lirih: ‘Laa ilaha ilallaah, Muhammad Rasulullah...’.

Mendengar kata-kata Ammar, Abu Jahal yang masih panas dalam kemarahan, berteriak pada Ammar: ‘Ingkari Muhammad...hina dan rendahkanlah Muhammad...kembalilah engkau kepada agama kami...!!!’.

Teriakan Abu Jahal yang membahana itu seakan-akan tidak terdengar oleh Ammar. Dalam keadaan lemah, badan penuh luka, kulitnya terkelupas, jiwanya terguncang atas terbunuhnya kedua orang tua yang dicintainya. Dia seperti kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengenali dirinya sendiri sehingga ucapan yang keluar dari mulutnya pun tidak dapat dikendalikan lagi.

Tanpa sadar dia mengulangi kata-kata Abu Jahal yang mengingkari agama Muhammad dan kembali kepada agama Quraisy.

Mendengar kata-kata Ammar, Abu Jahal dan kawan-kawannya bersorak kegirangan karena telah berhasil mengkafirkan salah seorang pengikut Muhammad, dia lalu membuka ikatan Ammar dan membiarkannya pergi.

Setelah sadar, Ammar mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dia ucapkan. Dia sangat menyesal dan merasa berdosa. Kalau dia sadar, bagaimana mungkin dia membiarkan dirinya mengingkari agama Rasulullah...?

Dalam keadaan sedih dia segera menemui Rasulullah dan mengutarakan penyesalannya. ‘Wahai Rasulullah...apapun yang terjadi aku akan tetap mengimani Allah dan mengikuti agamamu...Aku terpaksa mengatakan keburukan itu untuk menyelamatkan diri dari kekejaman mereka...’.

Rasulullah berusaha menghibur Ammar: ‘Tenanglah Ammar...sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat tentangmu. Jika mereka kembali, katakanlah seperti itu lagi...’. Kemudian Rasulullah membacakan ayat itu kepadanya:

Man kafara billaahi mim ba’di iimaanihii illaa man ukriha wa qalbuhuu muthmainnum bil iimaani wa laakim man syarahabil kufri shodran fa’alaihim ghadhabum minallaah. wa lahum ‘adzaabun ‘adhiim”.

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar~ QS 16 – An Nahl : 106 ~

Tentu saja kaum kafir merasa kecele dengan semakin giatnya Ammar membantu mengembangkan Islam. Ammar termasuk orang yang ikut hijrah ke Habsyah dan selanjutnya ke Madinah.

Hingga saat kepemimpinan Khalifah Ali ibn Abu Thalib yang berperang melawan kelompok Muawiyah, Ammar berada dibelakang Ali ibn Abu Thalib dan wafat dibunuh kelompok Muawiyah.

Begitulah kisah seorang budak asing yang penuh duka nestapa namun mulia di sisi Allah. Semoga Allah merahmatinya.

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : An Nahl (16) - Ayat 106 à Ammar ibn Yasir – Keluarga penghuni surga.

Wednesday, April 8, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 221

TURUNNYA SURAH 2 – AL BAQARAH AYAT 221

Kisah Abdullah ibn Ruwahah yang tidak henti-hentinya mencari Allah hingga menikah dengan budak negro yang muslim.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. ~ QS 2 – Al Baqarah : 221 ~

Adalah seorang penyair ulung yang tinggal di Yatsrib (Madinah Al Munawarah) bernama Abdullah ibn Ruwahah, semasa Islam belum masuk ke Madinah dia sering merenung menatap matahari, bulan, bintang yang beredar mengikuti pergantian dan malam. ‘Siapakah yang menciptakan semua ini...? Sedangkan berhala-berhala yang penduduk Madinah sembah adalah barang mati yang tidak bisa apa-apa’.

Begitu mendengar berita dari para kafilah bahwa di Mekkah ada seorang utusan Tuhan yang menyeru manusia untuk menyembah Allah. Tuhan Yang Maha Esa, maka ia bersama teman-temannya yang meyakini utusan ini berangkat ke Mekkah untuk menemuinya. Setelah bertemu dengan Rasulullah di Mekkah, mereka di bai’at di depan Aqobah untuk masuk Islam, berjanji akan melindungi Rasulullah dan ikut menyebarkan agama Islam.

Pada saat Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, Abdullah ibn Ruwahah ikut menyambutnya, menemani Rasulullah menyelusuri jalan-jalan di Yatsrib. Dia juga ikut mendirikan masjid secara bergotong royong dan setelah selesai Bilal mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya diimami oleh Rasulullah.

Suatu hari Abdullah ibn Ruwahah datang menghadap Rasulullah menyatakan bahwa dia sangat menyesal telah memaki bahkan meludahi budak hitam wanita miliknya, karena melakukan kesalahan. Sungguh Abdullah merasa menyesal telah melakukan itu dan berharap budaknya mau memaafkannya.

Rasulullah berkata: ‘Apakah agama budakmu itu...?’
Abdullah menjawab: ‘Dia telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ia mendirikan shalat, berwudhu dengan baik dan berpuasa...’
Rasulullah ingin menegaskan bahwa dalam Islam, kedudukan seorang budak sebagai manusia sama dengan manusia yang lain: ‘Wahai Abdullah... budakmu itu seorang Mukmin...’

Allah membukakan hati Abdullah ibn Ruwahah sehingga dia menyadari bahwa sebenarnya dia mencintai, menyayangi budak negro itu yang disifati Rasulullah sebagai wanita mukmin yang harus dilindungi dan dimuliakan. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan hak sebagai Nabi, sungguh aku akan memerdekakan dan menikahinya...’. Dia lalu bergegas menemui budaknya untuk minta maaf, memerdekakannya dan menikahinya.

Kejadian ini tentu saja membuat heran dan mengejutkan para sahabatnya, bagaimana mungkin seorang pemimpin suku yang dipilih sebagai utusan pada hari Aqobah menikahi seorang budak negro... Sungguh tidak sepadan dengan kedudukannya yang mulia. Sebenarnya ia dapat saja menikahi seorang wanita mulia dari kaumnya, meskipun bukan seorang Muslimah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak mengungkapkan kebenaran, sehingga Dia menurunkan ayat Al Qur’an kepada Rasulullah sebagai berikut:

“Wa laa tankihul musyrikaati hattaayu’minn. Wala amatummu’minatun khairum mimmusyrikatiw walau a’jabatkum. Ulaaika yad’uuna ilannaar. Wallaahu yad’uu ilaljannati walmaghfirati bi idznih. Wa yubayyinu aayaatihii linnaasi la’allahum yatadzakkaruu”.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. ~ QS 2 – Al Baqarah : 221 ~

Komunitas Madinah semakin kokoh dan mulia berkat kemuliaan Islam, namun demikian gangguan dari kaum munafik dan Yahudi tetap saja terjadi. Untuk ketentraman komunitas Madinah, Rasulullah membuat perjanjian dengan kaum Yahudi untuk hidup berdampingan dengan kaum Muslim. Namun kaum Yahudi telah menghianati perjanjian ini bahkan menantang kaum Muslim. Mereka tidak suka Islam berkembang di Madinah maupun di jazirah Arab bahkan mereka bersekongkol dengan kaum Musyrikin Mekkah untuk bersama-sama menyerang kaum Muslim.

Allah SWT menyikapi sifat-sifat kaum Yahudi ini dengan turunnya ayat dalam Al Qur’an:

“Ulaaikalladziina la’anahumullaahu fa ashammahum wa a’maa abshaa rahum”

“Mereka itulah orang-orang yang dila’nati (dikutuk) Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. ~ QS 47 – Muhammad : 23 ~

Abdullah ibn Ruwahah dapat merasakan kesedihan saudara-saudaranya kaum Muhajirin yang ditindas, disiksa, dirampas hartanya oleh kaum Quraisy. Mereka berhak untuk membalasnya.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran antara 3 orang kafilah dagang Quraisy dengan kaum Muhajirin dan perkelahian inilah yang memicu terjadinya Perang Badar. Abdullah ibn Ruwahah merasa terpanggil dan berkewajiban untuk membantu membalaskan saudara-saudara kaum Muhajirin yang telah disakiti dan terusir dari Mekkah. Dengan dibantu 2 orang Anshar dia mengajak berduel ketiga kafilah Quraisy itu, namun mereka menolaknya dan hanya mau berduel dengan kaum Muhajirin.
‘Wahai Muhammad, perintahkanlah tiga orang kaum Muhajirin yang pantas menghadapi kami...!’.

Mendengar tantangan itu majulah Hamzah ibn Abdul Muthalib (paman Rasulullah), Ali ibn Abi Thalib dan Ubaidah ibn Harits. Dari duel itu ketiga kafilah mati namun Ubaidah terluka.

Merasa teman-temannya mati terbunuh dalam duel, berangkatlah pasukan kafir Quraisy, termasuk Abdurrahman putera dari Abu Bakar Ash Shiddiq untuk mengajak pasukan Muslim berperang, inilah Perang Badar terjadi dengan kemenangan di pihak kaum Muslim.

Abdullah ibn Ruwahah sangat mencintai Rasulullah, ta’at akan perintah Allah dan RasulNya serta dia adalah seorang pejuang Muslim yang berperang membela Islam dengan gagah berani. Ia benar-benar ikhlas berjihad di jalan Allah. Dia mati syahid bersama dengan Zaid ibn Haritsah dan Ja’far ibn Abi Thalib pada perang melawan tentara Romawi. Semoga Allah merahmatinya.

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Baqarah (2) - Ayat 221 - Abdullah ibn Ruwahah tidak henti-hentinya mencari Allah hingga menikah dengan budak negro yang muslim

Monday, April 6, 2015

ASBABUN NUZUL SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

TURUNNYA SURAH 33 – AL AHZAB AYAT 36, 37, 53

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Zainab yang diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Zaid ibn Haritsah adalah budak milik Siti Khadijah yang dihibahkan kepada Rasulullah dan selanjutnya diangkat anak angkat oleh Rasulullah. Ia sangat disayangi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Saat diangkat menjadi anak angkat Rasulullah, namanya diganti menjadi Zaid ibn Muhammad, namun dengan turunnya Surah Al Ahzab ayat 4, 5 dan 40, namanya dikembalikan menjadi Zaid ibn Haritsah.

Karena kecintaannya kepada Zaid, Rasulullah berniat menikahkannya dengan puteri bibi beliau yaitu Zainab bint Jahsy dengan maksud untuk menghapus sekat pembeda kasta maupun status sosial. Rasulullah ingin menegaskan bahwa didalam Islam tidak membedakan sesama muslim, kecuali tingkat ketakwaan dan amal shalehnya.

Zainab dikenal seorang puteri yang cantik, memiliki garis keturunan bangsawan, cucu Abdul Muthalib pemuka Quraisy dan saudagar, disamping itu dia sangat dermawan. Mendengar dirinya akan dinikahkan dengan Zaid yang bekas budak, Zainab sangat kaget dan memandang dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan seorang bekas budak serta akan disejajarkan dengan isteri pertama Zaid, yaitu Ummu Aiman yang sama-sama budak belian. Apa yang akan dikatakan orang...? Seorang puteri bangsawan bersanding dengan seorang bekas budak belian. Menurutnya belum pernah ada sejarah kaum ningrat menikah dengan budak atau pembantu. Pantasnya dia dinikahkan dengan laki-laki yang sederajat. Karena itu dia menolak tawaran Rasulullah.

Sebenarnya apa yang diinginkan Zainab bisa saja terjadi, tetapi kehendak Allah tidaklah sama. Allah berfirman:

“Wa maa kaana limu’minati idzaaqadallaahu wa rasuuluhuu amran ayyakuuna lahumulkhiyaratu min amrihim. wa mayya’shillaaha wa rasuulahuu faqad dhalla dhalaalammubiinaa”.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
~ QS 33 – Al Ahzab : 36 ~

Akhirnya untuk menyenangkan Rasulullah dan takut di cap durhaka, maka Zainab mau dinikahkan dengan Zaid meskipun hatinya tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan itu.

Zaid sudah berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan Zainab, tetapi hati isterinya tetap congkak dan sombong pada suaminya serta masih menganggap suaminya adalah budak. Konflik rumah tangga makin meruncing dan keutuhan rumah tangga mulai tercabik-cabik dengan sering terlontarnya kata-kata yang tidak pantas dari Zainab untuk melukai kelelakian dan menyakiti perasaan Zaid.

Rasulullah sudah berusaha keras mendamaikan mereka. Beliau minta Zaid untuk bersabar juga menasihati Zainab agar tunduk pada suami dan tidak sombong.

Jurang perselisihan antara Zaid dan Zainab semakin menganga lebar, mengeruhkan samudera hati berdua. Kepada Rasulullah Zaid mengemukakan keinginannya untuk menceraikan isterinya, tapi beliau meminta Zaid untuk bersabar mempertahankannya. Akhirnya rumah tangga mereka sulit dipertahankan dan Zaid menceraikan Zainab.

Karena merasa bertanggung jawab atas anak pamannya itu yang dulu dipaksa untuk menikah dengan Zaid, Rasulullah berfikir untuk menikahi Zainab, tapi hal ini bisa menjadi desas desus yang tidak mengenakkan. Apa kata orang jika beliau diketahui menikahi mantan isteri anak angkatnya...? Maka keinginan beliau itu disimpan dihati yang dalam, sampai Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:


“Wa idztaquulu lilladzii an’amallaahu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillaaha watukhfii fii nafsika mallaahu mubdiihi watakhsyannaasa. Wallaahu ahaqqu an takhsyaahu. Falammaa qadhaa zaidumminhaa watharaa. Zawwajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alalmu’miniina harajun fii azwaaji ad’ibaa ihim idzaa qadau minhunna watharaa. Wa kaana amrullaahi maf’uulaa”.

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 37 ~

Akhirnya Rasulullah menikahi Zainab yang dirayakan dengan menggelar pesta meriah. Pernikahan Rasulullah dengan Zainab ini bukanlah semata-mata karena dorongan biologis pada diri Rasulullah, atau hasrat merajut cinta diantara mereka. Tapi Allah Subhanahu wa ta’ala sengaja menginginkan pernikahan tersebut untuk mengajarkan sebuah Kaidah Fiqih dalam Islam, yaitu seseorang diperbolehkan menikahi mantan isteri anak angkatnya.

Kedudukan anak angkat dalam Islam tidak sama dengan anak kandung yang terkait dengan garis keturunan dan aturan waris. Anak angkat tidak lebih dari orang lain yang dipelihara, disayangi dan dipenuhi kebutuhannya seperti kepada anaknya sendiri.

Zainab hidup bersama Rasulullah, sebagaimana isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun bagi Zainab pernikahan ini merupakan kebanggaan, karena dia dinikahkan oleh ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana Rasulullah sabdakan: ‘Semoga Allah merahmati Zainab bint Jahsy. Di dunia ini telah menerima kehormatan yang tiada duanya, yaitu bahwa Allah menikahkanku dengannya’.

Ditengah kemeriahan pesta, sesuatu terjadi... Karena begitu banyak orang yang bersuka cita, otomatis mereka hilir mudik di rumah Rasulullah. Suasana seperti ini tentu saja membuat Rasulullah dan isterinya tidak nyaman dan sulit bagi Rasulullah untuk mencegahnya. Akhirnya beliau sendiri yang mengungsi.
Pada saat itu Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuutannabiyyi illaa ayyu’dzanalakum ilaa tha’aamin ghairanaadhiriina inaahu walaakin idzaadu’iitum fadkhuluu faidzaa tha’imtum fantasyiruu wa laa musta’nisiina lihidiits. Innadzaalikum kaanayu’dzinnabiyya fayastahyii minkum. Wallaahu laa yastahyii minalhaq. Waidzaasa altumuu hunna mataa’an fas aluuhunna miwwaraa i hijaab. Dzaalikum athharu liquluubikum wa quluu bihinn. Wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaahi wa laa an tankihuu azwaajahuu mim ba’dihii abadaa. Inna dzaalikum kaana ‘indallaahi ‘adhiimaa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik  memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan  mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) disisi Allah”. ~ QS 33 – Al Ahzab : 53 ~

Ayat ini pula mengharuskan isteri-isteri Rasulullah untuk mengenakan hijab dan melarang menikahi mantan isteri Rasulullah kelak setelah beliau wafat.

Zainab mendampingi Rasulullah dan para isteri lainnya juga ikut perang Khandaq dan Haji Wada. Zainab-lah isteri yang pertama menyusul Rasulullah .....

Bekasi, 22 Jumadil Awal 1436 Hijriyah atau 13 Maret 2015.
Edited and posted by: Rika Rakasih
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul
Penulis : Fathi Fauzi Abd Al Mu’thi
Disarikan oleh : Idih Ruskanda
Thema : Al Ahzab (33) - Ayat 36, 37 dan 53 - Pernikahan Rasulullah dengan Zainab diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala