Wednesday, April 15, 2015

AHAD! AHAD! AHAD!

AHAD! AHAD! AHAD!
Antara Aa Gym dan Sa’iid Bin Al-Musayyib
Dari sekian banyak kejadian yang terjadi seminggu ini, ada satu yang patut kita ambil ‘ibroh-nya (pelajaran) dan qudwah-nya (contoh), yaitu pernikahan penuh berkah – in syaa_allah – antara Ghaitsa Zahira Shofa dan Ust Maulana Yusuf. Pernikahan ini menjadi heboh karena beberapa hal:
Pertama, karena mempelai wanita adalah putri Kyai terkenal di Bandung, mempelai wanita adalah putri dari KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dan bukan orang Bandung kalau tidak kenal Aa Gym dan Bapak Ridwan Kamil (emang apa hubungannya? hubungannya adalah bahwa Bapak Ridwan Kamil menjadi saksi mempelai pria pada pernikahan ini)
Kedua, karena Ust Maulana Yusuf adalah Sarjana Matematika UPI BANDUNG YANG HAFAL AL-QUR’AN 30 JUZ (saya caps lock biar kita semua tersindir – termasuk saya juga tentunya). Sarjana Matematika berserakan, tapi yang hafal Al-Qur’an 30 Juz bisa dihitung jari tangan.
Ketiga, karena mempelai wanitanya pun HAFAL AL-QUR’AN 30 JUZ juga dan bahkan jago Taekwondo. Akhwat hafal Al-Qur’an 30 Juz banyak, tapi sekaligus jago Taekwondo? Mungkin ini satu-satunya. Dan ini adalah kombinasi asyik dari dua penghafal Al-Qur’an.
Keempat, karena ternyata pernikahan ini hasil “tembak” langsung Aa Gym ke calon mempelai laki-lakinya, biasanya kan ortu laki-laki yang nembak calon mempelai wanita, nah ini mah di balik.
Kurang lebih empat hal ini lah yang menjadi sorotan kenapa pernikahan ini begitu banyak menuai decak kagum para netizen dumay dan masyarakat dunia (jangan harap berita pernikahan mulia ini muncul di Metro TV). Adapun konsumsi gratis yang disiapkan panitia untuk 3000 orang undangan, ini hanya berita super heboh yang beredar dan paling diperhatikan oleh kalangan anak kost aja.
Ketika pertama kali saya mendengar kabar ini, terutama point bahwa ternyata Aa Gym-lah yang menyodorkan anak gadisnya kepada calon pengantin laki-laki, maka saya teringat kisah pernikahan anak gadisnya seorang Tabi’in mulia Sa’iid Bin Al-Musayyib (pencinta hadits nggak kenal nama Tabi’in ini sama kayak pencinta fiqh nggak kenal sama Imam Abu Hanifah).
FYI, Sa’iid Bin Al-Musayyib adalah menantunya Abu Huroiroh RA, sebagaimana kita tahu bahwa Abu Huroiroh RA adalah Sahabat Nabi SAW yang paling banyak meriwayatkan hadits, maka bisa ditebak seperti apa keilmuan Sa’iid Bin Al-Musayyib ini. Makanya Ulama berbeda pendapat mengenai siapakah Tabi’in yang paling mulia? Apakah Sa’iid Bin Al-Musayyib yang merupakan murid dan menantunya Abu Huroiroh RA ataukah Uwais Al-Qorniy yang disabdakan langsung oleh Rasulullah SAW kepada Umar bin Al-Khoththob untuk dimintai do’anya.
Apa kemiripin kisah antara Aa Gym dan Sa’iid Bin Al-Musayyib ini? Saya tidak sedang menyamakan kedudukan antara seorang “KH” dan seorang “Tabi’in”, karena memang tidak akan pernah sama, tapi dalam hal menikahkan putri gadisnya kepada seorang laki-laki yang sholeh, maka Aa Gym dan Sa’iid Bin Al-Musayyib dalam hal ini sama, sama-sama sebagai seorang ayah yang yakin bahwa hanya laki-laki sholehlah yang bisa mereka percaya untuk menjaga anak gadisnya.
Disebutkan di dalam kitab Siyar A’lamin Nubalaa Karangan Imam Adz-Dzahabi Jilid 4, di bagian Biografi Sa’iid Bin Al-Musayyib sebuah kisah yang ringkasnya kurang lebih begini:
Adalah Abdul Malik bin Marwan, Khalifah ketika itu, dia terus-menerus melamar anak gadisnya Sa’iid Bin Al-Musayyib untuk dinikahkan dengan anak laki-lakinya, Al-Walid, akan tetapi Sa’iid Bin Al-Musayyib tetap saja menolak untuk menikahkan anak gadisnya dengan Al-Waliid, bahkan beliau sampai dicambuk seratus kali gara-gara masalah ini, tapi beliau keukeuh nggak mau menikahkan anak gadisnya dengan anak Khalifah (bukan level anak presiden lagi…tapi udah level anak Sekjen PBB), para bujangers waktu jadi harap-harap-cemas, kepada siapakah anak gadis Sa’iid Bin Al-Musayyib ini akan dinikahkan kalau ke anak Khalifah saja tidak mau.
Sampai suatu hari, Sa’iid Bin Al-Musayyib merasa salah seorang muridnya yang bernama Katsiir (ada juga yang bilang Kutsayyir) bin Al-Muththolib bin Abi Wada’ah hilang selama beberapa hari dari halaqohnya, tatkala Akh Katsiir ini datang lagi ke halaqoh, ditanyalah oleh gurunya (mungkin Akh Katsiir ini peserta halaqoh yang rajin datang, nggak pernah telat, pintar dengan materi yang diajarkan, tidak suka ngantuk pas belajar dan hormat sama gurunya – yang merasa tersindir, baguslah hehehe) :
“Dari mana saja ente?”
“Keluargaku ada yang meninggal jadi aku sedikit sibuk guru,” (riwayat yang kuat mengatakan bahwa yang meninggal adalah istrinya)
“Kenapa ente tidak ngasih kabar kita sehingga kita bisa menyaksikan prosesi pemakamannya? Terus sekarang…ente sudah punya istri baru belum?”
“Semoga Allah merahmatimu wahai guru, siapa pula yang mau menikahkan anaknya dengan saya yang hanya punya dua atau tiga dirham ini?”
“Saya…”
“Sungguhkah guru..?”
“Ya…”
Kemudian Sa’iid Bin Al-Musayyib menikahkan anak gadisnya dengan Akh Katsiir dengan mahar dua atau tiga dirham. Akh Kastiir pulang dengan penuh kebingungan saking bahagianya, buka shoum pun semakn tidak berasa karena memang cuma ada roti dan minyak, sampai pintu rumahnya diketuk.
“Siapakah itu?”
“Ini Sa’iid”
Dia memikirkan semua kemungkinan kenalan yang namanya “Sa’iid” yang mungkin ada di depan pintu rumahnya, tidak terbersit sedikit pun nama Sa’iid Bin Al-Musayyib, gurunya, karena dia tahu, gurunya selama 40 tahun ini hanya pergi ke rumah dan masjid saja jam-jam segini. Begitu dia buka pintu, dia kaget karena yang datang “Sa’iid” gurunya.
“Wahai guru, kenapa tidak engkau utus orang saja untuk mendatangi saya?”
“Tidak…engkau lebih berhak untuk didatangi. Dulu engkau bujangan, terus engkau menikah, terus sekarang engkau ngebujang lagi, maka saya tidak suka kalau engkau malam ini tidur sendirian. Nih…istri kamu”
Begitu ditengok, ternyata ada akhwat super cantik di belakang gurunya ini, kemudian bapaknya memegang tangan anak perempuannya terus didorong ke balik pintu terus pintunya ditutup sama bapaknya terus bapaknya pergi.
Akh Katsiir jadi salting, dia sembunyikan dulu makanan berbuka yang murah tadi, takut dilihat ama istrinya saking miskinnya, terus dia dia naik ke atap rumahnya dan memanggilnya tetangganya dan menceritakan kepada mereka kalau dia sudah menikah, biar tidak terjadi fitnah.
Di sebagian kitab lain disebutkan, seminggu setelah mereka berdua menikah (karena memang kalau asalnya gadis bulan madunya setidaknya seminggu, kalau asalnya janda bulan madunya setidaknya 3 hari), Akh Katsiir berniat untuk balik lagi ke halaqohnya dan mulai belajar lagi dengan gurunya, tapi kemudian tangannya dipegang oleh istrinya
“Mau ke mana, Kanda?”
“Kanda mau berguru lagi dengan bapakmu”
“Jangan, Kanda….Kanda tidak usah pergi, karena apa yang diketahui oleh bapakku, aku juga mengetahuinya”
Artinya, wanita ini ilmunya kayak bapaknya, maka jadi sebulanlah Akh Katsiir ini menghilang dari halaqoh.
Maaf kalau kisahnya tidak seringkas yang saya janjikan hehehe…Nah, kembali ke Aa Gym, beliau pun langsung mengumumkan di majelisnya bahwa anak gadisnya yang keempat akan dinikahkan dengan Ust Maulana Yusuf yang merupakan imam masjid di sana juga, Ust Maulana Yusuf tidak tahu hal ini sebelumnya, ini murni keputusan dan pertimbangan Aa Gym karena melihat kesholehan Ust Maulana Yusuf.
Walaupun Ust Maulana Yusuf menyetorkan seluruh hafalan Al-Qur’an 30 Juznya selama seharian sebelumnya, tapi beliau tetap memberikan mahar berupa 10 gram emas dan uang senilai 1 dinar, lebih banyak dari maharnya Akh Katsiir tadi.
Pernikahan ini adalah tren baik yang harus terus-menerus diungkit-ungkit dan disebut-sebut, karena tidak ada di dalamnya adat Sunda yang merepotkan, tidak ada ikhtilath (campur baur) undangan laki-laki dan perempuan, bahwa tolok ukur pernikahan adalah kesholehan, beda dengan pernikahan putra-putri figure publik, baik itu artis atau pejabat, yang lebih banyak infotainment-nya dan lebih banyak mubadzirnya daripada ‘ibroh dan qudwahnya. (pm)
Ditulis oleh: Muhammad Al-Ghozali (Pengajar LTQ Al-Hikmah, Jakarta Selatan)

No comments:

Post a Comment