Showing posts with label as sunnah. Show all posts
Showing posts with label as sunnah. Show all posts

Thursday, August 19, 2021

MEMAHAMI AS-SUNNAH (4)

 MEMAHAMI AS SUNNAH SESUAI PETUNJUK AL QUR'AN  (4)

Bagaimana Memahami Sebuah Hadits Shahih,

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

‘’Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’’   

Syaikh Dr Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya, "Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw (judul asli 'Kayfa Nata'amalu Ma'a As-Sunnah An Nabawiyyah')" mencoba menggali lebih dalam tentang hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi tersebut diatas.

Beliau menemukan ulama lainnya yang juga mensyarah kitab Shahih Muslim, dan menukil pendapat salah satu diantaranya yaitu Al 'Alaamah Al Ibbiy yang mengomentari pendapat Imam Nawawi terhadap masa fatrah

Berkata Al-Ibbiy : "Perhatikan kontradiksi yang ada dalam ucapan Imam Nawawi tersebut. Sebab orang yang telah sampai kepadanya dakwah para Rasul , tidak disebut sebagai 'Ahl al Fatrah'. Adapun yang dimaksud dengan 'Ahl al Fatrah' adalah bangsa2 yang hidup diantara masa 2 orang Rasul.                                                                                              

Yang pertama, tidak diutus kepada mereka atau sebelum masa hidup mereka. Sedangkan Yang kedua, diutus setelah mereka meninggal dunia. 

Sebagai contoh, orang-orang badui (Arab) yang Nabi Isa as tidak diutus kepada mereka, sementara mereka tidak menjumpai masa kerasulan Nabi Muhammad Saw. Jadi masa fatrah adalah masa antara dua orang Rasul."

Untuk memperjelas komentar Al Alaamah al Ibbiy, Syaikh Dr Yusuf al Qardhawi merujuk beberapa firman Allah Swt yang menjelaskan hal (masa fatrah) ini antara lain :

Dalil kesatu.

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَٰفِلُونَ 

"Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, dan karena itu mereka lalai." ~QS-36 Ya-Sin : 6~

Dalil kedua. 

 لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ  

"Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum kamu; semoga mereka menjadi orang-orang yang mendapat hidayah." ~QS-32 As-Sajdah : 3~

Dalil ketiga

وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

“Dan Kami tidak pernah mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan."~QS Saba : 44~

Syaikh Dr Yusuf al Qardhawi lebih lanjut menjelaskan bahwa para fuqaha' (ahli fiqh) memaknai masa fatrah sebagai khusus masa antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw berdasarkan riwayat Imam Bukhari dari sahabat Salman, yang lamanya  600 tahun

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُدْرِكٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ فَتْرَةٌ بَيْنَ عِيسَى وَمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمَا وَسَلَّمَ سِتُّ مِائَةِ سَنَةٍ

"Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Mudrik telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah dari 'Ashim Al Ahwal dari 'Utsman dari Salman berkata; "Masa fatrah (tidak ada risalah/wahyu dari Allah) antara Nabi 'Isa 'alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah enam ratus tahun".

[Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3654 - Kitab Perilaku, budi pekerti yang terpuji. Islamnya Saman al Farisi]

Link ke Bagian Artikel selengkapnya:

MEMAHAMI AS-SUNNAH (1)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (2)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (3)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (4)

Wednesday, August 18, 2021

MEMAHAMI AS-SUNNAH (3)

MEMAHAMI AS SUNNAH SESUAI PETUNJUK AL QUR'AN (3)

Bagaimana Memahami Sebuah Hadits Shahih,

 نَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Terjemahannya: ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,” ~HR Muslim~

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan hadits di atas menunjukkan bahwa orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. 

Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. 

Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.”  [Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H].

Sebaliknya, Syaikh Muhammad al Ghazali terang terangan menolak hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi tsb, karena bertentangan dengan firman Allah Swt seperti,

1).  

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami (Allah) mengutus seorang rasul." ~QS-17 Al Isra’ : 15~

2)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَىٰ

"Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?" ~QS-20 Thaahaa : 134~

3)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ~QS-5 Al Ma'idah : 19~

Bersambung.....

Link ke Bagian Artikel selengkapnya:

MEMAHAMI AS-SUNNAH (1)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (2)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (3)

MEMAHAMI AS-SUNNAH (4)


Tuesday, August 17, 2021

MEMAHAMI AS-SUNNAH (2)

MEMAHAMI AS SUNNAH SESUAI PETUNJUK AL QUR'AN ! (2)

Terjemahannya: ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” (HR Muslim).

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan hadits di atas menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. 

Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. 

Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.”  [Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H].

Sebaliknya, Syaikh Muhammad al Ghazali terang terangan menolak hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi tsb, karena bertentangan dengan firman Allah Swt seperti,

1).  

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami (Allah) mengutus seorang rasul." ~QS-17 Al Isra’ :15~

2)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَىٰ

"Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?" ~QS-20 Thaahaa : 134~

3)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ~QS-5 Al Ma'idah : 19~

Syaikh Yusuf Qardhawi dalam kitabnya, "Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw (judul asli 'Kayfa Nata'amalu Ma'a As-Sunnah An Nabawiyyah'" mencoba menggali lebih dalam tentang hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi tsb. Beliau menemukan ulama lainnya yang juga mensyarah kitab Shahih Muslim dan menukil pendapat Al 'Alaamah Al Ibbiy (pensyarah Shahih Muslim) atas pendapat Imam Nawawi terhadap masa fatrah. 

Berkata Al-Ibbiy: "Perhatikan kontradiksi yang ada dalam ucapan Imam Nawawi tersebut. Sebab orang yang telah sampai kepadanya dakwah para Rasul , tidak disebut sebagai 'Ahl al Fatrah'. Adapun yang dimaksud dengan 'Ahl al Fatrah' adalah bangsa2 yang hidup diantara masa 2 orang Rasul. 

Yang pertama, tidak diutus kepada mereka (atau sebelum masa hidup mereka). Sedangkan Yang kedua, diutus setelah mereka meninggal dunia. 

Sebagai contoh, orang-orang badui (Arab) yang Nabi Isa as tidak diutus kepada mereka, sementara mereka tidak menjumpai masa kerasulan Nabi Muhammad Saw. Jadi masa fatrah adalah masa antara dua orang Rasul."

Untuk memperjelas komentar Al Alaamah al Ibbiy, Syaikh Yusuf Qardhawi merujuk beberapa firman Allah Swt yang menjelaskan hal (masa fatrah) ini antara lain :

i.)

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَٰفِلُونَ 

"Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, dan karena itu mereka lalai." ~QS-36 Ya-Sin : 6~

ii). 

 لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ  

"Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum kamu; semoga mereka menjadi orang-orang yang mendapat hidayah." ~QS-32 As-Sajdah : 3~

iii.)

وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

Dan Kami tidak pernah mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan." ~QS-34 Saba – 44~

Syaikh Yusuf Qardhawi lebih lanjut menjelaskan bahwa para fuqaha' (ahli fiqh) memaknai masa fatrah sebagai khusus masa antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw (berdasarkan riwayat Imam Bukhari dari sahabat Salman) yang lamanya 600 tahun. 

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُدْرِكٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ فَتْرَةٌ بَيْنَ عِيسَى وَمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمَا وَسَلَّمَ سِتُّ مِائَةِ سَنَةٍ

"Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Mudrik telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah dari 'Ashim Al Ahwal dari 'Utsman dari Salman berkata; "Masa fatrah (tidak ada risalah/wahyu dari Allah) antara Nabi 'Isa 'alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah enam ratus tahun". [Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3654 - Kitab Perilaku, budi pekerti yang terpuji.Islamnya Salman al Farisi]

Syaikh Dr Yusuf Qardhawi akhirnya menjelaskan bahwa, untuk dapat memahami As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, jauh dari penyimpangan, pemalsuan, dan penafsiran yang buruk maka haruslah dipahami sesuai dengan petunjuk Al Qur'an. 

Yaitu dalam kerangka bimbingan Ilahi yang pasti benarnya dan tak diragukan keadilannya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt,

 وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ 

"Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. ~QS-6. Al-An’am : 115~

Menurut syaikh Yusuf al Qardhawi, "Al-Qur'an adalah 'ruh' dari eksistensi Islam, dan merupakan azas bangunannya. Ia merupakan konstitusi dasar yang paling pertama dan utama, yang kepadanya bermuara semua perundang undangan Islam.

Sedangkan As-Sunnah adalah penjelasan terinci tentang isi konstitusi tsb, baik dalam hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapan secara praktis. Itulah tugas Rasulullah Saw., "menjelaskan bagi manusia apa yang diturunkan kepada mereka."

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin sesuatu yang merupakan "pemberi penjelasan" bertentangan dengan "apa yang hendak dijelaskan" itu sendiri. Atau, "cabang" berlawanan dengan "pokok". 

Maka, penjelasan yang bersumber dari Nabi Saw. selalu dan dan senantiasa berkisar disekitar Al-Qur'an, dan tidak mungkin akan melanggarnya.

Karena itu, tidak mungkin ada suatu hadits (sunnah) shahih yang kandungannya berberlawanan dengan ayat2 Al Qur'an yang muhkamat, yang berisi keterangan2 yang jelas dan pasti.

Dan kalaupun ada sebagian dari kita memperkirakan adanya pertentangan seperti itu, maka hal itu pasti disebabkan tidak shahihnya hadits yang bersangkutan, atau pemahaman kita yang tidak tepat, ataupun apa yang diperkirakan sebagai "pertentangan" itu hanyalah bersifat semu, bukanlah pertentangan yang hakiki.'"

Itulah pendapat yang disampaikan syaikh Yusuf al Qardhawi dalam kitabnya, "Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw."

Karena itu tidak sepantasnya seorang muslim menyebut orangtua Rasullullah adalah orang2 musyrik dan tempatnya di neraka. Sebab hal itu memperlihatkan kurangnya adab, ceroboh dalam dalam berfatwa, dan rendahnya rasa kecintaan kepada Rasulullah ! 

Allah Swt berfirman” 

 إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا  

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan."

Dan Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadits bahwa, 

وَرَوَي البيهاقي, وَابْن عَسَاكِرِ عَن اَنَسٍ رضي الله عنه قال:خَطَبَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم فقال اَنَا محمد بْنِ عبد الله بْنِ المطلب بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عبد مَنَافٍ بْنِ قُصَي بْنِ كِلَابِ بْنِ مرة بْنِ كَعَبِ بْنِ لُؤَي بْنِ غَالِبِ بْنِ فَهَرِ بْنِ ماَلِكِ بْنِ النِضَر بْنِ كِنَانَةِ بْنِ خريمة بْنِ مدركة بْنِ اِليَاسٍ بْنِ مُضَر بْنِ نِزَارٍ , وَمَا اِفْتَرَقَ النَّاسُ فِرْقَيْنِ اِلاَّ جَعَلَنِي الله فِي خَيْرِهِمَا فَأَخْرَجْتُ مِنْ أَبوي, فَلَم يَصِبنِي شَيٌء مِن عَهْرِ الْجَاهِلِيَّةِ , وخَرَجتُ مِن نِكَاحٍ, وَلَم أَخرُج مِن سِفَاحٍ مِن لَدُنِ اَدَمَ حَتى اِنُتَهَيُت اِلَي أَبِي وأُمِّي فَأَناَ خيرُكُم نفسا و خَيْرُكمْ اَباً

Beliau bersabda : “Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusai bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fahar bin Malik bin Nazar bin Kinanah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar. Tidaklah terbagi dua kelompok kecuali aku adalah yang terbaik diantaranya maka aku dilahirkan dari orang tuaku dan aku tidak pernah terkena dengan kotoran jahiliyah. Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah , dan aku tidak dilahirkan dari Adam hingga sampai kepada Ayahku dan ibuku. Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai ayah yang terbaik." [Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu A’sakir dari Anas ra]

Semoga kita selalu dalam bimbingan dan petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya. 

Aamiin ya rabbalalamin.

Link ke Bagian Artikel selengkapnya:

MEMAHAMIAS-SUNNAH (1)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (2)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (3)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (4)

Monday, August 16, 2021

MEMAHAMI AS-SUNNAH (1)

MEMAHAMI AS SUNNAH SESUAI PETUNJUK AL QUR'AN ! (1)

Syaikh Dr Yusuf Qardhawi dalam kitab "Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw (judul asli 'Kayfa Nata'amalu Ma'a As-Sunnah An Nabawiyyah')" menjelaskan bahwa, untuk dapat memahami As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, jauh dari penyimpangan, pemalsuan, dan penafsiran yang buruk maka haruslah dipahami sesuai dengan petunjuk Al Qur'an. Yaitu dalam kerangka bimbingan Ilahi yang pasti benarnya dan tak diragukan keadilannya.

 وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ 

"Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui”

~ QS. Al-An’am Ayat 115 ~

Jelaslah bahwa Al-Qur'an adalah "ruh" dari eksistensi Islam, dan merupakan azas bangunannya. Ia merupakan konstitusi dasar yang paling pertama dan utama, yang kepadanya bermuara semua perundang undangan Islam.Sedangkan As-Sunnah adalah penjelasan terinci tentang isi konstitusi tsb, baik dalam hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapan secara praktis. Itulah tugas Rasulullah Saw, "menjelaskan bagi manusia apa yang diturunkan kepada mereka."Oleh sebab itu, tidaklah mungkin sesuatu yang merupakan "pemberi penjelasan" bertentangan dengan "apa yang hendak dijelaskan" itu sendiri. Atau, "cabang" berlawanan dengan "pokok". Maka, penjelasan yang bersumber dari Nabi Saw. selalu dan dan senantiasa berkisar disekitar Al-Qur'an, dan tidak mungkin akan melanggarnya.

Karena itu, tidak mungkin ada suatu hadits (sunnah) shahih yang kandungannya berberlawanan dengan ayat2 Al Qur'an yang muhkamat, yang berisi keterangan2 yang jelas dan pasti.

Dan kalaupun ada sebagian dari kita memperkirakan adanya pertentangan seperti itu, maka hal itu pasti disebabkan tidak shahihnya hadits yang bersangkutan, atau pemahaman kita yang tidak tepat, ataupun apa yang diperkirakan sebagai "pertentangan" itu hanyalah bersifat semu, bukanlah pertentangan yang hakiki.

Ini berarti bahwa As-Sunnah harus dipahami dalam kerangka petunjuk al-Qur'an.    

Dimasa lalu, setelah wafatnya para Sahabat muncullah kaum Mu'tazilah yang telah amat jauh menyimpang dari kebenaran, ketika mereka berani menolak hadits-hadits yang shahih dan dikenal secara luas mengenai diberikannya syafaat di akhirat, kepada Rasulullah Saw dan saudara2 beliau para Nabi serta para malaikat, dan kaum mukminin yang saleh. 

Yakni syafaat yang ditujukan untuk orang2 yang berdosa dari kalangan ahli Tauhid. 

Dan Allah Swt akan memuliakan mereka dengan karunia dan rahmat-Nya, serta syafaat dari para ahli syafaat tersebut, sehingga mereka tidak akan masuk neraka sama sekali, atau memasukinya untuk sementara, sampai keluar lagi setelah suatu masa tertentu; dan pada akhirnya masuk surga untuk selama lamanya.

Hal ini adalah diantara kemurahan Allah Swt atas hamba2-Nya, dengan mendahulukan sifat rahmahNya atas sifat keadilan-Nya. Yaitu dengan menjadikan ganjaran atas suatu perbuatan baik, sebanyak sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu.

Dan menjadikan hukuman atas suatu perbuatan buruk , hanya sebanding dengannya saja, atau bahkan mengampuninya sama sekali.  

Dan dijadikan-Nya pula pelbagai penghapus dosa-dosa, berupa shalat lima waktu, shalat Jum'at, puasa ramadhan, dan shalat2 sunnah pada malam harinya, sedekah-sedekah, haji dan umroh, tasbih, tahlil, takbir, tahmid serta berbagai zikir dan do'a lainnya.

Bahkan kesusahan apa saja yang menimpa diri seorang Muslim, baik yang berupa kelelahan, penyakit menahun, kerisauan hati, kesedihan ataupun gangguan yang sekecil-kecilnya, tertusuk duri dan lain2nya.... Semua itu merupakan peluang bagi diperolehnya pengampunan Allah Swt atas kesalahan-kekeliruan (dosa-dosa) yang dilakukan olehnya.

Disamping itu pula, Allah Swt menjadikan doa orang2 mukmin baginya setelah ia wafat, baik yang berasal dari keluarga ataupun selain mereka, semuanya bermanfaat baginya dalam kuburnya.

Maka berdasarkan itu semua, tidaklah mengherankan apabila Allah Swt memuliakan hamba-hamba-Nya yang terpilih dan yang baik-baik, dengan mengizinkan mereka bersyafaat bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, yang meninggal dunia dengan menyandang kalimat Tauhid.           

Bersambung.........

Link ke Bagian Artikel selengkapnya:

MEMAHAMIAS-SUNNAH (1)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (2)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (3)

MEMAHAMIAS-SUNNAH (4)

Saturday, February 3, 2018

H I K M A H

KAJIAN AL QUR’AN
H I K M A H
Pengajian Subuh Masjid At Taubah – Ustadz Abdullah Amin – Bekasi, Jum’at, 2 Februari 2018
Topik kajian membahas tentang ‘Hikmah’ dalam surat Al Baqarah : 269 serta surat-surat/ayat-ayat lainnya yang berkenaan dengan pengertian hikmah.
QS 2 : 269; Allah memberikan ‘hikmah’ kepada siapa yang dikehendaki. ‘Hikmah’ ialah kemampuan untuk memahami Al Qur’an dan As-Sunnah serta rahasia syariat agama. Siapapun yang diberikan hikmah ini berarti telah diberi karunia yang banyak, yang harus disyukuri. Dan hanya orang-orang yang berakal dan menggunakan akal pikirannya yang dapat mengambil pelajaran dari firman-firman Allah.
QS 16 : 125: Berdakwah adalah menyeru manusia ke jalan Tuhan (Allah) dengan ‘hikmah’. Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil. Hikmah di sini adalah Al Qur’an yang memberikan petunjuk tentang mana yang hak dan mana yang bathil. Oleh karenanya Al Qur’an juga dinamai Al Furqan (Pembeda)
QS 2 : 251; Ini kisah perang antara tentara Thalut yang dipimpin Daud dengan tentara pimpinan Jalut (= Goliath). Daud berhasil membunuh Jalut. Allah kemudian memberikan pemerintahan dan ‘hikmah’ kepada Daud. Hikmah di  sini maksudnya adalah ‘kenabian dan kitab Zabur’ (catatan kaki 157)
QS 38 : 17-20; Masih tentang hikmah yang diberikan kepada Nabi Daud yang cukup banyak berupa kenabian, kesempurnaan ilmu dan ketelitian dalam amal perbuatan (catatan kaki 1302)  
QS 3 : 48; Kisah tentang Nabi Isa Al Masih yang diberikan ‘Al Kitab’, ‘hikmah’, Taurat dan Injil. Al Kitab di sini ada yang menafsirkan sebagai pelajaran menulis dan ada pula yang menafsirkannya dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya selain Taurat dan Injil (catatan kaki 196).
QS 5 : 110; Hikmah yang diberikan kepada Nabi Isa tidak diterjemahkan atau dijelaskan. Tapi dalam pengertian ‘hikmah’ adsalah Al Qur’an dan As- Sunnah
QS 33 : 34;  Hikmah adalah As-Sunnah
QS 62 : 2; Rasulullah membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dena mengajarkan kepada mereka semua yang berkaitan dengan Kitab dan Hikmah (As Sunnah).
QS 3 : 164; Allah mengutus Rasul yang mengajarkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (As-Sunnah)
QS 3 : 79; Peringatan Allah bahwa banyak orang yang mengaku menulis kitab dan mengatakan “ini dari Allah”, padahal bukan dan mereka hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri dari perilaku ini. Mereka adalah orang-orang yang celaka. Oleh karenanya Al-Qur’an harus dipelajari, dipahami dan dilaksanakan sesuai tuntunan As-Sunnah, agar tidak tertipu dan terjerumus dalam kekafiran. 
--------------------------------------------------------------------------------------------
Disarikan oleh H.R.Mimuk Bambang Irawan - Jakasampurna, Bekasi, Jum’at, 2 Februari 2018

Friday, February 7, 2014

ARTIKEL-ARTIKEL AS-SUNNAH

ARTIKEL-ARTIKEL AS-SUNNAH

2012 - 2013
Shalawat Nabi
Dalil Tentang Imsak
Adab Berpindah Tempat Antara Shalat
Pesan Menyesatkan Tentang Bulan Sya'ban
Tata Cara Shalat Orang Sakit
7 Rahasia Istighfar
5 Kiat Agar Mengetahui dan Mengikuti Kebenaran
7 Bacaan Pembuka Pintu Rizki
Nama-Nama Bulan Ramadhan
7 Manfaat Dzikir
Keutamaan Shalat Subuh

2014